• Beranda
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
Kamis, September 24, 2026
  • Login
GALASIBOT.CO.ID
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
    • Buku
Tidak ada
Tampilkan semua
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
    • Buku
Tidak ada
Tampilkan semua
GALASIBOT.CO.ID
Tidak ada
Tampilkan semua
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
Home News

Menjaga Nalar di Era Kecerdasan Buatan: Jangan Sampai Teknologi Ambil Alih Cara Berpikir

Redaksi Galasibot.co.id
23 September 2026
/ News, Ragam
0 0
0
Menjaga Nalar di Era Kecerdasan Buatan: Jangan Sampai Teknologi Ambil Alih Cara Berpikir
Share on FacebookShare on Twitter

Baca Juga

Rumah Dirusak Sekelompok Orang, Janda di Hamparan Perak Minta Polisi Tangkap Pelaku

Wali Kota Medan Rico Waas Dukung Atlet Disabilitas Intelektual Menuju PESONAS II 2026

PKH Medan Makmur Resmi Disalurkan, 10 Ribu Lansia dan Disabilitas Terima Rp800 Ribu

JAKARTA I galasibot.co.id — Perkembangan Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan kini merangsek ke hampir seluruh lini kehidupan manusia, mulai dari produktivitas kerja, dunia pendidikan, hingga cara masyarakat mengonsumsi informasi. Kendati menawarkan efisiensi dan kemudahan instan, disrupsi digital ini memicu kekhawatiran baru mengenai risiko ketergantungan kronis yang dapat mengikis kemampuan kognitif manusia.
Isu krusial tersebut mengemuka dalam diskusi publik bertajuk “AI, Manusia, dan Batas-Batas Ketergantungan Teknologi” yang dihelat melalui forum Think Talk. Diskusi mendalam yang dipandu oleh moderator Kristina Purba, S.Pd. ini menghadirkan praktisi hukum sekaligus pemerhati isu sosial-teknologi, Hanter Siregar, S.H., sebagai narasumber utama.

Krisis Verifikasi di Tengah Banjir Informasi

Dalam pemaparannya, Hanter menyoroti bahwa persoalan paling mendasar di era disrupsi informasi bukan lagi sekadar ketersediaan data, melainkan kredibilitas dan kebenaran dari informasi itu sendiri. Algoritma AI kerap menyajikan jawaban secara instan tanpa jaminan akurasi mutlak, yang jika ditelan mentah-mentah dapat menyesatkan publik.
Sebagai langkah preventif, Hanter mengampanyekan budaya saring sebelum sharing secara ketat. “Stop, share, cek dulu. Periksa sumbernya, kapan dibuat, sumber aslinya, serta data dan bukti yang mendukung,” ujarnya menegaskan pentingnya literasi verifikasi.

Menjadikan AI Partner, Bukan Pengganti Nalar

Lebih lanjut, Hanter mengingatkan agar masyarakat menempatkan AI secara proporsional—yakni sebagai instrumen pendukung atau partner untuk menguji gagasan, alih-alih menyerahkan kendali pengambilan keputusan sepenuhnya kepada mesin.
Sebagai analogi sederhana, ia mencontohkan fenomena penggunaan aplikasi navigasi digital seperti Google Maps. Seseorang yang sebenarnya menguasai rute perjalanan kerap kali mengabaikan pengalaman personalnya dan memilih patuh sepenuhnya pada petunjuk aplikasi, kendati data di lapangan menunjukkan anomali.
“Jangan sampai AI yang awalnya kita gunakan sebagai alat bantu justru secara perlahan mengambil alih kemampuan kita untuk menilai,” ucap Hanter memperingatkan pergeseran otonomi berpikir manusia.

Perspektif Kolektif dan Refleksi Identitas Manusia

Diskusi interaktif ini turut diperkaya oleh pandangan dari para peserta, di antaranya Alboin Samosir, Hendra Sinurat, dan Friska Liska Sihombing. Ketiganya menyoroti pergeseran perilaku sosial akibat adaptasi teknologi serta mendesak perlunya penguatan nalar kritis di tengah gempuran otomatisasi.
Pembahasan kian mendalam tatkala dihubungkan dengan refleksi budaya pop, salah satunya melalui narasi film Mickey 17. Film tersebut mengeksplorasi pertanyaan filosofis mengenai esensi identitas manusia ketika eksistensi fisik dan ingatan dapat direplikasi melalui sistem digital.
Menanggapi hal tersebut, Hanter berpandangan bahwa manusia seutuhnya tidak sekadar dibentuk oleh tumpukan data atau kode biner. Ada dimensi eksistensial yang tidak bisa direplikasi oleh mesin, seperti pengalaman hidup, kedalaman emosi, relasi sosial, konteks budaya, dan kebijaksanaan moral yang lahir sepanjang hayat.

