• Beranda
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
Senin, Oktober 5, 2026
  • Login
GALASIBOT.CO.ID
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
    • Buku
Tidak ada
Tampilkan semua
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
    • Buku
Tidak ada
Tampilkan semua
GALASIBOT.CO.ID
Tidak ada
Tampilkan semua
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
Home Budaya

Kardinal Miguel Ayuso Terima Gelar Doktor Kehormatan Dari  UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta: Konsep “Jalan Tengah” Elemen Penting Menghadapi Kebangkitan Fundamentalisme dan Ekstremisme Agam

admin
13 Februari 2023
/ Budaya, Opini
0 0
0
Kardinal Miguel Ayuso Terima Gelar Doktor Kehormatan Dari  UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta: Konsep “Jalan Tengah” Elemen Penting Menghadapi Kebangkitan Fundamentalisme dan Ekstremisme Agam

Penganugerahan Gelar Doktor Kehormatan atau Doctor Honoris Causa (DR HC) UIN Sunan Kalijaga kepada KH Yahya Cholil Staquf, Sudibyo Markus, dan Kardinal Miguel Angel Ayuo Guixot di UIN Sunan Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Senin (13/2/2023). (Foto dok PWKI)

Share on FacebookShare on Twitter

YOGYAKARTA I galasibot.co.id

“Wasatiyyah” (jalan tengah-moderasi) adalah elemen penting dalam menghadapi kebangkitan fundamentalisme dan ekstremisme agama. Hal itu disampaikan Kardinal Miguel Ayuso, dalam Orasi Ilmiah saat menerima Penganugerahan Gelar Doktor Kehormatan atau Doctor Honoris Causa (DR HC) dari Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, Senin (13/2/2023).

Baca Juga

Wali Kota Medan Minta Putra-Putri Kebudayaan Kuasai Sejarah hingga Kuliner Daerah

Dari Jantung Medan untuk Indonesia: Menelisik Ketahanan Finansial dan Layanan Unggulan di Usia 70 Tahun Asuransi Astra

Sinergi PPTSB dan Pemkab Samosir: Mengikat Budaya, Mendorong Ekonomi, dan Membangun Pariwisata Global

“Gandrung”adalah istilah bahasa Jawa untuk menggambarkan rasa “kasmaran”, lebih dari sekadar jatuh cinta. Rasa “gandrung” inilai yang diungkapkan Kardinal Miguel Angel Ayuso MCCJ terhadap konsep Islam “wasatiyyah”.

“Konsep ini dimobilisasi oleh banyak Muslim yang mempertahankan karakter moderat dari cara tertentu dalam menafsirkan Islam ketika membahas isu-isu sosial kontemporer yang penting, berusaha untuk mengedepankan kebaikan publik dan keadilan sosial,” tutur Kardinal Miguel Ayuso.

Prefek Dikasteri untuk Dialog Lintas Agama Tahta Suci Vatikan ini menerima gelar DR HC bersama KH Yahya Cholil Staquf, dan Sudibyo Markus. Hadir di antara sekitar 1.500 orang undangan,  antara lain Uskup Emiritus Julius Kardinal Darmaatmadja SJ, Uskup Agung Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo Hardjoatmodjo Pr, serta para Uskup yang tergabung dalam Konferensi Waligereja Indonesia (KWI).

Bicara dalam bahasa Inggris yang kemudian dialihbahaskan oleh Staf khusus Dikasteri untuk Dialog Lintas Agama, Pater Markus Solo Kewuta SVD untuk wartawan, Kardinal Ayuso mengatakan, dengan konsep “wasatiyyah” para pemeluk agama diajak untuk menerima dan meneguhkan perbedaan agama sebagaimana adanya, sekaligus membuka diri untuk menghadapi umat beragama lain.

