• Beranda
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
Minggu, September 27, 2026
  • Login
GALASIBOT.CO.ID
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
    • Buku
Tidak ada
Tampilkan semua
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
    • Buku
Tidak ada
Tampilkan semua
GALASIBOT.CO.ID
Tidak ada
Tampilkan semua
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
Home Budaya

Dayang Nan Tujuh Menggetarkan Gedung Kesenian Jakarta : Membawa Sakralitas Melayu Deli ke Panggung Festival Bedhayan VI 2026

Redaksi Galasibot.co.id
10 Agustus 2026
/ Budaya
0 0
0
Dayang Nan Tujuh Menggetarkan Gedung Kesenian Jakarta : Membawa Sakralitas Melayu Deli ke Panggung Festival Bedhayan VI 2026

“Dayang Nan Tujuh” saat ditampilkan dalam Festival Bedhayan VI Tahun 2026

Share on FacebookShare on Twitter

Baca Juga

Sinergi PPTSB dan Pemkab Samosir: Mengikat Budaya, Mendorong Ekonomi, dan Membangun Pariwisata Global

Hadiri Pelantikan DPC Hima Lubis, Wakil Wali Kota Medan Ajak Pengurus Perkuat Kepedulian Sosial

Perkuat Ekonomi Kreatif Berbasis Budaya, Airin Rico Waas Resmikan Gallery Torose

JAKARTA I galasibot.co.id — Sakralitas budaya Melayu Deli berhasil dihadirkan ke panggung nasional melalui pertunjukan “Dayang Nan Tujuh” dalam Festival Bedhayan VI Tahun 2026. Pertunjukan tersebut digelar di Gedung Kesenian Jakarta, Minggu (8/8/2026) dan menjadi salah satu penampilan yang mendapat perhatian kuat dari penonton serta pemerhati seni.

Festival Bedhayan VI mengusung tema “Memayu Hayuning Bawana”, sebuah falsafah Jawa yang dimaknai sebagai upaya menjaga keharmonisan dan keseimbangan dunia. Sedikitnya 16 pertunjukan seni tradisi disajikan sejak siang hingga malam dalam ruang pertunjukan tersebut.

Pembukaan festival diawali dengan pemanggilan sejumlah tokoh Nusantara yang dikenal memiliki perhatian terhadap pelestarian dan pengembangan kebudayaan. Salah satunya adalah Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas, yang disebut turut memberikan perhatian terhadap keberlangsungan kebudayaan sebagai bagian dari identitas masyarakat.

Sebagian besar karya yang ditampilkan dibangun dengan corak filosofis Jawa yang kuat. Kelembutan kosmologi Jawa terasa melalui gerak tari, seni suara, dan musik yang disajikan.

Namun, suasana berbeda kemudian dihadirkan oleh karya dari Medan.

“Dayang Nan Tujuh” Membawa Ruang Sakral Melayu

“Dayang Nan Tujuh” dibawakan oleh sanggar binaan Bidang Kebudayaan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Medan. Sejak pertunjukan dimulai, suasana Gedung Kesenian Jakarta perlahan dibuat hening.

Keheningan tersebut kemudian dipecahkan oleh tepuk tangan panjang seusai pertunjukan berakhir.

Karya itu tidak hanya diposisikan sebagai pertunjukan tari. Lebih jauh, “Dayang Nan Tujuh” dihadirkan sebagai representasi kearifan lokal Melayu Kota Medan yang berakar pada sejarah dan identitas kebudayaan Melayu Deli.

Konsep Dayang Nan Tujuh ditempatkan dalam ruang ritus dan sakralitas kemelayuan. Tujuh anak dara dihadirkan sebagai sosok dayang yang merepresentasikan petala langit dalam pemahaman Melayu klasik sekaligus penjuru bumi dalam anasir kosmologi Melayu klasik.

Dalam kepercayaan tradisional, tujuh dayang tersebut dikisahkan dapat dilengkapi menjadi delapan melalui kehadiran unsur dari alam halus. Konsep tersebut menjadi simbol hubungan antara manusia, alam, dan jagat kosmologi yang diyakini dalam tradisi Melayu.

Dengan demikian, pertunjukan tidak hanya dibangun melalui koreografi. Makna simbolik juga diperkuat melalui elemen ritual yang digunakan sepanjang pementasan.

Sirih, Setanggi, dan Busana Melayu Dihidupkan

Nuansa sakral diperkuat melalui penggunaan sejumlah properti ritual, termasuk sirih dan setanggi. Para penari ditampilkan sebagai anak dara Melayu dengan kebaya labuh dan sanggul Melayu.

