PEMATANGSIANTAR | galasibot.co.id – Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Pematangsiantar Santo Fransiskus dari Assisi menggelar Masa Bimbingan (MABIM) 2026 pada 2–5 Juli 2026. Kegiatan ini mengusung tema “Mewujudkan Identitas Kader Sebagai Pelayan Gereja dan Pejuang Kemanusiaan.”
MABIM menjadi gerbang awal kaderisasi formal bagi calon anggota PMKRI. Sebanyak 16 mahasiswa mengikuti kegiatan tersebut. Mereka terdiri dari sembilan perempuan dan tujuh laki-laki.
Peserta berasal dari beberapa perguruan tinggi di Kota Pematangsiantar. Di antaranya Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar, Politeknik Bisnis Indonesia, dan Universitas Terbuka.
Bangun Karakter dan Kepemimpinan
Selama empat hari, peserta mengikuti pembinaan yang terstruktur. Mereka memperdalam kemampuan berpikir kritis, kepemimpinan, spiritualitas, dan kepedulian sosial.
Selain mengenal organisasi, peserta mempelajari nilai perjuangan PMKRI. Mereka juga memahami makna semboyan Pro Ecclesia et Patria sebagai dasar pengabdian kepada Gereja dan bangsa.
Kegiatan diawali dengan registrasi, sidang pembukaan, perkenalan, dan kontrak psikologis. Tahapan itu bertujuan membangun kedisiplinan, rasa percaya, dan komitmen bersama.
Bekal Intelektual dan Spiritualitas
Panitia menghadirkan sejumlah materi dasar kaderisasi. Peserta mempelajari Who Are You, Seven Habits, Ajaran Sosial Gereja, Analisis Sosial, Komunikasi Efektif, Teknik Lobi dan Negosiasi, Public Speaking, Debat, Konstitusi PMKRI, hingga Pengantar Teologi Pembebasan.
Senior PMKRI, alumni, dan narasumber berpengalaman menyampaikan seluruh materi. Mereka membekali peserta dengan kemampuan intelektual sekaligus kepekaan terhadap persoalan masyarakat.
Salah satu sesi penting menghadirkan Ketua IDI Siantar-Simalungun, Reinhard J. D. Hutahaean. Ia membawakan materi Who Are You.
Dalam sesi tersebut, peserta diajak mengenali jati diri, potensi, dan tanggung jawab sebagai mahasiswa. Mereka juga didorong membangun karakter kepemimpinan yang berintegritas serta berorientasi pada pelayanan.
Belajar Langsung dari Masyarakat
MABIM 2026 tidak hanya berlangsung di dalam kelas. Peserta juga mengikuti Ekskursi Sosial sebagai sarana pembelajaran lapangan.
Mereka mengamati kondisi masyarakat secara langsung. Selanjutnya peserta berdialog dengan warga, mengidentifikasi persoalan sosial, lalu menyusun analisis beserta alternatif penyelesaian.
Hasil observasi dipresentasikan dalam forum. Proses ini melatih kemampuan berpikir kritis, menyusun argumentasi, dan mengambil keputusan berdasarkan fakta lapangan.
Panitia Targetkan Kader Berkualitas
Ketua Panitia MABIM 2026, Vincentius Danu Bona Arta Nadeak, mengatakan seluruh persiapan dilakukan secara maksimal.
Menurutnya, MABIM merupakan pintu lahirnya kader baru PMKRI. Karena itu, panitia ingin setiap peserta memperoleh pengalaman pembelajaran yang utuh.
“Kami berharap seluruh peserta mengikuti setiap tahapan dengan sungguh-sungguh sehingga lahir kader yang kritis, humanis, berintegritas, serta siap melayani Gereja dan masyarakat,” ujarnya.
Kaderisasi Jadi Jantung Organisasi
Ketua Presidium PMKRI Cabang Pematangsiantar Periode 2026–2027, Fransisco Mezgion Hutauruk, menegaskan kaderisasi menjadi fondasi keberlanjutan organisasi.
Ia menyatakan PMKRI tidak hanya membentuk mahasiswa yang aktif berorganisasi. Organisasi juga membangun kader yang memiliki integritas moral, kemampuan intelektual, dan keberpihakan kepada masyarakat.
“Kami berharap MABIM melahirkan kader yang mampu menjawab tantangan zaman serta mengimplementasikan semangat Pro Ecclesia et Patria dalam setiap pengabdian,” katanya.
Fondasi Perjalanan Organisasi
Mantan Bendahara Umum PMKRI Pusat, Ayunda Lince Sipayung, turut menjadi pemateri. Ia mengajak peserta memaknai setiap proses kaderisasi sebagai perjalanan pembelajaran.
Menurutnya, materi, diskusi, refleksi, dinamika kelompok, dan ekskursi sosial membentuk pola pikir kritis serta kemampuan berdialog.
Ia berharap seluruh peserta menjalani setiap tahapan dengan semangat belajar karena karakter kader lahir melalui proses tersebut.
Tutup Kegiatan dengan Evaluasi
Rangkaian kegiatan berakhir melalui Sidang Kelulusan Peserta. Forum tersebut mengevaluasi kehadiran, kedisiplinan, partisipasi, sikap, serta pemahaman materi setiap peserta.
Kegiatan kemudian berlanjut dengan Sharing Bersama Senior. Forum ini menjadi ruang refleksi sekaligus memperkuat komitmen kader baru.
Panitia menutup seluruh rangkaian melalui Sidang Penutupan dan prosesi Sayonara. Prosesi itu menjadi simbol berakhirnya MABIM 2026 sekaligus awal perjalanan peserta sebagai anggota keluarga besar PMKRI Cabang Pematangsiantar Santo Fransiskus dari Assisi.
Melalui MABIM 2026, PMKRI Cabang Pematangsiantar kembali menegaskan komitmennya membangun kader yang progresif, beriman, berwawasan luas, serta memiliki kepedulian sosial. Organisasi berharap para kader mampu memperjuangkan nilai kebenaran, keadilan, dan kemanusiaan demi masyarakat yang adil dan bermartabat.










