• Beranda
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
Rabu, Agustus 19, 2026
  • Login
GALASIBOT.CO.ID
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
    • Buku
Tidak ada
Tampilkan semua
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
    • Buku
Tidak ada
Tampilkan semua
GALASIBOT.CO.ID
Tidak ada
Tampilkan semua
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
Home Opini

“Persembahan” yang Terseret ke Panggung Politik  

Oleh: Joan Berlin Damanik

Redaksi Galasibot.co.id
22 November 2025
/ Opini
0 0
0
“Persembahan” yang Terseret ke Panggung Politik   
Share on FacebookShare on Twitter

Perayaan Natal, dalam tradisi Kristen, selalu dipahami sebagai ruang spiritual yang menghadirkan kedamaian, ketenangan, dan kekhusyukan. Ia merupakan momen reflektif yang menghubungkan umat pada pengalaman inkarnasi: kehadiran Ilahi yang sederhana, sunyi, dan penuh kasih. Namun, Natal Nasional tahun ini menghadirkan keganjilan yang sulit diabaikan. Persembahan jemaat—yang secara teologis merupakan ekspresi syukur dan kebebasan batin—tiba-tiba ditarik masuk ke dalam orbit negara. Bukan hanya sekadar koordinasi, tetapi berubah menjadi bagian dari agenda panggung politik dan diplomasi. Keterlibatan seorang menteri yang selama ini minim rekam jejak dalam isu intoleransi menambah ironi situasi tersebut.

Argumen yang digunakan adalah kemanusiaan untuk Palestina. Secara moral, solidaritas itu tentu tidak dapat diperdebatkan. Namun dari perspektif etika politik, framing yang terlalu rapi justru memunculkan pertanyaan mengenai motif yang tersembunyi. Ketika negara mulai menentukan arah persembahan gereja, maka tindakan itu bukan lagi sekadar ajakan kemanusiaan, melainkan indikasi penempatan kekuasaan di ruang sakral yang seharusnya otonom. Gereja sebagai institusi keagamaan memiliki hak konstitusional untuk mengatur liturginya sendiri. Intervensi dalam bentuk apa pun, bahkan yang dibungkus narasi mulia, tetap merupakan bentuk penetrasi politik ke wilayah yang dilindungi oleh prinsip kebebasan beragama.

Baca Juga

Menjaga Rumah Besar PPTSB: Ketika Etika Berorganisasi Teruji di Era Digital

Partuturan di Era Digital: Menemukan Kembali Cara Menempatkan Diri

Menjaga Integritas Hukum dan Keamanan Publik di Tengah Dinamika Nasional

Akibatnya, ibadah yang mestinya berlangsung khusyuk berubah menyerupai konferensi pers. Persembahan—yang seharusnya merupakan simbol spiritualisasi ekonomi umat—bergeser menjadi instrumen diplomasi negara. Natal yang seharusnya merujuk pada palungan, simbol kesederhanaan dan pembebasan dari struktur kuasa duniawi, kini justru diarahkan ke panggung publik yang sarat simbol politik. Dalam teori hubungan negara–agama, tindakan seperti ini merupakan gejala politisasi agama, yaitu ketika kekuasaan memanfaatkan ruang keagamaan untuk membangun legitimasi simbolik.

Konstitusi Indonesia secara eksplisit menyatakan bahwa negara menjamin kebebasan tiap-tiap warga negara dalam menjalankan ibadat. Penjaminan bukan berarti pengendalian. Begitu negara mulai menentukan isi persembahan, pertanyaannya tidak lagi teologis, tetapi konstitusional: sampai sejauh mana negara boleh memengaruhi liturgi dan praktik iman suatu komunitas? Jika hari ini persembahan dapat diarahkan oleh negara, maka secara teoritis besok tema khotbah, isi liturgi, hingga agenda pastoral pun berpotensi menjadi objek intervensi.

Prinsipnya sederhana: bantuan untuk Palestina dapat dilakukan tanpa menyentuh altar. Negara dapat menghimpun solidaritas tanpa menginjak ruang sakral yang hanya boleh diatur oleh iman dan tata gerejawi. Kesucian tidak boleh dipentaskan sebagai strategi politik. Ibadah tidak boleh dijadikan kendaraan pencitraan. Persembahan adalah wilayah otonom umat, bukan instrumen diplomasi negara.

