JAKARTA | galasibot.co id — Penutupan sidang Federasi Konferensi Waligereja Asia (FABC) di Jakarta menghadirkan momen bersejarah yang meneguhkan komitmen kuat terhadap kerukunan antaragama. Rangkaian acara penutupan ini diisi dengan perayaan Ekaristi di Katedral Santa Maria Diangkat ke Surga Jakarta, dilanjutkan dengan kunjungan simbolis menuju Masjid Istiqlal melalui Terowongan Silaturahmi.
Kardinal David menyampaikan bahwa dasar kebersamaan umat manusia jauh lebih besar daripada sekat pemisah. “Adanya penghargaan bersama terhadap martabat manusia, keadilan sosial, dan iman kepada Tuhan, jadi sebenarnya ada lebih banyak unsur yang mempersatukan kita daripada yang memisahkan kita,” ujarnya.
Inspirasi biblis sidang ini merujuk pada perkataan Yesus kepada Natanael dalam Injil Yohanes, yaitu “Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar.” Kardinal David mengaitkan pesan tersebut dengan panggilan FABC untuk aktif berdialog dengan agama, budaya, kaum miskin, dan kelestarian ciptaan. Gereja-gereja Asia diharapkan mampu menjadi motor penggerak persekutuan, harapan, serta pelayanan bagi masyarakat luas.
Penyelenggaraan sidang agung ini menyusul sejumlah tonggak penting bagi Gereja Katolik global, seperti perayaan 50 tahun FABC di Bangkok, Sinode global tentang Sinodalitas, dan dorongan kuat terhadap pertobatan misioner. Senada dengan hal tersebut, Uskup Pangkalpinang, Mgr. Adrianus Sunarko OFM, menilai bahwa penyeberangan melalui terowongan usai Misa penutupan menjadi lambang nyata keharmonisan, khususnya dengan umat Islam serta penganut agama lainnya.
Sebelumnya, Paus Fransiskus juga pernah mengunjungi terowongan ikonik ini pada September 2024 silam saat berjumpa dengan para pemimpin lintas agama di Masjid Istiqlal guna mengkampanyekan persaudaraan global.
Menteri Agama Republik Indonesia sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar, menyambut hangat kehadiran para pemimpin Gereja Katolik se-Asia tersebut. Ia menegaskan bahwa momen ini memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat perjumpaan dialog lintas iman.
“Saya percaya dialog antaragama tidak dapat berhenti pada seremoni atau pertemuan formal. Dialog harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, melalui saling menghormati, saling melindungi, dan bekerja bersama untuk menyelesaikan masalah-masalah bersama. Kerukunan sejati lahir dari ketulusan hati, bukan semata-mata dari kesepakatan di atas kertas,” ungkap Nasaruddin.
Ia menambahkan bahwa dunia kontemporer mendambakan teladan nyata ketimbang sekadar retorika seminar. Indonesia dinilai berhasil membuktikan bahwa keharmonisan hidup berdampingan bukanlah sebuah utopia, melainkan realitas yang dapat dirawat tatkala keberagaman dipandang sebagai anugerah.
Selama lima dekade perjalanannya, FABC secara konsisten mengusung kerangka kerja dialog inklusif. Di tengah tantangan global masa kini—seperti krisis iklim, migrasi, pengungsian, hingga konflik regional—para pemimpin Gereja Asia bersama tokoh-tokoh lintas agama terus berupaya merajut solusi kemanusiaan yang berakar pada kasih dan kepedulian bersama.(*)










