Medan I galasibot.co.id – Proyek pembangunan U-Ditch sepanjang sekitar 714 meter di Kelurahan Indra Kasih dihadirkan untuk mengurangi genangan air. Namun, dalam proses pengerjaannya, warga dihadapkan pada persoalan tiang listrik yang menghambat jalur, galian terbuka yang membahayakan, serta akses harian yang terganggu.
Proyek infrastruktur yang diharapkan menjadi solusi jangka panjang kerap kali menyisakan persoalan tak terduga di tingkat tapak. Bagi warga yang tinggal di kawasan langganan genangan, ukuran keberhasilan pembangunan tidak cukup diukur dari seberapa megah rencana di atas kertas, melainkan dari kenyamanan dan keselamatan mereka sehari-hari selama alat berat mulai bekerja di depan rumah. Di Kelurahan Indra Kasih, Kecamatan Medan Tembung, denyut nadi warga kini beriringan dengan deru mesin dan ceceran tanah galian proyek drainase.
Selasa, 29 September 2026, Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas turun langsung meninjau pengerjaan U-Ditch di Jalan Bhayangkari. Proyek dengan bentang panjang sekitar 714 meter yang mengarah hingga Jalan William Iskandar ini diproyeksikan memiliki ukuran penampang sekitar 140 sentimeter. Pembangunan tersebut dimaksudkan sebagai ikhtiar serius pemerintah kota dalam mengurai persoalan menahun terkait genangan air yang kerap merendam kawasan tersebut.
Namun di lapangan, ceritanya tidak sesederhana angka panjang dan ukuran meter saluran. Di sinilah investigasi atas realitas pelaksanaan proyek diuji: mampukah infrastruktur ini menuntaskan banjir tanpa harus mengorbankan keselamatan dan kenyamanan warga yang beraktivitas di sekitarnya setiap hari?
Menghubungkan Saluran Menuju Sungai Kera
Dalam pemaparannya di lokasi, Rico Waas menyebutkan bahwa penanganan banjir merupakan salah satu prioritas utama Pemko Medan. Di kawasan Tembung sendiri, terdapat tiga titik pembangunan drainase yang dirancang agar alirannya bermuara ke Sungai Kera. Pembangunan di Jalan Bhayangkari ini menjadi bagian penting dari jaringan makro tersebut karena Indra Kasih merupakan salah satu wilayah yang paling terdampak luapan air ketika hujan deras turun.
Pertanyaannya kemudian, bagaimana keterhubungan teknis antara ketiga sistem drainase tersebut? Apakah kapasitas alirannya benar-benar telah dikalkulasi matang untuk menampung volume air puncak dari berbagai arah sebelum tumpah ke Sungai Kera? Dokumen perencanaan teknis mengenai kapasitas debit air dan data empiris titik-titik genangan sebelum serta sesudah proyek berjalan tentu menjadi instrumen penting yang perlu dibuka ke publik agar efektivitasnya dapat diukur secara transparan. Hingga kini, detail teknis mendalam mengenai dokumen kontrak, anggaran, hingga nama pelaksana proyek di lapangan masih menyisakan ruang yang perlu diklarifikasi lebih lanjut kepada pihak Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Medan.
Persoalan Tiang Listrik yang Menghadang Jalur
Persoalan di lapangan langsung terlihat ketika alat berat berbenturan dengan hambatan fisik. Keberadaan sejumlah tiang listrik yang berdiri tepat di jalur galian membuat pengerjaan fisik tidak bisa berjalan mulus secara linier.
Merespons kondisi tersebut, Rico Waas secara terbuka meminta Dinas PU segera berkoordinasi secara intensif dengan pihak PLN untuk melakukan relokasi tiang-tiang tersebut. Tanpa langkah cepat, keberadaan tiang listrik ini dikhawatirkan membuat para pekerja terpaksa melompati titik-titik tertentu, berkerja secara belang-kelang, dan pada akhirnya mengganggu kontinuitas serta jadwal penyelesaian proyek.
Yang jadi pertanyaan, mengapa kendala utilitas seperti tiang listrik baru mendapat perhatian khusus setelah proyek fisik berjalan? Apakah koordinasi lintas instansi antara Pemko Medan dan pihak penyedia utilitas tidak melalui tahap pemetaan lapangan yang matang sebelum tahap galian dimulai? Publik tentu ingin tahu apakah hambatan ini berpotensi memundurkan target waktu penyelesaian yang telah ditetapkan dalam dokumen kontrak.
