• Beranda
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
Senin, Agustus 10, 2026
  • Login
GALASIBOT.CO.ID
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
    • Buku
Tidak ada
Tampilkan semua
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
    • Buku
Tidak ada
Tampilkan semua
GALASIBOT.CO.ID
Tidak ada
Tampilkan semua
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
Home Budaya

Dayang Nan Tujuh Menggetarkan Gedung Kesenian Jakarta : Membawa Sakralitas Melayu Deli ke Panggung Festival Bedhayan VI 2026

Redaksi Galasibot.co.id
10 Agustus 2026
/ Budaya
0 0
0
Dayang Nan Tujuh Menggetarkan Gedung Kesenian Jakarta : Membawa Sakralitas Melayu Deli ke Panggung Festival Bedhayan VI 2026

“Dayang Nan Tujuh” saat ditampilkan dalam Festival Bedhayan VI Tahun 2026

Share on FacebookShare on Twitter

Baca Juga

Rumah Batak sebagai Manifestasi Etika Kristen dan Ekologi Danau Toba

Diaspora Manggarai Gelar Festival Budaya dan Pentas Caci di TMII, Lestarikan Tradisi Lewat Semangat “Reko B’eo”

Ribuan Perempuan Memadati Lapangan Benteng Medan untuk Memperingati Hari Kebaya Nasional 2026

JAKARTA I galasibot.co.id — Sakralitas budaya Melayu Deli berhasil dihadirkan ke panggung nasional melalui pertunjukan “Dayang Nan Tujuh” dalam Festival Bedhayan VI Tahun 2026. Pertunjukan tersebut digelar di Gedung Kesenian Jakarta, Minggu (8/8/2026) dan menjadi salah satu penampilan yang mendapat perhatian kuat dari penonton serta pemerhati seni.

Festival Bedhayan VI mengusung tema “Memayu Hayuning Bawana”, sebuah falsafah Jawa yang dimaknai sebagai upaya menjaga keharmonisan dan keseimbangan dunia. Sedikitnya 16 pertunjukan seni tradisi disajikan sejak siang hingga malam dalam ruang pertunjukan tersebut.

Pembukaan festival diawali dengan pemanggilan sejumlah tokoh Nusantara yang dikenal memiliki perhatian terhadap pelestarian dan pengembangan kebudayaan. Salah satunya adalah Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas, yang disebut turut memberikan perhatian terhadap keberlangsungan kebudayaan sebagai bagian dari identitas masyarakat.

Sebagian besar karya yang ditampilkan dibangun dengan corak filosofis Jawa yang kuat. Kelembutan kosmologi Jawa terasa melalui gerak tari, seni suara, dan musik yang disajikan.

Namun, suasana berbeda kemudian dihadirkan oleh karya dari Medan.

“Dayang Nan Tujuh” Membawa Ruang Sakral Melayu

“Dayang Nan Tujuh” dibawakan oleh sanggar binaan Bidang Kebudayaan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Medan. Sejak pertunjukan dimulai, suasana Gedung Kesenian Jakarta perlahan dibuat hening.

Keheningan tersebut kemudian dipecahkan oleh tepuk tangan panjang seusai pertunjukan berakhir.

Karya itu tidak hanya diposisikan sebagai pertunjukan tari. Lebih jauh, “Dayang Nan Tujuh” dihadirkan sebagai representasi kearifan lokal Melayu Kota Medan yang berakar pada sejarah dan identitas kebudayaan Melayu Deli.

Konsep Dayang Nan Tujuh ditempatkan dalam ruang ritus dan sakralitas kemelayuan. Tujuh anak dara dihadirkan sebagai sosok dayang yang merepresentasikan petala langit dalam pemahaman Melayu klasik sekaligus penjuru bumi dalam anasir kosmologi Melayu klasik.

Dalam kepercayaan tradisional, tujuh dayang tersebut dikisahkan dapat dilengkapi menjadi delapan melalui kehadiran unsur dari alam halus. Konsep tersebut menjadi simbol hubungan antara manusia, alam, dan jagat kosmologi yang diyakini dalam tradisi Melayu.

Dengan demikian, pertunjukan tidak hanya dibangun melalui koreografi. Makna simbolik juga diperkuat melalui elemen ritual yang digunakan sepanjang pementasan.

Sirih, Setanggi, dan Busana Melayu Dihidupkan

Nuansa sakral diperkuat melalui penggunaan sejumlah properti ritual, termasuk sirih dan setanggi. Para penari ditampilkan sebagai anak dara Melayu dengan kebaya labuh dan sanggul Melayu.