Visual tersebut sekaligus dihadirkan untuk menghidupkan kembali citra perempuan Melayu dalam ruang tradisi.

Kekuatan pertunjukan kemudian diperluas melalui sinandong dedeng Deli yang disusun dalam tujuh bait. Musik pengiring dimainkan dengan gaya sinandong lama dan didukung berbagai instrumen tradisional Melayu.

Gendang dua muka, pakpung, dol, ketipung, canang, serunai, bangsi, arbab, dan gong digunakan untuk membangun karakter bunyi pertunjukan.

Perpaduan antara gerak, suara, musik, busana, properti, dan suasana ritus akhirnya membentuk sebuah pengalaman artistik yang lebih luas. Penonton tidak hanya disuguhi sebuah tari, tetapi juga diajak memasuki imajinasi tentang ruang kebudayaan Melayu Deli yang tua dan sarat makna.

Sakralitas Tari Melayu Mendapat Perhatian

Pertunjukan tersebut dipimpin oleh M. Muhar Omtatok, yang juga berperan sebagai narasumber dan penulis sinandong. Tata tari dipercayakan kepada Mateus Suwarsono, sementara tata musik digarap oleh Zumaidi Abdullah.

Dukungan dari Bidang Kebudayaan pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Medan diberikan sejak tahap persiapan hingga pertunjukan berlangsung.

Respons terhadap “Dayang Nan Tujuh” kemudian menjadi catatan penting dalam festival tersebut. Seusai pementasan, sejumlah pakar tari dan seni pertunjukan berkumpul untuk membicarakan karya yang baru saja disaksikan.

Dimensi sakral yang dianggap jarang ditemukan dalam pertunjukan Melayu kontemporer menjadi salah satu hal yang mendapat perhatian.

Selama ini, tari Melayu lebih sering ditempatkan dalam ruang pertunjukan yang bersifat hiburan. Melalui “Dayang Nan Tujuh”, kemungkinan lain justru diperlihatkan.

Tari Melayu dapat digunakan sebagai medium untuk membaca kembali hubungan manusia dengan alam, leluhur, dan ruang kosmologis.

Elly D. Luthan: “Saya Dibawa ke Alam Deli”

Respons emosional juga disampaikan koreografer senior Elly D. Luthan, yang hadir menyaksikan pertunjukan tersebut.

Kekaguman terhadap dimensi sakral yang dihadirkan terlihat dari respons emosionalnya seusai pertunjukan. Dengan suara bergetar dan air mata yang tak tertahan, Elly menyampaikan apresiasinya.

“Saya menemukan sakralitas tari Melayu yang benar-benar matang dalam Dayang Nan Tujuh. Saat sinandong itu, saya tidak bisa menahan tangis. Saya dibawa ke alam Deli beberapa abad lalu. Saya kagum atas pertunjukan ini.”

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa kekuatan “Dayang Nan Tujuh” tidak hanya terletak pada keindahan koreografi dan musik.

Atmosfer kebudayaan justru menjadi kekuatan utama yang dirasakan penonton. Melalui atmosfer tersebut, pertunjukan seolah mampu membawa penonton keluar dari ruang pertunjukan dan memasuki kembali ruang ingatan kolektif masyarakat Melayu Kota Medan.

Melayu Deli Berdialog dengan Tradisi Nusantara

Kehadiran “Dayang Nan Tujuh” dalam Festival Bedhayan VI memiliki arti penting bagi penguatan kebudayaan lokal di tingkat nasional.

Pertunjukan tersebut tidak hanya diposisikan sebagai representasi Kota Medan. Tradisi Melayu Deli juga diperlihatkan mampu berdialog dengan tradisi Nusantara lainnya tanpa harus kehilangan akar identitasnya.

Di tengah dominasi kelembutan kosmologi Jawa yang ditampilkan dalam festival, kosmologi Melayu Deli justru dihadirkan melalui bahasa artistiknya sendiri.

Perbedaan tersebut tidak ditempatkan sebagai pertentangan. Sebaliknya, keberagaman itu diperlihatkan sebagai bagian dari kekayaan pengetahuan lokal yang membentuk kebudayaan Nusantara.

Setiap tradisi memiliki cara tersendiri dalam memandang hubungan manusia dengan alam, leluhur, dan semesta. Karena itu, perjumpaan antarkebudayaan di atas panggung justru dapat memperluas pemahaman tentang Indonesia sebagai ruang kebudayaan yang majemuk.