Dalam konteks demokrasi, menjaga batas antara ruang keagamaan dan panggung politik bukan hanya soal etika, tetapi soal keberlangsungan pluralisme. Ketika garis ini dikaburkan, risiko terbesar bukan hanya bagi gereja, tetapi bagi seluruh masyarakat beriman yang akan kehilangan jaminan konstitusional atas kebebasan mereka.(*)

 

 

 

Tags: #IntervensiNegaradalamIbadah#JoanBerlinDamanik#OpiniKeagamaan#OpiniNatalNasional2025#PanggungPolitikdalamPerayaanAgama#PersembahanGerejadanPolitik
SendShareTweet
Kembali

Polrestabes Medan Musnahkan Narkoba Senilai Rp50 Miliar dari 212 Tersangka dalam Operasi 42 Hari

Lanjut

Sat Lantas Polres Tanah Karo Gencarkan Sosialisasi Operasi Zebra Toba 2025 di Tugu Bambu Runcing

Baca Juga

Menjaga Rumah Besar PPTSB: Ketika Etika Berorganisasi Teruji di Era Digital
Opini

Menjaga Rumah Besar PPTSB: Ketika Etika Berorganisasi Teruji di Era Digital

18 Agustus 2026
Partuturan di Era Digital: Menemukan Kembali Cara Menempatkan Diri
Opini

Partuturan di Era Digital: Menemukan Kembali Cara Menempatkan Diri

17 Agustus 2026
Menjaga Integritas Hukum dan Keamanan Publik di Tengah Dinamika Nasional
Opini

Menjaga Integritas Hukum dan Keamanan Publik di Tengah Dinamika Nasional

16 Agustus 2026
Utang Membesar, Dapur MBG Bermasalah: Saat Negara Harus Memilih Prioritas
Opini

Utang Membesar, Dapur MBG Bermasalah: Saat Negara Harus Memilih Prioritas

14 Agustus 2026
Ketika Rakyat Merasa Tersisih di Tanah Airnya Membedah Paradoks Pertumbuhan Ekonomi, Anomali Keadilan Fiskal, dan Melemahnya Daya Beli di Daerah
Opini

Ketika Rakyat Merasa Tersisih di Tanah Airnya Membedah Paradoks Pertumbuhan Ekonomi, Anomali Keadilan Fiskal, dan Melemahnya Daya Beli di Daerah

13 Agustus 2026
Sekolah untuk Membebaskan, Bukan untuk Menjinakkan
Opini

Sekolah untuk Membebaskan, Bukan untuk Menjinakkan

13 Agustus 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

HPN 2026

POPULER

  • Rumah Warga di Depan SMA Negeri 1 Namorambe Diduga Dilempar Bom Molotov, Polisi Selidiki Pelaku

    Rumah Warga di Depan SMA Negeri 1 Namorambe Diduga Dilempar Bom Molotov, Polisi Selidiki Pelaku

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukti Otentik Hak Ulayat: Sejarah Enklave Marga Sinaga di Simalungun dan Perjuangan Ruang Hidup Masyarakat Adat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Meriahkan HUT ke-81 RI, Karang Taruna Desa Pollung Gelar Lomba Antardusun

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Caroline Nababan Raih Emas dan Top Score ASMC 2026, The PRINT Apresiasi Prestasi Anak Sumut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gubernur Banten Andra Soni Ajak Warga Dukung Felicia br Sihombing di The Icon Indonesia SCTV

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Rakyat Merasa Tersisih di Tanah Airnya Membedah Paradoks Pertumbuhan Ekonomi, Anomali Keadilan Fiskal, dan Melemahnya Daya Beli di Daerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • THE PRINT Gelar Peluncuran Buku Bilingual Prabowonomics dan Prabowonomics Summit 2026 di JICC

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
GALASIBOT.CO.ID

© 2015 GALASIBOT.CO.ID

Navigate Site

  • Beranda
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

Tidak ada
Tampilkan semua
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
    • Buku

© 2015 GALASIBOT.CO.ID

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In