Visual tersebut sekaligus dihadirkan untuk menghidupkan kembali citra perempuan Melayu dalam ruang tradisi.

Kekuatan pertunjukan kemudian diperluas melalui sinandong dedeng Deli yang disusun dalam tujuh bait. Musik pengiring dimainkan dengan gaya sinandong lama dan didukung berbagai instrumen tradisional Melayu.

Gendang dua muka, pakpung, dol, ketipung, canang, serunai, bangsi, arbab, dan gong digunakan untuk membangun karakter bunyi pertunjukan.

Perpaduan antara gerak, suara, musik, busana, properti, dan suasana ritus akhirnya membentuk sebuah pengalaman artistik yang lebih luas. Penonton tidak hanya disuguhi sebuah tari, tetapi juga diajak memasuki imajinasi tentang ruang kebudayaan Melayu Deli yang tua dan sarat makna.

Sakralitas Tari Melayu Mendapat Perhatian

Pertunjukan tersebut dipimpin oleh M. Muhar Omtatok, yang juga berperan sebagai narasumber dan penulis sinandong. Tata tari dipercayakan kepada Mateus Suwarsono, sementara tata musik digarap oleh Zumaidi Abdullah.

Dukungan dari Bidang Kebudayaan pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Medan diberikan sejak tahap persiapan hingga pertunjukan berlangsung.

Respons terhadap “Dayang Nan Tujuh” kemudian menjadi catatan penting dalam festival tersebut. Seusai pementasan, sejumlah pakar tari dan seni pertunjukan berkumpul untuk membicarakan karya yang baru saja disaksikan.

Dimensi sakral yang dianggap jarang ditemukan dalam pertunjukan Melayu kontemporer menjadi salah satu hal yang mendapat perhatian.

Selama ini, tari Melayu lebih sering ditempatkan dalam ruang pertunjukan yang bersifat hiburan. Melalui “Dayang Nan Tujuh”, kemungkinan lain justru diperlihatkan.

Tari Melayu dapat digunakan sebagai medium untuk membaca kembali hubungan manusia dengan alam, leluhur, dan ruang kosmologis.

Elly D. Luthan: “Saya Dibawa ke Alam Deli”

Respons emosional juga disampaikan koreografer senior Elly D. Luthan, yang hadir menyaksikan pertunjukan tersebut.

Kekaguman terhadap dimensi sakral yang dihadirkan terlihat dari respons emosionalnya seusai pertunjukan. Dengan suara bergetar dan air mata yang tak tertahan, Elly menyampaikan apresiasinya.

“Saya menemukan sakralitas tari Melayu yang benar-benar matang dalam Dayang Nan Tujuh. Saat sinandong itu, saya tidak bisa menahan tangis. Saya dibawa ke alam Deli beberapa abad lalu. Saya kagum atas pertunjukan ini.”

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa kekuatan “Dayang Nan Tujuh” tidak hanya terletak pada keindahan koreografi dan musik.

Atmosfer kebudayaan justru menjadi kekuatan utama yang dirasakan penonton. Melalui atmosfer tersebut, pertunjukan seolah mampu membawa penonton keluar dari ruang pertunjukan dan memasuki kembali ruang ingatan kolektif masyarakat Melayu Kota Medan.

Melayu Deli Berdialog dengan Tradisi Nusantara

Kehadiran “Dayang Nan Tujuh” dalam Festival Bedhayan VI memiliki arti penting bagi penguatan kebudayaan lokal di tingkat nasional.

Pertunjukan tersebut tidak hanya diposisikan sebagai representasi Kota Medan. Tradisi Melayu Deli juga diperlihatkan mampu berdialog dengan tradisi Nusantara lainnya tanpa harus kehilangan akar identitasnya.

Di tengah dominasi kelembutan kosmologi Jawa yang ditampilkan dalam festival, kosmologi Melayu Deli justru dihadirkan melalui bahasa artistiknya sendiri.

Perbedaan tersebut tidak ditempatkan sebagai pertentangan. Sebaliknya, keberagaman itu diperlihatkan sebagai bagian dari kekayaan pengetahuan lokal yang membentuk kebudayaan Nusantara.

Setiap tradisi memiliki cara tersendiri dalam memandang hubungan manusia dengan alam, leluhur, dan semesta. Karena itu, perjumpaan antarkebudayaan di atas panggung justru dapat memperluas pemahaman tentang Indonesia sebagai ruang kebudayaan yang majemuk.

