
Dalam sebuah perjalanan yang sarat makna sejarah dan emosional, para keturunan marga Simanjorang Sektor 3 Kota Medan Sumatera Utara melakukan napak tilas ke Hasinggaan, sebuah desa bersejarah yang terletak di wilayah Kenegerian Sianjur Mula-Mula di Kabupaten Samosir. Hasinggaan diyakini sebagai tempat asal mula nenek moyang marga Simanjorang, yang merupakan bagian dari keturunan Toga Sinaga, tepatnya dari garis Sinaga Uruk yang punya tanah leluhur di SIDUAN DATU URAT Kecamatan Palipi Kabupaten Samosir.
Perjalanan ini bukan sekadar kunjungan biasa. Ia merupakan wujud penghormatan kepada leluhur, sekaligus upaya menyambung kembali hubungan yang mungkin telah terputus oleh waktu dan jarak. Napak tilas ini menjadi sarana untuk mengenal akar, memperkuat identitas, dan membangun kembali rasa kebanggaan sebagai bagian dari keluarga besar Simanjorang.
- Makna dan Latar Belakang Perjalanan
Nama Hasinggaan selama ini hidup dalam cerita-cerita lisan para orang tua dan tetua adat. Namun, menyaksikan langsung tempat ini membawa nuansa yang berbeda: lebih dalam, lebih emosional, dan lebih menyentuh. Bagi generasi muda, napak tilas ini menjadi pencarian jati diri, sedangkan bagi generasi tua, ia adalah pengingat dan perwujudan cinta terhadap akar budaya.
Setibanya di desa, rombongan disambut hangat oleh warga dan keluarga besar Simanjorang yang masih menetap di tanah leluhur. Sambutan itu hadir dalam bentuk pelukan, senyum tulus, makanan khas Batak, hingga upacara adat sederhana yang penuh makna kebersamaan.
- Rangkaian Kegiatan Napak Tilas
Napak tilas ini diisi dengan sejumlah kegiatan bermakna, antara lain:
Makam Leluhur
Kunjungan mendapat penjelasan dari Tokoh Adat Simanjorang bahwa Simanjorang memiliki makam-makam tua (Sarpagus) di Hasinggaan Dolok, menjadi salah satu momen paling sakral. Di tempat ini, doa dan penghormatan dipanjatkan kepada para pendahulu, yang telah mewariskan kehidupan dan nilai-nilai luhur kepada keturunan Simanjorang.
- Kunjungan ke Situs Bersejarah.
Rombongan dijamu oleh masyarakat dan para tetua adat di perkampungan tua Hasinggaan, di depan halaman Rumah Adat sekaligus tempat musyawarah dan pesata adat, dan Pantai Danau Toba yang terjal, perbukitan yang indah, sungai kecil tempat anak-anak leluhur dahulu mandi, hingga mata air jernih yang masih digunakan dalam ritual penyucian oleh nenek moyang Simanjorang.
Upacara Adat dan Doa Bersama
Di tengah alam Hasinggaan yang sejuk dan hening, rombongan menggelar doa bersama dan menyanyikan ende-ende Batak, menciptakan suasana spiritual yang mendalam. Doa ini menjadi simbol rasa syukur atas warisan budaya dan harapan bagi generasi mendatang.
Diskusi Sejarah dan Silsilah serta migrasi
Tokoh-tokoh adat menjelaskan garis keturunan Simanjorang, menjawab berbagai pertanyaan seputar hubungan genealogis dengan Toga Sinaga, dan memperjelas posisi Simanjorang sebagai bagian dari Sinaga Uruk. tanah kelahiran di SIDUAN DATU URAT Kecamatan Palipi Kabupaten Samosir.
Kemudian nenek moyang Simanjorang punya jejak rekam sebagai perantau ulung dengan karakter pelayan dan suka bergaul sehingga punya perkampungan dibeberapa tempat diantaranya: Girsang Simpang Bolon Kabupaten Simalungun. Dan keturunan Simanjorang bermukim di Kabupaten Samosir yang menyebar di beberapa desa dan kecamatan yaitu: Desa Hasinggaan dan Desa Hutaginjang Sagala, di desa Singkam Limbong Kecamatan Sianjur mula mula dan di Harian Kecamatan Harian. Keturunaan Simanjorang ada migrasi dan berkampung di Desa Parsinomba Hutaginjang Lumban Suhi-Suhi Dolok Kecamatan Pangururan
Kemudian sebahagian keturunan Simanjorang bermigrasi lintas kabupaten yaitu ke Paropo Silalahi, Tanjung Baringin Kabupaten Dairi, dan ke Sikodon-Kodon dan Pangambatan serta Sibolangit di Kabupaten Karo dan ada juga yang berimigrasi Ke Takangon Provinsi Aceh.
Kehadiran Tokoh Inspiratif
Salah satu momen istimewa dalam kegiatan ini adalah kehadiran Dr. Wilmar Eliaser Simanjorang, Dip.Ec., M.Si., seorang tokoh nasional penggiat lingkungan khusus Kawasan Danau Toba yang pernah menjadi Penjabat Bupati Samosir pertama dan sejumlah jabatan strategis lainnya baik di pemerintahan maupun di Lembaga terkait pelestarian Danau Toba seperti Toba Caldera UNESCO Global Geopark (TC UGGp) yang telah lama menjadi inspirasi bagi masyarakat Batak. Bersama istri tercinta, Ibu Nurhaida Simarmata, beliau menyampaikan pesan penting:
“Jangan hanya menceritakan Hasinggaan kepada anak-anak. Ajak mereka datang ke sini, melihat dan merasakan langsung. Ini adalah bentuk pendidikan budaya paling nyata.”
Beliau juga menekankan pentingnya pelestarian situs bersejarah dan nilai-nilai budaya seperti gotong royong, hormat pada alam dengan memelihara serta melindungi Kawasan Hutan di hulu desa Hasinggaan , dan tetap memebri penghargaan terhadap warisan leluhur.
- Refleksi dan Pesan untuk Generasi Mendatang
Napak tilas ini bukan hanya tentang mengenang masa lalu, tetapi juga menghidupkan kembali semangat leluhur—semangat keberanian, solidaritas, dan rasa hormat terhadap tanah dan sejarah. Para peserta, terutama generasi muda, merasakan keterhubungan yang mendalam dengan akar mereka, dan bertekad untuk meneruskan nilai-nilai ini ke anak-cucu kelak.
Melalui kegiatan ini, para peserta memahami bahwa sejarah keluarga bukan sekadar data dalam silsilah, tetapi juga kisah perjuangan, pengorbanan, dan nilai-nilai hidup yang membentuk jati diri.
Penutup
Perjalanan napak tilas ke Hasinggaan menjadi pengingat bahwa sejauh apa pun seseorang melangkah, akar tidak boleh dilupakan. Hasinggaan bukan hanya simbol identitas marga Simanjorang, tetapi juga penjaga nilai geologi, ekologi, budaya dan spiritualitas Batak yang tak ternilai.
Dengan semangat itu, kegiatan ini bukan sekadar catatan perjalanan, melainkan ikrar.(*)