Tantangan Masa Depan: Mempertahankan Kemanusiaan

Mengakhiri sesinya, Hanter menekankan bahwa tantangan terbesar era kecerdasan buatan bukan semata-mata mengukur seberapa canggih teknologi meniru kecerdasan manusia, melainkan menguji komitmen moral umat manusia itu sendiri.
“AI seharusnya memperkuat kemampuan manusia, bukan menggantikannya. Tantangan terbesar AI mungkin bukan apakah teknologi dapat berpikir seperti manusia, melainkan apakah manusia masih bersedia berpikir sebagai manusia,” pungkasnya.(*)
Tags: #Artificial Intelligence#Hanter Siregar#Ketergantungan Teknologi#Literasi Digital#Think Talk
SendShareTweet
Kembali

Wali Kota Medan Rico Waas Dukung Atlet Disabilitas Intelektual Menuju PESONAS II 2026

Lanjut

Rumah Dirusak Sekelompok Orang, Janda di Hamparan Perak Minta Polisi Tangkap Pelaku

Baca Juga

Rumah Dirusak Sekelompok Orang, Janda di Hamparan Perak Minta Polisi Tangkap Pelaku
News

Rumah Dirusak Sekelompok Orang, Janda di Hamparan Perak Minta Polisi Tangkap Pelaku

23 September 2026
Wali Kota Medan Rico Waas Dukung Atlet Disabilitas Intelektual Menuju PESONAS II 2026
Medan

Wali Kota Medan Rico Waas Dukung Atlet Disabilitas Intelektual Menuju PESONAS II 2026

23 September 2026
PKH Medan Makmur Resmi Disalurkan, 10 Ribu Lansia dan Disabilitas Terima Rp800 Ribu
Medan

PKH Medan Makmur Resmi Disalurkan, 10 Ribu Lansia dan Disabilitas Terima Rp800 Ribu

23 September 2026
Sedia Bahan Pokok Murah, Pemko Binjai Gelar Gerakan Pangan Murah di Bazar TNI
Binjai

Sedia Bahan Pokok Murah, Pemko Binjai Gelar Gerakan Pangan Murah di Bazar TNI

23 September 2026
DLH Medan Tegaskan Pengadaan Alat Berat Rp11,4 Miliar Sesuai E-Katalog LKPP
Medan

DLH Medan Tegaskan Pengadaan Alat Berat Rp11,4 Miliar Sesuai E-Katalog LKPP

23 September 2026
Kualitas Udara Medan Terpantau Baik Melalui Tiga Stasiun AQMS 24 Jam
Medan

Kualitas Udara Medan Terpantau Baik Melalui Tiga Stasiun AQMS 24 Jam

23 September 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

HPN 2026

POPULER

  • Rekonsiliasi Jakarta Raya: Saatnya Menguatkan BPH dan Menjaga Marwah PPTSB

    Rekonsiliasi Jakarta Raya: Saatnya Menguatkan BPH dan Menjaga Marwah PPTSB

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 Hari Tidur di Polsek Namorambe, Korban Teror Bom Molotov Tagih Ketegasan Polisi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Konsolidasi Marga Sinaga: Sairon Deklarasi Maju Calon Ketum PPTSB 2026-2030

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dugaan Pungutan Liar di MAN 2 Tanjung Pura Langkat Didorong ke Kejatisu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Eksklusif Wawancara Yohanes Suhardin: Dari Ruang Kuliah Menuju Panggung Advokasi Demi Penegakan Hukum Tanpa Politik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Melihat Titik Temu Migrasi “Ompu Jorang Raja Sinaga” Dengan “Pomparan Ompu Jorang Raja Sinaga”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Koperasi Merah Putih di Taput Mandek, Tumonggi: Jangan Jadi Program di Atas Kertas!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
GALASIBOT.CO.ID

© 2015 GALASIBOT.CO.ID

Navigate Site

  • Beranda
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

Tidak ada
Tampilkan semua
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
    • Buku

© 2015 GALASIBOT.CO.ID

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In