Staf Presiden Dikasteri Dialog Antaragama Vatikan Pater Markus Solo Kewuta SVD memberikan Orasi Ilmiah Kardinal Miguel Angel Ayuso Guixot MCCJ kepada AM Putut Prabantoro, penasihat PWKI (Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia) untuk disosialisasikan, disaksikan Sr M Christera OSF. (Foto dok PWKI)

“Dengan rasa hormat dan pengertian, menjaga hak-hak dan martabat kemanusiaan mereka yang tidak dapat diganggu gugat. Saya selalu bangga dengan Falsafah Bangsa. dan Dasar Negara Anda Pancasila, yang selama ini menjadi pedoman tegas Anda. dan yang membuat negara besar ini bersatu, yang dikaruniai begitu banyak keragaman budaya, suku, dan agama. Saya mengagumi beliau yang Anda cintai, Sunan Kalijaga, yang namanya digunakan untuk menamai Universitas ini. Dia adalah seorang pemimpin dan pengkhotbah Muslim yang nasionalis dan moderat, menyebarkan Islam dengan sukses sambil merangkul budaya dan seni Indonesia,” papar Kardinal Ayuso.

Dikatakan Kardinal Ayuso, masyarakat sipil yang multi-agama menuntut lebih dari sekadar toleransi terhadap perbedaan agama. Sebagai saudara dan saudari dari sejarah yang sama dan bangsa yang sama, orang tidak cukup hanya saling bertoleransi tetapi harus saling mengasihi, karena kita semua pada saat yang sama adalah warga negara yang sama tetapi penganut tradisi agama yang berbeda.

“Untuk membentuk negara multi-agama yang berfungsi dan bertahan lama, kita tidak hanya harus menerima perbedaan agama kita, kita harus menegaskan mengakuisto affirmi mereka. Kita tidak hanya sebatas menerima kenyataan bahwa tetangga sebelah kita memiliki tradisi agama yang berbeda; tetapi kita harus senang mereka menjalankan imannya,” ucap Kardinal Ayuso.

Dalam hal ini, lanjut Kardinal Ayuso, setiap orang harus mengetahui identitas keagamaan mereka tidak hanya sebagai fakta kehidupan tetapi juga sebagai kebaikan bagi kehidupan masyarakat.

“Masing-masing adalah 100% warga negara dan 100% beriman, sebagaimana diungkapkan oleh Uskup Agung Katolik pertama dan terkenal, Yang Mulia Albert Sugiyapranata, dari daerah ini, yang berbicara beberapa tahun setelah kemerdekaan tentang identitas umat Katolik di negara ini, mengundang mereka untuk melibatkan diri sepenuhnya untuk membangun negara setelah lama dijajah,” katanya.

Lebih jauh dikemukakan Kardinal Ayuso, jika seseorang menjadi sesama warga negara dengan mereka yang tidak seagama, maka dia harus dengan jujur mengakui bahwa agama mereka sama pentingnya bagi mereka seperti agama orang tersebut bagi dirinya.

“Oleh karena itu, kita harus bertindak sedemikian rupa sehingga Tuhan yang menciptakan kita bukanlah penyebab perpecahan, tetapi dasar persatuan kita,” tuturnya.

Dalam kesempatan tersebut, Kardinal Miguel Angel Ayuso Guixot MCJJ mengakui mendapat kehormatan dapat menyaksikan penandatanganan “Dokumen Persaudaraan Manusia untuk Perdamaian Dunia dan Hidup Bersama” oleh Paus Fransiskus dan Imam Besar Al-Azhar, Dr Ahmad Al- Tayyib di Abu Dhabi.

Dapat dikatakan, tandas Kardinal Ayuso, tanpa retorika apa pun, penandatanganan dokumen Human Fraternity tersebut merupakan tonggak sejarah dalam jalur dialog antaragama. Tonggak adalah titik di sepanjang jalan, bukan awal maupun akhir.

“Kita harus bekerja sama dalam berbagai cara untuk memajukan persaudaraan manusia dan hidup secara konkret dalam kehidupan kita sehari-hari. Saya sangat berterima kasih atas apresiasi Anda (UIN Sunan Kalijaga) terhadap Dokumen ini, yang sudah memotivasi Anda untuk mengadakan acara yang berarti ini. Peristiwa bersejarah hari ini merupakan kontribusi yang berani untuk memajukan dan memperkuat persaudaraan manusia, guna membangun dunia yang damai dalam kocksistensi bersama,” katanya.

