JAKARTA I galasibot.co.id — Perkembangan Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan kini merangsek ke hampir seluruh lini kehidupan manusia, mulai dari produktivitas kerja, dunia pendidikan, hingga cara masyarakat mengonsumsi informasi. Kendati menawarkan efisiensi dan kemudahan instan, disrupsi digital ini memicu kekhawatiran baru mengenai risiko ketergantungan kronis yang dapat mengikis kemampuan kognitif manusia.
Isu krusial tersebut mengemuka dalam diskusi publik bertajuk “AI, Manusia, dan Batas-Batas Ketergantungan Teknologi” yang dihelat melalui forum Think Talk. Diskusi mendalam yang dipandu oleh moderator Kristina Purba, S.Pd. ini menghadirkan praktisi hukum sekaligus pemerhati isu sosial-teknologi, Hanter Siregar, S.H., sebagai narasumber utama.
Krisis Verifikasi di Tengah Banjir Informasi
Dalam pemaparannya, Hanter menyoroti bahwa persoalan paling mendasar di era disrupsi informasi bukan lagi sekadar ketersediaan data, melainkan kredibilitas dan kebenaran dari informasi itu sendiri. Algoritma AI kerap menyajikan jawaban secara instan tanpa jaminan akurasi mutlak, yang jika ditelan mentah-mentah dapat menyesatkan publik.
Sebagai langkah preventif, Hanter mengampanyekan budaya saring sebelum sharing secara ketat. “Stop, share, cek dulu. Periksa sumbernya, kapan dibuat, sumber aslinya, serta data dan bukti yang mendukung,” ujarnya menegaskan pentingnya literasi verifikasi.
Menjadikan AI Partner, Bukan Pengganti Nalar
Lebih lanjut, Hanter mengingatkan agar masyarakat menempatkan AI secara proporsional—yakni sebagai instrumen pendukung atau partner untuk menguji gagasan, alih-alih menyerahkan kendali pengambilan keputusan sepenuhnya kepada mesin.
Sebagai analogi sederhana, ia mencontohkan fenomena penggunaan aplikasi navigasi digital seperti Google Maps. Seseorang yang sebenarnya menguasai rute perjalanan kerap kali mengabaikan pengalaman personalnya dan memilih patuh sepenuhnya pada petunjuk aplikasi, kendati data di lapangan menunjukkan anomali.
“Jangan sampai AI yang awalnya kita gunakan sebagai alat bantu justru secara perlahan mengambil alih kemampuan kita untuk menilai,” ucap Hanter memperingatkan pergeseran otonomi berpikir manusia.
Perspektif Kolektif dan Refleksi Identitas Manusia
Diskusi interaktif ini turut diperkaya oleh pandangan dari para peserta, di antaranya Alboin Samosir, Hendra Sinurat, dan Friska Liska Sihombing. Ketiganya menyoroti pergeseran perilaku sosial akibat adaptasi teknologi serta mendesak perlunya penguatan nalar kritis di tengah gempuran otomatisasi.
Pembahasan kian mendalam tatkala dihubungkan dengan refleksi budaya pop, salah satunya melalui narasi film Mickey 17. Film tersebut mengeksplorasi pertanyaan filosofis mengenai esensi identitas manusia ketika eksistensi fisik dan ingatan dapat direplikasi melalui sistem digital.
Menanggapi hal tersebut, Hanter berpandangan bahwa manusia seutuhnya tidak sekadar dibentuk oleh tumpukan data atau kode biner. Ada dimensi eksistensial yang tidak bisa direplikasi oleh mesin, seperti pengalaman hidup, kedalaman emosi, relasi sosial, konteks budaya, dan kebijaksanaan moral yang lahir sepanjang hayat.
Tantangan Masa Depan: Mempertahankan Kemanusiaan
Mengakhiri sesinya, Hanter menekankan bahwa tantangan terbesar era kecerdasan buatan bukan semata-mata mengukur seberapa canggih teknologi meniru kecerdasan manusia, melainkan menguji komitmen moral umat manusia itu sendiri.
“AI seharusnya memperkuat kemampuan manusia, bukan menggantikannya. Tantangan terbesar AI mungkin bukan apakah teknologi dapat berpikir seperti manusia, melainkan apakah manusia masih bersedia berpikir sebagai manusia,” pungkasnya.(*)










