Menjelang perhelatan akbar Musyawarah Besar (Mubes) XVI Parsadaan Pomparan Toba Sinaga dohot Boru (PPTSB), sebuah awan mendung menggelayuti cakrawala organisasi kita. Sebagai organisasi yang kini telah berbadan hukum, PPTSB bukan sekadar paguyuban arisan, melainkan benteng terakhir pelestari marwah Sinaga Sitolu Ompu. Namun, di tengah persiapan penyempurnaan AD/ART, kita justru menyaksikan fenomena mengkhawatirkan: krisis kepemimpinan yang terjebak dalam pusaran egoisme keturunan dan pragmatisme politik.
Jejak Sejarah: Dari Medan Menuju Nusantara
Untuk memahami urgensi Mubes XVI, kita harus menengok ke belakang, pada tahun 1940. Kala itu, di bawah tekanan penjajahan, para pendahulu kita mendirikan PPTS (Persatuan Pomparan Toba Sinaga) di Kota Medan. Tujuannya sangat mulia dan konkret: memenuhi kebutuhan ekonomi dan sosial kerabat Sinaga yang saat itu berjuang sebagai guru, karyawan, buruh, hingga pejabat pemerintah rendahan. Di tengah keterbatasan masa kolonial, PPTS adalah “payung” tempat berlindung dan saling menguatkan.
Seiring fajar kemerdekaan, pada tahun 1965, organisasi ini berevolusi menjadi PPTSB. Transformasi ini bukan sekadar pergantian nama, melainkan penanda naiknya status sosial warga Sinaga di Indonesia. Kini, struktur organisasi kita telah meluas ke seluruh penjuru Nusantara, tersistematis mulai dari Pengurus Pusat, Wilayah, Cabang, hingga Sektor. Meski secara administratif kita terus berbenah menuju profesionalitas yang setara dengan struktur pemerintahan (Pusat hingga Lingkungan), esensi kita tetap satu: Persaudaraan Darah.
Kritik Atas Identitas yang Terbelah
Namun, di tengah kemajuan struktur ini, muncul ancaman internal berupa krisis identitas. Belum lama ini, muncul refleksi bertajuk “Aku Sinaga, tetapi Sinaga Bukan Aku”. Meski terdengar filosofis, tulisan tersebut menyimpan bahaya laten. Pandangan yang memisahkan “Diri” dari “Marga” adalah infiltrasi filsafat Barat (Eksistensialisme) yang asing bagi darah Batak.
Bagi kita, Sinaga adalah identitas ontologis. Tidak ada “Aku” tanpa “Sinaga”. Jika para pendiri tahun 1940 berpikir “Sinaga Bukan Aku”, maka PPTSB tidak akan pernah berdiri. Memisahkan diri dari marga dengan alasan kebebasan individu akan merapuhkan fondasi Parsadaan. Tanpa ikatan batin mudar (darah), organisasi ini hanya akan menjadi sekumpulan angka dalam dokumen hukum, tanpa ruh dan tanpa sahala.
Bahaya Egosentrisme Bonor, Ratus, dan Uruk
Kekuatan Sinaga sejak dahulu terletak pada kesatuannya: Sinaga Bonor, Sinaga Ratus, dan Sinaga Uruk. Kesatuan Sitolu Ompu yang melahirkan Sisia Ama (sembilan cucu/cabang) adalah struktur sakral yang tidak boleh dipecah oleh kepentingan sesaat.
Sangat disayangkan jika menjelang Mubes XVI, muncul riak-riak egosentrisme yang mengunggulkan satu garis keturunan di atas yang lain. Egoisme kepemimpinan yang berbasis pada kelompok kecil—atau penggunaan identitas sub-marga seperti Simandjorang secara eksklusif untuk memisahkan diri—hanya akan menciptakan sekat di rumah besar kita. Pemimpin yang melihat marga sebagai “penjara” atau sekadar “jembatan” tidak akan pernah mampu memimpin dengan hati yang tulus untuk seluruh pomparan.
Intervensi Politik dan Hilangnya Sahala
Mubes kali ini juga menghadapi tantangan berat berupa pragmatisme politik. Ketika organisasi marga dijadikan batu pijakan politik praktis, filosofi Dalihan Na Tolu sering kali dikorbankan. Kita kehilangan sikap Manat Mardongan Tubu karena ambisi kekuasaan pribadi.
Kita harus bertanya: Apakah calon pemimpin kita membawa Sahala (wibawa spiritual) untuk mempersatukan, atau justru membawa agenda pribadi yang membelah? AD/ART boleh disempurnakan sesuai perkembangan jaman sebagai organisasi berbadan hukum, namun prinsip mudar yang satu tidak boleh ditawar.
Menuju Mubes XVI: Kembali ke Akar
Mubes XVI PPTSB harus menjadi momentum untuk “pulang” ke semangat tahun 1940, namun dengan profesionalisme tahun 2026. Kita membutuhkan pemimpin yang:
- Selesai dengan Egonya: Tidak lagi mempertentangkan antara identitas pribadi dan identitas marga.
- Penjaga Tarombo: Menghormati struktur Sitolu Ompu dan Sisia Ama tanpa diskriminasi.
- Visioner namun Berakar: Mampu mengelola organisasi secara tersistem (Pusat hingga Sektor) tanpa kehilangan nilai Habatahon.
Jangan biarkan PPTSB jatuh ke tangan mereka yang menganggap marga hanyalah label eksternal. Sinaga adalah identitas yang melekat sejak rahim hingga liang lahat. Mari kita buang jauh-jauh mentalitas “Sinaga Bukan Aku” dan kembali menegaskan dengan bangga: “Aku adalah Sinaga, dan di dalam darahku mengalir kehormatan leluhurku.”
Horas!











