Kita tidak pernah kekurangan orang tua secara usia, namun kita kian merana kekurangan figur yang benar-_benar dituakan karena wibawa. Di tengah zaman yang kerap mengukur kehormatan dari kilau jabatan dan deretan gelar adat, senioritas sering kali menyusut menjadi sekadar angka biologis atau simbol artifisial belaka. Padahal, saat badai konflik kelompok menerpa dan perpecahan mengancam keutuhan, masyarakat tidak sedang mencari siapa yang paling nyaring bersuara atau paling kuat memenangkan golongan. Yang dicari dan dirindukan adalah figur “batu tungku”—sosok sepuh yang sabar menahan panas, meredam bara perpecahan, dan memastikan kehadiran serta wibawanya menjadi peneduh, bukan justru memantik gaduh di tengah kampung (huta).
Akar Krisis Ketokohan dan Politisasi Simbol
Akar persoalan krisis ketokohan hari ini terletak pada pergeseran cara pandang kita terhadap legitimasi sosial dan kultural. Jabatan adat, senioritas biologis, bahkan ruang-ruang organisasi marga, kerap direduksi menjadi sekadar legalitas formal atau surat pengangkatan administratif. Akibatnya, muncul celah besar antara kuantitas “orang tua” dengan kualitas figur yang benar-benar marsahala.
Dalam peradaban yang kian transaksional, atribut-atribut artifisial sering kali diperlakukan sebagai instrumen kekuasaan. Gejala ini kian terasa ketika kepentingan pragmatis—seperti ambisi oknum politisi atau partai politik—mencoba menyusup ke dalam tubuh organisasi kemasyarakatan dan adat. Mereka berupaya mendulang keuntungan elektoral dengan cara memecah belah keanggotaan. Ruang-ruang yang semestinya menjadi tempat merajut persaudaraan justru diseret ke panggung kepentingan sempit untuk menguatkan golongan tertentu.
Ketika gesekan disengaja dan api konflik mulai disulap menjadi komoditas, tidak jarang figur senior yang seharusnya berdiri di tengah justru melunturkan integritasnya. Alih-alih menjadi penengah, sebagian oknum tetua malah tergiur memposisikan diri sebagai provokator demi keuntungan sesaat. Padahal, esensi kepemimpinan sesepuh—sebagaimana difilosofikan dalam etika relasi tradisional seperti manat mar-dongan tubu, elek mar-boru, somba mar-hula-hula—menuntut keseimbangan hidup yang berpijak pada kehati-hatian, kelembutan, dan penghormatan timbal balik.
Menilik Tanggung Jawab Moral: Menguasai atau Mengayomi?
Di sinilah kritik sosial yang elegan menemukan urgensinya. Kita perlu mempertanyakan kembali mentalitas para pemegang otoritas senior yang kerap menggunakan pengaruh untuk menguasai alih-alih mengayomi. Ketika wibawa ditopang oleh rasa takut, intimidasi, atau ambisi kelompok, ia kehilangan substansi keluhurannya.
Seorang figur senior sejati tidak selayaknya bertindak sebagai api yang membakar dan menghanguskan tatanan. Ia harus menjadi batu tungku: tidak selalu berambisi menjadi pusat perhatian, tetapi kokoh menahan beban dan panas demi memastikan energi sosial yang ada mendatangkan manfaat nyata. Ia mempertemukan yang renggang, meneduhkan yang panas, meluruskan yang menyimpang, dan menjaga simpul persaudaraan agar tidak hancur lebur di tengah jalan. Usia tua dan jabatan formal hanyalah instrumen administratif; tanpa keteladanan, keduanya kosong makna.
Menyongsong Warisan Sejati: Menjaga Martabat di Ruang Sejarah
Lima puluh tahun dari sekarang, anak cucu kita tidak akan lagi peduli siapa yang pernah menduduki kursi ketua, siapa yang memegang mandat organisasi, atau kelompok mana yang keluar sebagai pemenang dalam perebutan pengaruh. Yang tersisa di dalam memori kolektif hanyalah cerita tentang karakter: apakah seorang leluhur menjadi peneduh ketika orang berselisih, apakah ia mendengar sebelum menghakimi, dan apakah kehadirannya membuat kampung halaman atau organisasinya lebih teduh atau justru gaduh.
Pada akhirnya, harta dapat habis, masa bakti jabatan pasti berakhir, dan konstelasi kelompok senantiasa berubah. Yang abadi adalah nama dan rekam jejak martabat.
Mari jadikan momentum ini sebagai cermin bersama. Mari menolak segala bentuk politisasi sempit yang merusak tatanan persaudaraan kita. Jadilah Tua-Tua yang ketika namanya disebut, orang mengangguk hormat—bukan karena takut, bukan semata karena marga atau jabatan, melainkan karena marsahala-nya. Sebab pada akhirnya, kitalah yang memilih nama dan cerita seperti apa yang kelak ditinggalkan untuk dikenang oleh sejarah.(*)










