• Beranda
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
Kamis, Oktober 15, 2026
  • Login
GALASIBOT.CO.ID
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
    • Buku
Tidak ada
Tampilkan semua
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
    • Buku
Tidak ada
Tampilkan semua
GALASIBOT.CO.ID
Tidak ada
Tampilkan semua
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
Home Opini

Apakah Warisan Kita Hanya Kegaduhan? : Jadilah “Tua-Tua” yang Dicatat Sejarah

Redaksi Galasibot.co.id
24 Agustus 2026
/ Opini
0 0
0
Apakah Warisan Kita Hanya Kegaduhan? : Jadilah “Tua-Tua” yang Dicatat Sejarah
Share on FacebookShare on Twitter

Kita tidak pernah kekurangan orang tua secara usia, namun kita kian merana kekurangan figur yang benar-_benar dituakan karena wibawa. Di tengah zaman yang kerap mengukur kehormatan dari kilau jabatan dan deretan gelar adat, senioritas sering kali menyusut menjadi sekadar angka biologis atau simbol artifisial belaka. Padahal, saat badai konflik kelompok menerpa dan perpecahan mengancam keutuhan, masyarakat tidak sedang mencari siapa yang paling nyaring bersuara atau paling kuat memenangkan golongan. Yang dicari dan dirindukan adalah figur “batu tungku”—sosok sepuh yang sabar menahan panas, meredam bara perpecahan, dan memastikan kehadiran serta wibawanya menjadi peneduh, bukan justru memantik gaduh di tengah kampung (huta).

Akar Krisis Ketokohan dan Politisasi Simbol

Baca Juga

Darurat “Vape Getar” dan Lingkaran Setan Narkotika: Menakar Ancaman Nyata Demografi Sumatera Utara

Jebakan Formalisme Hukum: Menakar Batas Substansi dan Kewenangan dalam Putusan MK Nomor 01/PHPU.PRES-XXIV/2026

Di Balik Putusan MK Ijazah Gibran: Membaca Masa Depan Penegakan Hukum dan Demokrasi Indonesi

Akar persoalan krisis ketokohan hari ini terletak pada pergeseran cara pandang kita terhadap legitimasi sosial dan kultural. Jabatan adat, senioritas biologis, bahkan ruang-ruang organisasi marga, kerap direduksi menjadi sekadar legalitas formal atau surat pengangkatan administratif. Akibatnya, muncul celah besar antara kuantitas “orang tua” dengan kualitas figur yang benar-benar marsahala.

Dalam peradaban yang kian transaksional, atribut-atribut artifisial sering kali diperlakukan sebagai instrumen kekuasaan. Gejala ini kian terasa ketika kepentingan pragmatis—seperti ambisi oknum politisi atau partai politik—mencoba menyusup ke dalam tubuh organisasi kemasyarakatan dan adat. Mereka berupaya mendulang keuntungan elektoral dengan cara memecah belah keanggotaan. Ruang-ruang yang semestinya menjadi tempat merajut persaudaraan justru diseret ke panggung kepentingan sempit untuk menguatkan golongan tertentu.

Ketika gesekan disengaja dan api konflik mulai disulap menjadi komoditas, tidak jarang figur senior yang seharusnya berdiri di tengah justru melunturkan integritasnya. Alih-alih menjadi penengah, sebagian oknum tetua malah tergiur memposisikan diri sebagai provokator demi keuntungan sesaat. Padahal, esensi kepemimpinan sesepuh—sebagaimana difilosofikan dalam etika relasi tradisional seperti manat mar-dongan tubu, elek mar-boru, somba mar-hula-hula—menuntut keseimbangan hidup yang berpijak pada kehati-hatian, kelembutan, dan penghormatan timbal balik.

Menilik Tanggung Jawab Moral: Menguasai atau Mengayomi?

Di sinilah kritik sosial yang elegan menemukan urgensinya. Kita perlu mempertanyakan kembali mentalitas para pemegang otoritas senior yang kerap menggunakan pengaruh untuk menguasai alih-alih mengayomi. Ketika wibawa ditopang oleh rasa takut, intimidasi, atau ambisi kelompok, ia kehilangan substansi keluhurannya.

Seorang figur senior sejati tidak selayaknya bertindak sebagai api yang membakar dan menghanguskan tatanan. Ia harus menjadi batu tungku: tidak selalu berambisi menjadi pusat perhatian, tetapi kokoh menahan beban dan panas demi memastikan energi sosial yang ada mendatangkan manfaat nyata. Ia mempertemukan yang renggang, meneduhkan yang panas, meluruskan yang menyimpang, dan menjaga simpul persaudaraan agar tidak hancur lebur di tengah jalan. Usia tua dan jabatan formal hanyalah instrumen administratif; tanpa keteladanan, keduanya kosong makna.