Dari Medan untuk Panggung Nasional

Pada akhirnya, “Dayang Nan Tujuh” tidak hanya menjadi pertunjukan yang dibawa dari Medan ke Jakarta. Karya tersebut telah menjadi pernyataan kebudayaan bahwa tradisi Melayu Deli masih memiliki ruang untuk berbicara di panggung nasional.

Bahasa budaya yang tua, sakral, lembut, dan penuh simbol telah dihadirkan melalui sebuah pertunjukan yang tetap dapat diterima oleh penonton masa kini.

Tepuk tangan panjang yang diberikan seusai pementasan menjadi penanda bahwa tradisi yang digali dari akar terdalamnya masih mampu menyentuh penonton lintas generasi dan kebudayaan.(*)

 

Source: Penulis berita : Wilfrid Sinaga
Tags: #Budaya Melayu Deli#Dayang Nan Tujuh#Festival Bedhayan VI 2026#Kebudayaan Nusantara#Seni Tradisi Medan
SendShareTweet
Kembali

Sebanyak 193 Pasien Jalani Operasi Gratis dalam Bakti Kesehatan HUT Ke-1 Kodam XIX/Tuanku Tambusai di Pekanbaru

Lanjut

Malam Minggu Bersama Warga Medan Tembung, Rico Waas Serap Aspirasi

Baca Juga

Sinergi PPTSB dan Pemkab Samosir: Mengikat Budaya, Mendorong Ekonomi, dan Membangun Pariwisata Global
Budaya

Sinergi PPTSB dan Pemkab Samosir: Mengikat Budaya, Mendorong Ekonomi, dan Membangun Pariwisata Global

20 September 2026
Hadiri Pelantikan DPC Hima Lubis, Wakil Wali Kota Medan Ajak Pengurus Perkuat Kepedulian Sosial
Budaya

Hadiri Pelantikan DPC Hima Lubis, Wakil Wali Kota Medan Ajak Pengurus Perkuat Kepedulian Sosial

20 September 2026
Perkuat Ekonomi Kreatif Berbasis Budaya, Airin Rico Waas Resmikan Gallery Torose
Budaya

Perkuat Ekonomi Kreatif Berbasis Budaya, Airin Rico Waas Resmikan Gallery Torose

20 September 2026
Galasibot dan Palti Raja : Menata Masa Depan PPTSB melalui Kepemimpinan, Program, dan Regenerasi (Refleksi Menjelang Mubes XVI PPTSB Tahun 2026)
Budaya

Galasibot dan Palti Raja : Menata Masa Depan PPTSB melalui Kepemimpinan, Program, dan Regenerasi (Refleksi Menjelang Mubes XVI PPTSB Tahun 2026)

20 September 2026
Pemkab Karo Dorong Generasi Muda Jadi Agen Perubahan Melalui Adujak Genre 2026
Budaya

Pemkab Karo Dorong Generasi Muda Jadi Agen Perubahan Melalui Adujak Genre 2026

31 Agustus 2026
Konsolidasi Marga Sinaga: Sairon Deklarasi Maju Calon Ketum PPTSB 2026-2030
Budaya

Konsolidasi Marga Sinaga: Sairon Deklarasi Maju Calon Ketum PPTSB 2026-2030

30 Agustus 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

HPN 2026

POPULER

  • 5 Hari Tidur di Polsek Namorambe, Korban Teror Bom Molotov Tagih Ketegasan Polisi

    5 Hari Tidur di Polsek Namorambe, Korban Teror Bom Molotov Tagih Ketegasan Polisi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Konsolidasi Marga Sinaga: Sairon Deklarasi Maju Calon Ketum PPTSB 2026-2030

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dugaan Pungutan Liar di MAN 2 Tanjung Pura Langkat Didorong ke Kejatisu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Eksklusif Wawancara Yohanes Suhardin: Dari Ruang Kuliah Menuju Panggung Advokasi Demi Penegakan Hukum Tanpa Politik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Melihat Titik Temu Migrasi “Ompu Jorang Raja Sinaga” Dengan “Pomparan Ompu Jorang Raja Sinaga”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Koperasi Merah Putih di Taput Mandek, Tumonggi: Jangan Jadi Program di Atas Kertas!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Memiskinkan Kejahatan vs Menjaga Keadilan: Menakar Arah RUU Perampasan Aset

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
GALASIBOT.CO.ID

© 2015 GALASIBOT.CO.ID

Navigate Site

  • Beranda
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

Tidak ada
Tampilkan semua
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
    • Buku

© 2015 GALASIBOT.CO.ID

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In