DUMAI I galasibot.co.id — Kegemaran masyarakat Indonesia mengonsumsi mi instan tidak sekadar menjadi kebiasaan makan harian. Data terbaru World Instant Noodles Association menempatkan Indonesia pada posisi kedua dunia untuk total konsumsi.
Masyarakat Indonesia mencatatkan total konsumsi hingga 14,68 miliar porsi sepanjang tahun lalu. Angka ini menempatkan Indonesia persis di bawah gabungan wilayah China dan Hong Kong.
Pencapaian ini menegaskan kepopuleran mi instan sebagai makanan praktis pilihan utama publik. Selain itu, pertumbuhan angka konsumsi terus menunjukkan tren kenaikan stabil setiap tahunnya.
Pertumbuhan Tren dan Posisi Konsumsi Global
China dan Hong Kong masih mendominasi posisi teratas dunia dengan angka 43,8 miliar porsi. Namun, Indonesia menjadi konsumen terbesar dan paling unggul di kawasan Asia Tenggara.
India menyusul di peringkat ketiga dengan total konsumsi mencapai 8,32 miliar porsi harian. Sementara itu, Vietnam dan Jepang melengkapi jajaran lima besar konsumen mi instan dunia.
Tren konsumsi nasional terus merangkak naik sejak era pandemi pada tahun 2020 lalu. Masyarakat mengonsumsi 12,64 miliar porsi pada 2020 hingga melonjak menjadi 14,68 miliar porsi.
Tingkat Konsumsi Per Kapita Masyarakat
Mi instan kini bertransformasi menjadi bagian integral dari pola konsumsi harian masyarakat Asia. Setiap warga Indonesia rata-rata mengonsumsi sekitar 52 bungkus mi instan per tahun.
Angka konsumsi per kapita ini menempatkan Indonesia di peringkat kelima dunia secara rata-rata individu. Vietnam memimpin daftar rata-rata per kapita dengan angka 81 bungkus per orang.
Korea Selatan menempati urutan kedua dengan konsumsi mencapai 79 bungkus per tahun per warga. Selanjutnya, Thailand dan Nepal berada sedikit di atas rata-rata konsumsi per kapita Indonesia.
Potensi Bahaya Bagi Kesehatan Metabolik
Para ahli kesehatan menyarankan masyarakat untuk tidak mengonsumsi mi instan secara berlebihan harian. Kandungan natrium tinggi serta proses pembuatan dengan penggorengan menjadi perhatian utama para pakar.
Satu porsi mi instan mengandung natrium hingga 1.769 miligram atau hampir memenuhi batas harian. Asupan garam berlebih dapat memicu peningkatan tekanan darah secara drastis dalam jangka panjang.
Riset kesehatan membuktikan konsumsi mi berulang meningkatkan risiko timbulnya masalah jantung serta stroke. Selain itu, frekuensi konsumsi tinggi berpotensi kuat memicu kemunculan gangguan sindrom metabolik.(*)
Source:
Penulis berita : Wilfrid Sinaga