Kolaborasi antaragama, menurut Kardinal Ayuso, dapat dan harus mendukung hak setiap manusia, di setiap belahan dunia dan setiap saat.

“Kita semua adalah anggota dari satu keluarga manusia dan dengan demikian, kita memiliki hak dan kewajiban yang sama sebagai warga dunia ini. Janganlah kita lupa bahwa di dasar setiap kolaborasi atau dialog, ada akar kemanusiaan kita yang sama. Ini berarti bahwa kita tidak memulai dialog dari nol: selalu ada kemanusiaan kita bersama, dengan segala aspek eksistensial dan praktisnya, yang menyediakan tempat perjumpaan yang dibutuhkan,” ucapnya.

Paus Fransiskus, sebut Kardinal Ayuso, menekankan dalam pesannya baru-baru ini untuk Hari Perdamaian Dunia ke-56 pada 1 Januari 2023 lalu, katanya: “Tentu saja, setelah mengalami langsung kerapuhan hidup kita sendiri dan dunia di sekitar kita, kita dapat mengatakan bahwa pelajaran terbesar yang kita petik dari Covid-19 adalah kesadaran bahwa kita semua saling membutuhkan. Bahwa harta kita yang terbesar namun juga sekaligus yang paling rapuh adalah kemanusiaan kita bersalah sebagai saudara dan saudari…. Dan bahwa tidak seorang pun dari kita dapat menyelamatkan dirinya sendiri. Oleh karena itu, kita sangat perlu bergabung bersama dalam mencari dan memajukan nilai-nilai universal yang dapat membimbing pertumbuhan persaudaraan manusia ini”.

Dijelaskan Ayuso, sikap persaudaraan manusia mengadopsi budaya dialog sebagai cara berkolaborasi. merupakan metode saling mengenal, dan sebagai cara menetapkan kriteria bersama. Faktanya, budaya dialog merupakan hal mendasar untuk hidup berdampingan secara damai dan harmonis, budaya yang didasarkan pada saling menghormati, saling memahami, dan saling mengakui.

“Dalam konteks ini, saya ingat kata-kata Bapa Suci Paus Fransiskus ketika berbicara di Kairo tentang tiga orientasi mendasar untuk mengejar dialog dan pengetahuan di antara orang-orang yang berbeda agama: ‘kewajiban untuk menghormati identitas diri sendiri dan identitas orang lain, keberanian untuk menerima perbedaan, dan keikhlasan niat’,” paparnya.

Kardinal Ayuso pun mengingatkan penjelasan Paus Fransiskus di Peringatan Pendiri di Abu Dhabi: “Bersamaan dengan pepatah kuno yang terkenal kenali dirimu, kita harus menjunjung tinggi kenali saudara laki-laki atau perempuanmu’: sejarah mereka, budaya mereka, dan iman mereka, karena tidak ada pengenalan diri sejati tanpa orang lain. Sebagai manusia, dan terlebih lagi sebagai saudara dan saudari, marilah kita saling mengingatkan bahwa tidak ada manusia yang asing bagi kita.”

Paus Fransiskus, lanjut Kardinal Ayuso, melanjutkan dengan mengatakan: “Tidak ada alternatif. entah kita akan membangun masa depan bersama atau tidak akan ada masa depan. Agama khususnya tidak dapat meninggalkan tugas mendesak untuk membangun jembatan antara masyarakat dan budaya. Waktunya telah tiba bahwa agama harus lebih aktif mengerahkan diri, dengan keberanian dan kenekatan, dan tanpa kepura- puraan, untuk membantu keluarga manusia memperdalam kapasitas untuk rekonsiliasi, visi harapan, dan jalan perdamaian yang konkret.”

Terakhir Kardinal Ayuso mengatakan rasa bahagianya menjadi saudara bagi semua yang hadir di UIN Sunan Kalijaga hari ini.

