Tarutung I galasibot.co.id – Lembah Silindung di Tarutung, Tapanuli Utara, kembali memancarkan resonansi sejarahnya. Di gedung Sopo Partungkoan—wilayah yang secara historis menjadi jejak awal penyebaran agama dan pendidikan di tanah Batak—ratusan pemangku kepentingan pendidikan berkumpul pada Kamis (15/10/2026). Mereka hadir untuk mengikuti Rapat Kerja Nasional (Rakernas) V Majelis Pendidikan Kristen (MPK) di Indonesia.
Melanjutkan tradisi konsolidasi nasional yang sebelumnya digelar di Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Bali, pilihan menyelenggarakan Rakernas V di Bona Pasogit membawa pesan simbolis sekaligus pragmatis. Pertemuan yang mengusung tema “Fructus in Altum: Berdampak, Berbuah dari Kedalaman Iman” ini dibuka dengan ibadah penuh khidmat yang dipimpin oleh Ephorus HKBP Pdt. Dr. Viktor Tinambunan dan liturgis Pdt. Donal Sianturi.
Namun, di balik suasana spiritualitas tersebut, forum yang berlangsung hingga 18 Oktober 2026 ini memikul agenda kritis: merumuskan arah baru pendidikan Kristen di tengah gempuran era digitalisasi dan ancaman kesenjangan mutu yang nyata.
Tantangan Mutu dan Potret Kesenjangan Sekolah Kristen
Pendidikan Kristen di Indonesia berdiri di atas sejarah panjang keterlibatan sosial. Kendati demikian, realitas di lapangan menunjukkan potret kekhawatiran yang tidak bisa diabaikan. Ketua MPK Wilayah Sumatera Utara-Aceh, Dr. RE. Nainggolan, secara terbuka menyoroti kesenjangan mutu dan tata kelola yang masih membayangi sebagian sekolah Kristen di berbagai daerah.
Menurut RE. Nainggolan, ketertinggalan dalam hal sarana, kapasitas manajemen, hingga kualitas hasil belajar siswa menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan lembaga pendidikan swasta berbasis keagamaan. Keterbatasan sumber daya kerap membuat sekolah-sekolah ini gagap merespons perubahan zaman yang begitu cepat.
Oleh karena itu, transformasi bukan lagi sekadar pilihan atau jargon tahunan, melainkan sebuah kebutuhan mendesak. Lembaga sekolah Kristen dituntut untuk membangun kompetensi kelembagaan, menumbuhkan semangat belajar yang berkelanjutan, serta membenahi tata kelola agar mampu berdaya saing secara rasional dan objektif.
Formula 7 Komponen: Sinergi Gereja hingga Pemerintah
Untuk menjawab ketertinggalan tersebut, MPK menawarkan formula konkrit melalui penguatan tujuh komponen utama. Ketujuh elemen tersebut meliputi gereja, yayasan, kepala sekolah, guru, Majelis Pendidikan Kristen, dosen/akademisi, dan pemerintah. Pendekatan ini menegaskan bahwa beban pembenahan sekolah tidak bisa ditaruh hanya di pundak pengelola kelas.
Gagasan sinergi ini mendapat sambutan hangat dari Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) RI, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed. Bertindak sebagai Keynote Speaker, Abdul Mu’ti mengapresiasi dedikasi MPK yang konsisten memberikan bantuan pendidikan tanpa membedakan latar belakang suku maupun agama. Langkah inklusif ini dinilai membantu pemerintah memperluas akses layanan belajar bagi masyarakat luas.
Menteri menekankan pentingnya kolaborasi antara MPK dan Kemen Dikdasmen untuk menjalankan amanah Presiden RI. Pendidikan berkualitas, tegasnya, harus melahirkan manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kerendahan hati, empati, dan kepedulian sosial. Peningkatan kualitas sumber daya manusia ini selaras dengan pandangan Wakil Gubernur Sumatera Utara H. Surya dan Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) RI Luhut Binsar Pandjaitan yang turut memberikan paparan secara daring mengenai pentingnya efektivitas pembangunan karakter berbangsa.
Menjawab Era AI dan Digitalisasi Tanpa Kehilangan Identitas
Persoalan pendidikan modern kini kian kompleks dengan hadirnya kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan penetrasi teknologi digital. Wakil Bupati Tapanuli Utara sekaligus Ketua Pelaksana Rakernas V MPK, Dr. Deni Parlindungan Lumbantoruan, menegaskan bahwa perubahan karakter peserta didik di era digital membutuhkan respons strategis dari para pendidik.
Deni mengingatkan bahwa sekolah Kristen harus mampu beradaptasi dengan perkembangan AI dan teknologi canggih tanpa mengikis identitas dasarnya. Penguasaan teknologi perlu diselaraskan dengan penanaman nilai-nilai Kristiani dan panggilan pelayanan. Loncatan teknologi hendaknya diposisikan sebagai alat bantu, bukan pengganti peran moral lembaga pendidikan.
Pandangan senada disampaikan Bupati Tapanuli Utara, Dr. Jonius Taripar Parsaoran Hutabarat. Ia menggarisbawahi pentingnya penguatan kompetensi guru, efisiensi manajemen sekolah, serta pemanfaatan teknologi secara bijaksana. Keberhasilan pendidikan abad ke-21 tidak hanya diukur dari angka-angka akademik, tetapi juga dari integritas dan ketahanan moral generasi muda di tengah arus informasi gencar.
Jejak Historis Tarutung dan Resonansi dari Bona Pasogit
Kehadiran para tokoh lintas lembaga—mulai dari pimpinan gereja seperti PGIW, GMI, GPP, PGLII, Bala Keselamatan, GTDI, perwakilan perguruan tinggi Universitas HKBP Nommensen, hingga sektor perbankan—menegaskan pentingnya acara ini. Pemilihan Tarutung sebagai pusat Rakernas V membawa dimensi historis-sosiologis tersendiri.
Sebagai salah satu pusat awal perkembangan pendidikan dan peradaban di tanah Tapanuli, Tarutung menawarkan ruang kontemplasi bagi para peserta yang datang dari 25 provinsi. Rangkaian acara yang mencakup wisata religi dan pengenalan budaya di kawasan Danau Toba dirancang untuk memberikan pengalaman holistik.
Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat kolaborasi pembangunan daerah. Lebih dari sekadar tuan rumah, Tarutung membuktikan bahwa gagasan-gagasan besar transformasi nasional dapat lahir dari kawasan daerah, membawa semangat pembaruan dari Bona Pasogit untuk seluruh pelosok Nusantara.
Rakernas V MPK yang berlangsung hingga 18 Oktober 2026 ini dituntut tidak berhenti pada tataran selebrasi atau sekadar dokumen keputusan organisasi. Agenda penetapan evaluasi program kerja 2026 serta perumusan arah kebijakan 2027 harus bermuara pada langkah terukur di lapangan.
Penguatan kapasitas guru, pembenahan manajemen yayasan, serta integrasi teknologi yang humanis menjadi pekerjaan rumah utama yang harus dikawal oleh pengurus MPK di seluruh wilayah. Melalui sinergi ketat antara tujuh komponen kunci dan dukungan penuh pemerintah, transformasi sekolah Kristen diharapkan mampu menghadirkan generasi Indonesia yang cerdas, berintegritas, berkarakter, serta siap bersaing di kancah global.(*)










