GALASIBOT.CO.ID — OPINI — Dalam sebuah perkumpulan marga yang besar, kepemimpinan seharusnya tidak semata-mata berbicara tentang siapa yang berada di depan. Kepemimpinan adalah tentang bagaimana membawa seluruh anggota menuju tujuan bersama tanpa kehilangan persaudaraan.
Seorang pemimpin bukan hanya pemegang mandat. Ia juga penjaga kepercayaan, keteladanan, persatuan, dan arah organisasi.
Karena itu, menurut hemat penulis, menjadi pemimpin semestinya dipandang sebagai kesediaan mengemban amanah dan melayani kepentingan bersama, bukan sekadar kesempatan memperoleh kedudukan.
Persaudaraan Harus Tetap Menjadi Dasar
Sebagai saketurunan marga, perbedaan semestinya ditempatkan dalam bingkai kasih persaudaraan. Perbedaan pandangan dan pilihan merupakan bagian yang wajar dalam organisasi.
Namun, perbedaan tersebut jangan sampai membuat kita kehilangan rasa hormat sebagai saudara.
Dalam kearifan Batak, nilai Dalihan Na Tolu mengajarkan somba marhula-hula, elek marboru, manat mardongan tubu. Nilai itu mengandung pesan mengenai penghormatan, kasih sayang, dan kehati-hatian dalam menjaga hubungan antarsaudara.
Menurut penulis, nilai-nilai tersebut tidak seharusnya berhenti sebagai semboyan budaya. Nilai itu perlu hadir dalam cara kita berorganisasi, memilih pemimpin, menyampaikan pendapat, menerima perbedaan, dan menyelesaikan persoalan.
Ketika Kepentingan Bersama Lebih Utama
Ada pelajaran penting dari perjalanan sebuah perkumpulan marga besar yang disampaikan dalam bahan tulisan ini.
Seseorang berkeinginan ikut menjadi pemimpin. Dalam prosesnya, muncul pandangan dari sebagian pihak yang mempertanyakan kelayakannya, antara lain karena dukungan keluarga dan lingkungan marganya dinilai belum memadai.
Ia tidak memilih membalas pandangan tersebut dengan polemik. Ia juga tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk mempertajam perpecahan.
Pada akhirnya, ia memilih tidak mencalonkan diri.
Menurut penulis, keputusan semacam itu patut dilihat sebagai salah satu bentuk kedewasaan dalam berorganisasi. Mundur dari sebuah kontestasi tidak otomatis berarti seseorang tidak memiliki kemampuan atau keinginan untuk memimpin.
Dalam konteks yang digambarkan dalam bahan tulisan ini, keputusan tersebut justru dimaknai sebagai upaya memberikan ruang kepada calon yang memperoleh dukungan lebih kuat demi menjaga keutuhan perkumpulan dan membuka jalan bagi musyawarah menuju mufakat.
Di sinilah kepemimpinan memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar memenangkan kontestasi.
Seorang calon pemimpin yang matang bukan hanya memahami bagaimana memperoleh dukungan. Ia juga perlu memahami kapan kepentingan pribadi harus ditempatkan di bawah kepentingan organisasi.
Tiga Kemampuan Dasar Pemimpin
Dalam bahan tulisan ini, kepemimpinan situasional dikaitkan dengan tiga perilaku penting, yakni direction, supporting, dan delegation.
Direction berarti memberikan arah.
Organisasi membutuhkan pemimpin yang mampu menetapkan tujuan, menentukan prioritas, dan memberikan langkah yang jelas. Tanpa arah, program dapat berjalan sendiri-sendiri dan tujuan bersama menjadi kabur.
Supporting berarti memberikan kekuatan.
Pemimpin tidak cukup hanya memberikan instruksi. Ia perlu mendengar, berdialog, menguatkan, dan hadir ketika anggota menghadapi persoalan.
Dalam pandangan penulis, pemimpin bukan hanya orang yang berada di depan. Ia juga harus bersedia berdiri di tengah bersama anggota.
Sementara itu, delegation berarti memberikan kepercayaan.
Pemimpin tidak mungkin mengerjakan seluruh pekerjaan seorang diri. Karena itu, kewenangan dan tanggung jawab perlu diberikan kepada orang yang tepat sesuai kemampuan dan mandatnya.
Delegasi bukan berarti melepaskan tanggung jawab. Delegasi justru merupakan bentuk kepercayaan yang harus berjalan bersama akuntabilitas.
Dengan demikian, direction memberikan arah, supporting memberikan kekuatan, dan delegation memberikan kepercayaan.
Ketiganya bukan jenjang kekuasaan. Ketiganya merupakan kemampuan untuk membaca situasi, manusia, dan kebutuhan organisasi.
Kepercayaan Bukan Berarti Tanpa Kritik
Di atas kemampuan tersebut, terdapat modal lain yang sangat penting, yakni kepercayaan.
Seseorang yang telah dipilih melalui mekanisme musyawarah dan memperoleh mandat organisasi patut diberikan kesempatan menjalankan tugasnya.
Namun, kepercayaan tidak berarti menutup mata terhadap kekurangan.
Menurut penulis, kepercayaan justru harus berjalan bersama pengawasan, masukan, dan keberanian mengingatkan apabila terdapat hal-hal yang perlu diperbaiki.
Jika pada periode berikutnya muncul aspirasi menghadirkan kepemimpinan berbeda, aspirasi tersebut sebaiknya diproses melalui mekanisme yang telah disepakati dalam AD/ART perkumpulan.
Dengan demikian, regenerasi dapat berlangsung secara tertib tanpa harus mengorbankan persaudaraan.
Pencalonan Pemimpin dan Penghormatan terhadap Proses
Menjelang Musyawarah Besar (Mubes), proses pencalonan pemimpin sebaiknya tumbuh dari aspirasi anggota secara bottom-up.