“Sambil menerima anugerah Doktor Honoris Causa ini, saya mengungkapkan perasaan persatuan dalam keragaman dengan Anda semua, dengan keinginan saya yang paling dalam bahwa kita akan terus berjuang dalam membangun bersama dunia yang lebih baik agar perdamaian dapat terwujud dan selalu menjadi landasan masyarakat kita,” tutup Kardinal Ayuso.  (*)

SendShareTweet
Kembali

Melihat Titik Temu Migrasi “Ompu Jorang Raja Sinaga” Dengan “Pomparan Ompu Jorang Raja Sinaga”

Lanjut

Polresta Deli Serdang Lakukan Pengawalan Logistik F1H2O

Baca Juga

Wali Kota Medan Minta Putra-Putri Kebudayaan Kuasai Sejarah hingga Kuliner Daerah
Budaya

Wali Kota Medan Minta Putra-Putri Kebudayaan Kuasai Sejarah hingga Kuliner Daerah

2 Oktober 2026
Dari Jantung Medan untuk Indonesia: Menelisik Ketahanan Finansial dan Layanan Unggulan di Usia 70 Tahun Asuransi Astra
Ekonomi

Dari Jantung Medan untuk Indonesia: Menelisik Ketahanan Finansial dan Layanan Unggulan di Usia 70 Tahun Asuransi Astra

24 September 2026
Sinergi PPTSB dan Pemkab Samosir: Mengikat Budaya, Mendorong Ekonomi, dan Membangun Pariwisata Global
Budaya

Sinergi PPTSB dan Pemkab Samosir: Mengikat Budaya, Mendorong Ekonomi, dan Membangun Pariwisata Global

20 September 2026
Hadiri Pelantikan DPC Hima Lubis, Wakil Wali Kota Medan Ajak Pengurus Perkuat Kepedulian Sosial
Budaya

Hadiri Pelantikan DPC Hima Lubis, Wakil Wali Kota Medan Ajak Pengurus Perkuat Kepedulian Sosial

20 September 2026
Perkuat Ekonomi Kreatif Berbasis Budaya, Airin Rico Waas Resmikan Gallery Torose
Budaya

Perkuat Ekonomi Kreatif Berbasis Budaya, Airin Rico Waas Resmikan Gallery Torose

20 September 2026
Galasibot dan Palti Raja : Menata Masa Depan PPTSB melalui Kepemimpinan, Program, dan Regenerasi (Refleksi Menjelang Mubes XVI PPTSB Tahun 2026)
Budaya

Galasibot dan Palti Raja : Menata Masa Depan PPTSB melalui Kepemimpinan, Program, dan Regenerasi (Refleksi Menjelang Mubes XVI PPTSB Tahun 2026)

20 September 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

HPN 2026

POPULER

  • 5 Hari Tidur di Polsek Namorambe, Korban Teror Bom Molotov Tagih Ketegasan Polisi

    5 Hari Tidur di Polsek Namorambe, Korban Teror Bom Molotov Tagih Ketegasan Polisi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dugaan Pungutan Liar di MAN 2 Tanjung Pura Langkat Didorong ke Kejatisu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Koperasi Merah Putih di Taput Mandek, Tumonggi: Jangan Jadi Program di Atas Kertas!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Melihat Titik Temu Migrasi “Ompu Jorang Raja Sinaga” Dengan “Pomparan Ompu Jorang Raja Sinaga”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rumah Dirusak Sekelompok Orang, Janda di Hamparan Perak Minta Polisi Tangkap Pelaku

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DPD PATRIA Sumut Buka Kembali Ruang Dialog: Dari Kerinduan Kader Menuju Kaderisasi Politik Berbasis Pelayanan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prabowo Copot Menkeu Purbaya, Suahasil Nazara Dilantik Jadi Menteri Keuangan, Diminta Jaga Kredibilitas APBN

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
GALASIBOT.CO.ID

© 2015 GALASIBOT.CO.ID

Navigate Site

  • Beranda
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

Tidak ada
Tampilkan semua
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
    • Buku

© 2015 GALASIBOT.CO.ID

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In