Bali I galasibot.co.id Penjor berdiri megah di halaman Gereja Katolik St. Fransiskus Xaverius Kuta, Minggu (9/8/2026). Umat melantunkan lagu-lagu liturgi menggunakan bahasa Bali.
Gebogan buah dan cane menghiasi ruang perayaan Ekaristi. Suasana ini menandai perayaan Misa Hari Minggu Biasa XIX dengan balutan budaya lokal.
Pater Markus Solo Kewuta memimpin perayaan Ekaristi secara konselebrans. Pejabat Vatikan asal NTT itu didampingi para romo dan diakon.
Ruang Pengungkapan Iman dan Budaya
YB Ketut Herry Respatia menjelaskan arti penting kegiatan ini. Ia memimpin Pasemetonan Krama Bali Katolik di paroki tersebut.
Paroki rutin memberikan ruang bagi berbagai kelompok etnis. Umat dari Flores dan Timor juga sering menggelar misa serupa.
Kegiatan ini membuktikan bahwa gereja merangkul keberagaman budaya. Umat dapat merawat identitas leluhur tanpa kehilangan iman.
Menjadi Katolik Tanpa Kehilangan Akar
Umat Katolik Bali menghadirkan kekhasan budaya mereka minggu ini. Dekorasi gereja dipenuhi unsur tradisi lokal yang memukau.
Komunitas Pasemetonan Krama Bali Katolik beranggotakan sekitar seratus orang. Mereka adalah warga asli Bali yang memeluk agama Katolik.
Komunitas serupa juga tumbuh subur di wilayah paroki lain. Sejarah panjang umat Katolik Bali tersebar di Tuka dan Palasari.
Pesan Injil di Tanah Bali
Inkulturasi bukan sekadar menambah ornamen dan mengganti bahasa. Proses ini mendekatkan pesan Injil dengan kehidupan nyata masyarakat.
Penjor dan bahasa Bali menyatu harmonis di dalam gereja. Semua elemen berpadu indah dalam satu ruang peribadatan.
Umat Katolik Bali membuktikan bahwa iman berjalan seiring budaya. Menjadi pengikut Kristus tidak membuat mereka berhenti menjadi orang Bali.
Source:
Penulis berita : Wilfrid Sinaga










