Jakarta | galasibot.co.id — Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang rutin melanda Indonesia setiap musim kemarau dipastikan bukanlah sebuah takdir. Masalah tahunan ini merupakan cermin dari perlunya tanggung jawab kolektif antara masyarakat, dunia usaha, dan pemerintah.
Pernyataan tersebut disampaikan Ketua Presidium Pusat Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA), Luky A. Yusgiantoro, di Jakarta. Ia menegaskan penanganan karhutla menuntut sinergi nyata dari seluruh elemen bangsa.
Dampak Luas Karhutla pada Masyarakat
Luky menjelaskan, kebakaran hutan tidak hanya merusak ekosistem dan habitat satwa liar. Bencana ini juga mengganggu kesehatan, pendidikan, serta aktivitas perekonomian warga lokal.
Faktor cuaca memang meningkatkan risiko kebakaran di berbagai wilayah. Namun, aktivitas manusia dan pengelolaan lahan tidak bertanggung jawab menjadi pemicu utamanya.
Prinsip Keadilan Ekologis dan Ekonomi Karbon
Penanganan karhutla tidak boleh hanya mengandalkan petugas pemadam di lapangan. Dunia usaha dan masyarakat harus terlibat aktif dalam upaya pencegahan secara menyeluruh.
Persoalan ini sejalan dengan pandangan keadilan ekologis dalam diskusi ISKA Channel. Pelaku usaha yang merusak lingkungan harus bertanggung jawab penuh atas dampak kerugian masyarakat.
Penerapan Pertobatan Ekologis ‘Laudato Si’
Sesuai ensiklik Laudato Si’ Paus Fransiskus, manusia wajib merawat bumi sebagai rumah bersama. Merawat alam berarti melindungi kehidupan masyarakat yang rentan terdampak krisis lingkungan.
Luky mengajak semua pihak melakukan pertobatan ekologis melalui aksi nyata. Langkah ini mencakup penghentian praktik pembukaan lahan dengan cara membakar.
Kolaborasi Pentahelix Mencegah Kebakaran
Pencegahan karhutla membutuhkan kerja sama pentahelix yang melibatkan akademisi hingga media. Sistem peringatan dini serta edukasi pengelolaan lahan tanpa membakar perlu diperkuat.
Pemerintah juga perlu mendukung program berbasis komunitas seperti Perhutanan Sosial dan ProKlim. Sinergi ini menjadi ikhtiar bersama demi menjaga keberlangsung hidup generasi mendatang.(*)










