JAKARTA I galasibot.co.id – Di tengah derasnya arus globalisasi yang mulai mengikis nilai-nilai tradisi, sebuah gerakan kultural besar lahir sebagai benteng pertahanan identitas Batak. Pada Minggu (14/6/2026), Perkumpulan Raja Parhata Sedunia (PRPD) resmi dideklarasikan di Mess Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, Jalan Jambu, Jakarta Pusat.
Organisasi ini hadir sebagai wadah pemersatu bagi para Raja Parhata, tokoh adat, akademisi, budayawan, dan masyarakat Batak dari berbagai penjuru dunia. Deklarasi ini menjadi tonggak sejarah penting untuk memastikan adat istiadat leluhur tetap hidup dan relevan di tengah dinamika zaman modern.
Inisiatif dari Lima Tokoh Visioner
PRPD lahir dari komitmen lima tokoh yang memiliki kepedulian mendalam terhadap keberlangsungan adat Batak, yaitu Ediwardo Ritonga, S.Sos., Yonge Sihombing, S.E., M.B.A., Drs. Binton Simonangkir, M.M., Dra. Murniati Lumban Tobing, M.Si., dan Mukhlis Ritonga, S.H.. Kelima pendiri ini disatukan oleh visi yang sama untuk menjaga marwah budaya sebagai warisan generasi mendatang.
Salah satu sosok sentral dalam perkumpulan ini adalah Ediwardo Ritonga, S.Sos., seorang Raja Parhata yang memiliki reputasi luas dalam tata cara adat. Ia dikenal publik saat dipercaya menjadi Raja Parhata yang mewakili unsur Anak Boru atau Tulang dalam prosesi pernikahan Kahiyang Ayu dan Bobby Nasution di Medan pada tahun 2017 silam.
Menjawab Tantangan Zaman
Pembentukan PRPD dilatarbelakangi oleh keprihatinan terhadap menipisnya pemahaman generasi muda mengenai filosofi dan tata krama adat Batak yang autentik. Oleh karena itu, PRPD mengusung misi edukasi, kaderisasi, serta dokumentasi naskah adat agar nilai-nilai luhur tidak hilang ditelan zaman.
PRPD mengadopsi falsafah Dalihan Na Tolu—Somba Marhula-hula, Elek Marboru, dan Manat Mardongan Tubu—sebagai fondasi utama organisasi. PRPD bersifat inklusif, merangkul seluruh sub-etnis Batak mulai dari Toba, Mandailing, Angkola, Simalungun, Karo, hingga Pakpak, tanpa memandang latar belakang sosial atau agama.
“PRPD diharapkan menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan adat Batak yang mampu menjawab tantangan zaman,” tulis keterangan resmi organisasi tersebut. Kedepannya, organisasi ini akan berfokus pada pelatihan bagi Raja Parhata muda, penelitian budaya, hingga digitalisasi dokumen adat sebagai upaya penguatan jaringan komunitas Batak di kancah internasional.(*)











