Jakarta I galasibot.co.id – Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara menggelar diskusi peluncuran buku terbaru karya Dr. Antonius Widyarso SJ. Buku berjudul Pemisahan Hukum dan Moralitas: Mengkaji Pemikiran H.L.A. Hart ini mengupas hubungan kompleks antara hukum dan moral.
Diskusi tersebut menghadirkan tiga pembicara yakni Sulistyowati Irianto, Taufik Basari, dan penulis sendiri. Mereka membahas relevansi pemikiran H.L.A. Hart dengan realitas hukum di Indonesia saat ini.
Pentingnya Ruang Kritik terhadap Hukum
Romo Widy menjelaskan bahwa hukum yang sah belum tentu otomatis adil secara moral. Pemisahan antara hukum dan moralitas penting guna menjaga ruang kritik tetap terbuka.
Jika setiap hukum dianggap bermoral, masyarakat akan kehilangan hak untuk mempertanyakan aturan yang berlaku. Positivisme hukum menurut Romo Widy justru memberi celah bagi masyarakat untuk menilai keadilan hukum.
Hukum sebagai Arena Pertarungan Politik
Taufik Basari menegaskan bahwa hukum tidak pernah benar-benar netral di masyarakat. Ia menyebut hukum sebagai arena pertarungan kepentingan, nilai, serta klaim moral kelompok tertentu.
Sulistyowati Irianto menambahkan bahwa hukum negara bukan satu-satunya acuan perilaku warga. Masyarakat sering kali lebih patuh pada norma adat atau agama yang hidup di lingkungan mereka.
Diskusi ini menyimpulkan bahwa hukum dalam demokrasi harus memberi kepastian tanpa takut dikritik. Hukum harus tetap menjaga hubungan dengan nilai keadilan dan realitas sosial.(*)