Menyongsong Warisan Sejati: Menjaga Martabat di Ruang Sejarah

Lima puluh tahun dari sekarang, anak cucu kita tidak akan lagi peduli siapa yang pernah menduduki kursi ketua, siapa yang memegang mandat organisasi, atau kelompok mana yang keluar sebagai pemenang dalam perebutan pengaruh. Yang tersisa di dalam memori kolektif hanyalah cerita tentang karakter: apakah seorang leluhur menjadi peneduh ketika orang berselisih, apakah ia mendengar sebelum menghakimi, dan apakah kehadirannya membuat kampung halaman atau organisasinya lebih teduh atau justru gaduh.

Pada akhirnya, harta dapat habis, masa bakti jabatan pasti berakhir, dan konstelasi kelompok senantiasa berubah. Yang abadi adalah nama dan rekam jejak martabat.

Mari jadikan momentum ini sebagai cermin bersama. Mari menolak segala bentuk politisasi sempit yang merusak tatanan persaudaraan kita. Jadilah Tua-Tua yang ketika namanya disebut, orang mengangguk hormat—bukan karena takut, bukan semata karena marga atau jabatan, melainkan karena marsahala-nya. Sebab pada akhirnya, kitalah yang memilih nama dan cerita seperti apa yang kelak ditinggalkan untuk dikenang oleh sejarah.(*)

 

Tags: #Dinamika Organisasi#Etika Relasi Batak#Filosofi Batu Tungku#Kepemimpinan Adat#Krisis Ketokohan Marga
SendShareTweet
Kembali

Kiki Syahnakri: Menata Ulang Reformasi di Tengah Darurat KKN

Lanjut

Polsek Medan Kota Tangkap Pengamen Pencuri HP di Kedai Aceh

Baca Juga

Darurat “Vape Getar” dan Lingkaran Setan Narkotika: Menakar Ancaman Nyata Demografi Sumatera Utara
News

Darurat “Vape Getar” dan Lingkaran Setan Narkotika: Menakar Ancaman Nyata Demografi Sumatera Utara

11 Oktober 2026
Jebakan Formalisme Hukum: Menakar Batas Substansi dan Kewenangan dalam Putusan MK Nomor 01/PHPU.PRES-XXIV/2026
Opini

Jebakan Formalisme Hukum: Menakar Batas Substansi dan Kewenangan dalam Putusan MK Nomor 01/PHPU.PRES-XXIV/2026

10 Oktober 2026
Di Balik Putusan MK Ijazah Gibran: Membaca Masa Depan Penegakan Hukum dan Demokrasi Indonesi
Hukum

Di Balik Putusan MK Ijazah Gibran: Membaca Masa Depan Penegakan Hukum dan Demokrasi Indonesi

7 Oktober 2026
Dari Jantung Medan untuk Indonesia: Menelisik Ketahanan Finansial dan Layanan Unggulan di Usia 70 Tahun Asuransi Astra
Ekonomi

Dari Jantung Medan untuk Indonesia: Menelisik Ketahanan Finansial dan Layanan Unggulan di Usia 70 Tahun Asuransi Astra

24 September 2026
Galasibot dan Palti Raja : Menata Masa Depan PPTSB melalui Kepemimpinan, Program, dan Regenerasi (Refleksi Menjelang Mubes XVI PPTSB Tahun 2026)
Budaya

Galasibot dan Palti Raja : Menata Masa Depan PPTSB melalui Kepemimpinan, Program, dan Regenerasi (Refleksi Menjelang Mubes XVI PPTSB Tahun 2026)

20 September 2026
Menagih Kedaulatan Manusia di Balik Megahnya Anggaran dan Paradoks “Kurikulum Robotik”
Opini

Menagih Kedaulatan Manusia di Balik Megahnya Anggaran dan Paradoks “Kurikulum Robotik”

17 September 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

HPN 2026

POPULER

  • Menanti Dua Dekade Air Bersih: Asa Baru Warga Griya Kencana Usai Disinggahi Walikota Medan Rico Waas

    Menanti Dua Dekade Air Bersih: Asa Baru Warga Griya Kencana Usai Disinggahi Walikota Medan Rico Waas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dugaan Pungutan Liar di MAN 2 Tanjung Pura Langkat Didorong ke Kejatisu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Warga  Desak Transparansi Kompensasi dan Legalitas Proyek Perumahan, Antonius Tumanggor Minta Pemko Medan Turun Tangan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rumah Dirusak Sekelompok Orang, Janda di Hamparan Perak Minta Polisi Tangkap Pelaku

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mengurai Teror Bom Molotov di Namorambe: Polisi Naikkan Status Penyelidikan dan Ancam Jemput Paksa Saksi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 Hari Tidur di Polsek Namorambe, Korban Teror Bom Molotov Tagih Ketegasan Polisi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DPD PATRIA Sumut Buka Kembali Ruang Dialog: Dari Kerinduan Kader Menuju Kaderisasi Politik Berbasis Pelayanan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
GALASIBOT.CO.ID

© 2015 GALASIBOT.CO.ID

Navigate Site

  • Beranda
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

Tidak ada
Tampilkan semua
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
    • Buku

© 2015 GALASIBOT.CO.ID

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In