Deliserdan I galasibot.co.id
Warga lima desa di Kecamatan Biru-biru, Kabupaten Deliserdang mengusir paksa para pekerja dan seluruh alat berat dari areal proyek Bendungan lau Simeme, Kamis (23/11/2023). Pengusiran paksa itu dilakukan massa warga dari Desa Kualadekah, Desa Sarilabajahe, Desa Rumahgerat, Desa Penen dan Desa Mardinding Julu saat berunjuk rasa menuntut pembayaran kompensasi tanah dan tanaman mereka.
Aksi massa itu dilakukan dengan berorasi di area fasilitas umum proyek Bendungan Lau Simeme yang dikerjakan PT Wijaya Karya (WiKa). Setelah melakukan orasi, warga bergerak menuju lokasi proyek bendungan di Desa Sariabajahe.
Sesampai di lokasi warga menemukan beberapa mobil truk yang membawa material batu. Warga mengizinkan truk untuk menurunkan muatannya dan selanjutnya harus berhenti beroperasi.
Warga kemudian berjalan ke tempat ketinggian di areal proyek bendungan. Di tempat itu warga menemukan banyak alat berat seperti Backhoe (Beko) yang beroperasi. Warga menghampiri para operator alat berat itu dan meminta dikeluarkan dari lokasi proyek.
Selanjutnya warga mulai melakukan orasi yang dikomandoi Tompul, “Di dalam tanah ini terdapat tulang belulang nenek moyang kami. Kita sudah ke Kementrian PUPR dan belum ada jawaban, maka hari ini kita tutup sementara seluruh pekerjaan yang ada di lokasi bendungan sampai ada jawaban dari pihak yang terkait,” ucap Tompul.
Humas PT Wika, Yuspian saat dikonfirmasi di lokasi terkait aksi warga yang menghentikan seluruh pekerjaaan mengatakan bahwa pemilik proyek adalah Balai Wilayah Sungai Sumatera (BWSS), Kementerian PUPR. “Bendungan ini ada tiga paket yang dikerjakan Wika BKSO, PP Andosmont dan PT Samudera. Khusus bendungan utama itu bagian PT WiKa,” ucapnya.
Lanjut Yuspian, PT WiKa mengerjakan bendungan utama. Seperti Fasum tadi tidak bisa ikut campur, jika masyarakat memang meminta stop pekerjaan ini PT WiKa tidak bisa berbuat apa-apa. Soal persoalan ganti rugi itu adalah ranahnya BWSS,” kata Yuspian.
Warga saat itu menghentikan sebuah truk pengangkut material batu yang hendak masuk ke areal proyek. Muatan batu itu dipaksa dibongkar di depan warga dan supir diminta pulang. (Andi)