Dari Medan untuk Panggung Nasional

Pada akhirnya, “Dayang Nan Tujuh” tidak hanya menjadi pertunjukan yang dibawa dari Medan ke Jakarta. Karya tersebut telah menjadi pernyataan kebudayaan bahwa tradisi Melayu Deli masih memiliki ruang untuk berbicara di panggung nasional.

Bahasa budaya yang tua, sakral, lembut, dan penuh simbol telah dihadirkan melalui sebuah pertunjukan yang tetap dapat diterima oleh penonton masa kini.

Tepuk tangan panjang yang diberikan seusai pementasan menjadi penanda bahwa tradisi yang digali dari akar terdalamnya masih mampu menyentuh penonton lintas generasi dan kebudayaan.(*)

 

Source: Penulis berita : Wilfrid Sinaga
Tags: #Budaya Melayu Deli#Dayang Nan Tujuh#Festival Bedhayan VI 2026#Kebudayaan Nusantara#Seni Tradisi Medan
SendShareTweet
Kembali

Sebanyak 193 Pasien Jalani Operasi Gratis dalam Bakti Kesehatan HUT Ke-1 Kodam XIX/Tuanku Tambusai di Pekanbaru

Lanjut

Malam Minggu Bersama Warga Medan Tembung, Rico Waas Serap Aspirasi

Baca Juga

Rumah Batak sebagai Manifestasi Etika Kristen dan Ekologi Danau Toba
Budaya

Rumah Batak sebagai Manifestasi Etika Kristen dan Ekologi Danau Toba

3 Agustus 2026
Diaspora Manggarai Gelar Festival Budaya dan Pentas Caci di TMII, Lestarikan Tradisi Lewat Semangat “Reko B’eo”
Budaya

Diaspora Manggarai Gelar Festival Budaya dan Pentas Caci di TMII, Lestarikan Tradisi Lewat Semangat “Reko B’eo”

29 Juli 2026
Ribuan Perempuan Memadati Lapangan Benteng Medan untuk Memperingati Hari Kebaya Nasional 2026
Budaya

Ribuan Perempuan Memadati Lapangan Benteng Medan untuk Memperingati Hari Kebaya Nasional 2026

24 Juli 2026
Kemenbud dan Kementerian PU Perkuat Museum Borobudur dan Museum Subak, Dorong Warisan Budaya Berkelas Dunia
Budaya

Kemenbud dan Kementerian PU Perkuat Museum Borobudur dan Museum Subak, Dorong Warisan Budaya Berkelas Dunia

21 Juli 2026
Wali Kota Medan Buka Gelar Melayu Serumpun 2026 Lewat Petikan Gambus
Budaya

Wali Kota Medan Buka Gelar Melayu Serumpun 2026 Lewat Petikan Gambus

29 Juni 2026
Perkumpulan Raja Parhata Sedunia Resmi Dibentuk, Jaga Marwah Adat Batak di Era Globalisasi
Budaya

Perkumpulan Raja Parhata Sedunia Resmi Dibentuk, Jaga Marwah Adat Batak di Era Globalisasi

16 Juni 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

HPN 2026

POPULER

  • Gubernur Banten Andra Soni Ajak Warga Dukung Felicia br Sihombing di The Icon Indonesia SCTV

    Gubernur Banten Andra Soni Ajak Warga Dukung Felicia br Sihombing di The Icon Indonesia SCTV

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukti Otentik Hak Ulayat: Sejarah Enklave Marga Sinaga di Simalungun dan Perjuangan Ruang Hidup Masyarakat Adat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Caroline Nababan Raih Emas dan Top Score ASMC 2026, The PRINT Apresiasi Prestasi Anak Sumut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Argentina vs Spanyol di Final Piala Dunia 2026: Messi Bidik Gelar Beruntun, Yamal Siap Tantang Sang Idola

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Membanggakan, Felicia Sihombing Siap Guncang Panggung Top 5 The Icon Indonesia SCTV

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Perempat Final Piala Dunia 2026: Prancis dan Argentina Difavoritkan Melaju ke Final, Inggris serta Spanyol Siap Beri Kejutan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kolonel Inf Andrian Siregar Jabat Asisten Teritorial Kepala Staf Kodam I/Bukit Barisan Menggantikan  Kolonel Arh Dedik Ermanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
GALASIBOT.CO.ID

© 2015 GALASIBOT.CO.ID

Navigate Site

  • Beranda
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

Tidak ada
Tampilkan semua
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
    • Buku

© 2015 GALASIBOT.CO.ID

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In