Galian Terbuka dan Pertaruhan Keselamatan Warga
Di titik ini, aspek keselamatan warga menjadi sorotan paling krusial. Sepanjang peninjauan, keluhan-keluhan warga mulai bermunculan ke permukaan. Galian U-Ditch yang dibiarkan menganga tanpa penutupan memadai di sejumlah titik dikeluhkan sangat mengganggu akses keluar-masuk warga, menghambat aktivitas para pedagang, hingga memicu insiden kecelakaan kecil.
Seorang warga secara langsung melaporkan kepada Wali Kota bahwa kondisi jalan yang licin saat diguyur hujan membuat pengendara sepeda motor sempat terjatuh di dekat area galian. Aktivitas ekonomi pedagang sekitar pun ikut tersendat karena pembeli kesulitan mendekati tempat usaha akibat terhalang material proyek.
Kekhawatiran warga kian berlapis ketika mereka melihat pengerjaan terus berpindah ke segmen lain sementara galian di titik sebelumnya belum juga ditutup rapi. Padahal, di sekitar lokasi tersebut banyak anak-anak yang setiap hari beraktivitas dan bermain. Seorang ibu rumah tangga dengan nada cemas menyampaikan uneg-unegnya kepada orang nomor satu di Medan itu:
“Pak, di sini banyak anak-anak. Di sini kalau banjir dan hujan rawan, Pak. Daripada nanti anak-anak kenapa-kenapa gara-gara kayak gini, tolonglah Pak. Katanya mau ditutup besok, tapi tidak juga,” keluhnya.
Warga juga mengaku bahwa mereka sebelumnya telah menyampaikan aduan serupa kepada pihak Dinas PU, dan sempat mendapat janji bahwa galian akan segera ditutup. Namun menurut pengakuan warga, janji penutupan tersebut belum kunjung terealisasi sesuai waktu yang diucapkan. Klaim warga ini tentu memerlukan ruang klarifikasi yang adil dari pihak Dinas PU untuk melihat sejauh mana prosedur penanganan aduan dan respons cepat lapangan dijalankan oleh para petugas.
Respons Pemerintah dan Batas Ketegasan
Menanggapi berbagai keluhan tersebut, Rico Waas memberikan instruksi tegas kepada jajaran Dinas PU. Ia memerintahkan agar setiap galian yang terbuka harus segera ditutup kembali sesegera mungkin begitu pekerjaan di titik tersebut selesai dikerjakan.
Apabila proses konstruksi di suatu segmen masih berjalan dan belum memungkinkan untuk ditutup, Wali Kota menegaskan bahwa lokasi tersebut wajib dilengkapi dengan rambu-rambu pengaman yang jelas serta sosialisasi yang baik kepada masyarakat sekitar. Langkah ini dinilai krusial agar pengendara maupun pejalan kaki tetap waspada, terutama tatkala genangan air menutupi lubang galian saat hujan turun tiba-tiba.
“Kalau misal pas lagi memang hujan ini terjadi genangan, tak terlihat, akhirnya bisa masyarakat celaka. Makanya harus ditutup dahulu dan diselesaikan,” tegas Rico Waas.
“Penting sekali wilayah ini juga mensosialisasikan kepada masyarakat sekitar bahwa memang perlu berhati-hati dan juga memberi rambu di bagian ujung,” tambahnya.
Menatap Pascaproyek: Apakah Banjir Benar-Benar Pergi?
Pekerjaan drainase di Jalan Bhayangkari, Indra Kasih, pada akhirnya menyisakan sebuah pekerjaan rumah besar yang melampaui urusan teknis pemasangan beton U-Ditch. Proyek ini bukan sekadar menghitung berapa ratus meter saluran yang berhasil ditanam ke dalam tanah, melainkan bagaimana memastikan bahwa setelah proyek rampung, genangan benar-benar hilang dari permukiman warga.
Publik tentu menantikan adanya evaluasi transparan pascaproyek, pemeliharaan berkala terhadap potensi sedimentasi dan penyumbatan sampah, serta mekanisme pengawasan yang konsisten dari instansi terkait. Apakah forum-forum peninjauan lapangan ini akan menjadi standar pengawasan yang berkelanjutan, ataukah sekadar mereda setelah sorotan pejabat berlalu? Waktu, komitmen Dinas PU, serta konsistensi di lapanganlah yang akan membuktikan jawabannya.(*)