Aspirasi tersebut dapat berkembang dari cabang dan wilayah hingga menjadi bagian pembahasan dalam Mubes.
Dukungan pribadi maupun kelompok merupakan dinamika organisasi. Namun, dukungan tersebut menurut hemat penulis tidak semestinya langsung diposisikan sebagai suara resmi perkumpulan sebelum memperoleh legitimasi melalui mekanisme organisasi.
Karena itu, seseorang yang dinilai memiliki kapasitas memimpin seyogianya tidak tergesa-gesa membangun deklarasi pencalonan atas nama perkumpulan sebelum Mubes mengambil keputusan.
Seorang yang sungguh-sungguh siap memimpin semestinya mampu menghormati proses.
Kualitas seorang calon pemimpin bukan hanya terlihat dari seberapa banyak dukungan yang dapat dikumpulkan. Kualitas itu juga terlihat dari kesediaannya menghormati aturan, proses, dan keputusan organisasi.
Mendukung Bukan Berarti Membenarkan
Sebagai bagian dari pegiat lingkungan berbasis budaya, penulis berpandangan bahwa pemimpin yang telah menerima mandat perlu dipercaya untuk menjalankan tugasnya.
Jika terdapat kekurangan, berikan masukan.
Jika muncul persoalan, cari jalan keluar bersama.
Jika terdapat perbedaan pandangan, tempuh dialog dengan kepala dingin dan penuh hormat.
Sebab, mendukung bukan berarti selalu membenarkan. Sebaliknya, mengingatkan bukan berarti melemahkan.
Kritik yang disampaikan dengan niat baik dapat menjadi kekuatan bagi pemimpin. Sebaliknya, kritik yang dibungkus kebencian, prasangka, atau kepentingan pribadi berisiko memperlebar jarak dan merusak kepercayaan.
Dalam organisasi kekeluargaan, kita tidak hanya membutuhkan orang yang pandai berbicara. Kita juga membutuhkan orang yang mampu menjaga hati, menahan diri, dan mengutamakan kepentingan bersama.
Jangan Biarkan Ambisi Mengalahkan Persaudaraan
Sebagai saketurunan marga, kita boleh memiliki calon yang berbeda. Kita boleh memiliki pandangan yang berbeda. Kita juga boleh menyampaikan kritik dan gagasan yang berbeda.
Namun, setelah seluruh proses selesai, kita tetaplah saudara.
Menurut penulis, inilah titik yang tidak boleh hilang dalam setiap kontestasi organisasi.
Jangan sampai proses mencari pemimpin justru membuat saudara saling menjauh. Jangan sampai sebuah kontestasi organisasi meninggalkan luka yang lebih panjang daripada masa jabatan seorang pemimpin.
Dalam konteks tersebut, filosofi Batak “Au do ho, ho do au; hita” menjadi relevan.
Engkau adalah aku, aku adalah engkau; kita adalah satu.
Makna tersebut mengingatkan bahwa hubungan kekerabatan tidak seharusnya dikalahkan oleh kepentingan sesaat. Kepemimpinan datang dan pergi. Periode organisasi berganti. Namun, persaudaraan harus tetap dijaga lintas generasi.
Mandat Adalah Amanah Bersama
Musyawarah telah selesai, amanah telah dimulai.
Yang terpilih adalah pemimpin bersama. Mandatnya adalah amanah bersama. Keberhasilannya menjadi tanggung jawab bersama.
Karena itu, setelah seorang pemimpin memperoleh mandat, seluruh anggota semestinya mengambil bagian dalam memastikan roda organisasi berjalan dengan baik.
Pemimpin membutuhkan dukungan. Anggota membutuhkan kepemimpinan yang dapat dipercaya. Organisasi membutuhkan aturan. Persaudaraan membutuhkan ketulusan.
Semua unsur tersebut harus berjalan bersama.
Menurut penulis, kepemimpinan yang sehat bukanlah kepemimpinan yang membuat anggota takut berbeda pendapat. Kepemimpinan yang sehat justru menciptakan ruang bagi perbedaan dan mengolahnya menjadi kekuatan bersama.
Pada akhirnya, pemimpin yang layak dipercaya bukan semata-mata mereka yang paling cepat mendapatkan dukungan atau paling kuat membangun pencitraan.
Pemimpin yang layak dipercaya adalah mereka yang mampu menghormati proses, memegang amanah, mendengarkan anggota, memberikan ruang kepada orang lain, menjaga persatuan, dan menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.
Sebab, dalam perkumpulan yang dibangun atas dasar darah, budaya, dan persaudaraan, jabatan hanyalah sementara. Hubungan persaudaraan adalah warisan yang harus dijaga lintas generasi.
Maka, sebelum bertanya “Siapa yang akan menjadi pemimpin?”, mungkin pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Sosok seperti apa yang layak kita percaya untuk memimpin?”
Menurut hemat penulis, dari pertanyaan itulah kepemimpinan yang bermartabat seharusnya dimulai.
9. KESIMPULAN OPINI
Kepemimpinan dalam marga seharusnya tidak ditempatkan semata sebagai kontestasi untuk memperoleh posisi. Kepemimpinan adalah amanah yang membutuhkan kemampuan memberi arah, memberikan dukungan, mendelegasikan kepercayaan, serta menjaga persatuan.
Dalam pandangan penulis, perbedaan pilihan tidak perlu menjadi alasan retaknya persaudaraan. Musyawarah, penghormatan terhadap aturan organisasi, kritik yang sehat, dan kesediaan menempatkan kepentingan bersama di atas ambisi pribadi merupakan bagian penting dari kepemimpinan yang bermartabat.(*)










