Kita mungkin masih mengenal kata tulang, ito, lae, bere, eda, atau amang. Namun, apakah kita masih memahami hubungan yang membuat sebutan itu bermakna?
Pertanyaan ini menjadi penting ketika kehidupan semakin berpindah ke ruang digital. Partuturan sering dipahami sebagai sistem sapaan kekerabatan. Padahal, di balik setiap sebutan terdapat pengetahuan tentang hubungan, posisi, penghormatan, kepantasan, dan tanggung jawab. Karena itu, partuturan dapat dibaca sebagai pengetahuan relasional.
Untuk memahaminya, kita perlu kembali kepada sumber. Bahasa dan teks Batak bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan pintu untuk membaca cara masyarakat Batak memahami manusia dan hubungan sosial. Karya para perintis kajian Batak, seperti H.N. van der Tuuk dan Johannes Warneck, penting sebagai sumber sejarah bahasa dan kebudayaan. Namun, sumber lama tidak boleh diperlakukan sebagai kata akhir. Ia harus dibaca secara kritis sesuai konteks sejarah dan perspektif zamannya.
Di sinilah saya mengusulkan Batakologi Reform: bukan usaha mengubah Batak, melainkan mengubah cara kita memahami Batak.
Kerangkanya bergerak dari:
sumber → bahasa → teks → konsep → adat → struktur sosial → sejarah → praktik → kritik → transformasi.
Dalam kerangka ini, partuturan tidak berdiri sendiri. Ia berkaitan dengan marga, tarombo, perkawinan, dan Dalihan Na Tolu. Seseorang mengenali hubungan melalui sistem kekerabatan dan partuturan; hubungan itu kemudian membawa konsekuensi terhadap perilaku.
Dalihan Na Tolu mengandung prinsip somba marhula-hula, manat mardongan tubu, dan elek marboru. Dalam pembacaan kontemporer, prinsip tersebut dapat ditafsirkan sebagai etika relasional: penghormatan, kehati-hatian menjaga hubungan, dan pengayoman. Istilah “etika relasional” merupakan kategori analitis masa kini, bukan istilah yang perlu dipaksakan sebagai istilah asli masyarakat Batak dahulu.
Persoalannya sekarang bukan apakah partuturan telah hilang. Ia masih hidup, tetapi bentuk, frekuensi, konteks, dan pewarisannya berubah. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah pengetahuan di baliknya masih dipahami?
Ruang digital menghadirkan tantangan baru. Kita dapat berbicara kepada siapa saja tanpa mengetahui usia, hubungan kekerabatan, atau konteks sosial lawan bicara. Kecepatan komunikasi sering mendahului pemahaman hubungan.
Di sinilah partuturan memperoleh relevansi baru.
Saya mengusulkan agar fungsi partuturan dibaca sebagai literasi relasional: kemampuan memahami siapa diri kita, dengan siapa kita berhubungan, bagaimana seharusnya berbicara, dan apa tanggung jawab kita terhadap orang lain.
Literasi ini tidak berarti memindahkan seluruh tata hubungan tradisional ke media sosial. Yang ditransformasikan adalah prinsipnya: menghormati martabat orang lain, memahami konteks, mengendalikan ucapan, dan menyadari konsekuensi tindakan.
Karena itu, pelestarian budaya tidak cukup diukur dari berapa banyak istilah yang masih dihafal. Pertanyaan yang lebih penting:
Berapa banyak nilai yang masih dihidupkan?
Kebudayaan kehilangan makna jika hanya menjadi hafalan. Sebaliknya, kebudayaan tetap hidup ketika nilai yang dikandungnya mampu menjawab persoalan zaman.
Di era digital, ketika setiap orang semakin mudah berbicara, kemampuan menempatkan diri justru semakin penting.
Partuturan mengingatkan bahwa manusia tidak pernah hadir sendirian. Ia selalu berada di antara orang lain.
Maka tugas kita bukan menjadikan partuturan sebagai museum, melainkan menemukan kembali pengetahuan yang dikandungnya, mengujinya secara kritis, dan mentransformasikannya bagi kehidupan baru.
Batakologi Reform bukan usaha mengubah Batak, melainkan usaha mengubah cara kita memahami Batak.
Mungkin, di tengah dunia yang semakin cepat berbicara, yang perlu kita pelajari kembali bukan hanya bagaimana berbicara, tetapi bagaimana menempatkan diri sebelum berbicara.(*)










