• Beranda
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
Minggu, Agustus 23, 2026
  • Login
GALASIBOT.CO.ID
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
    • Buku
Tidak ada
Tampilkan semua
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
    • Buku
Tidak ada
Tampilkan semua
GALASIBOT.CO.ID
Tidak ada
Tampilkan semua
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
Home Opini

Kepemimpinan dalam Marga: Jangan Biarkan Ambisi Mengalahkan Persaudaraan

Redaksi Galasibot.co.id
22 Agustus 2026
/ Opini
0 0
0
Kepemimpinan dalam Marga: Jangan Biarkan Ambisi Mengalahkan Persaudaraan

Wilmar Eliaser Simandjorang

Share on FacebookShare on Twitter

GALASIBOT.CO.ID — OPINI — Dalam sebuah perkumpulan marga yang besar, kepemimpinan seharusnya tidak semata-mata berbicara tentang siapa yang berada di depan. Kepemimpinan adalah tentang bagaimana membawa seluruh anggota menuju tujuan bersama tanpa kehilangan persaudaraan.

Seorang pemimpin bukan hanya pemegang mandat. Ia juga penjaga kepercayaan, keteladanan, persatuan, dan arah organisasi.

Baca Juga

Membedah APBD Perubahan Medan 2026: Ke Mana Rp7,7 Triliun Akan Dibelanjakan?

Lemhannas dan Masa Depan Kepemimpinan NKRI: Membangun Pemimpin Berwawasan Kebangsaan

Menjaga Rumah Besar PPTSB: Ketika Etika Berorganisasi Teruji di Era Digital

Karena itu, menurut hemat penulis, menjadi pemimpin semestinya dipandang sebagai kesediaan mengemban amanah dan melayani kepentingan bersama, bukan sekadar kesempatan memperoleh kedudukan.

Persaudaraan Harus Tetap Menjadi Dasar

Sebagai saketurunan marga, perbedaan semestinya ditempatkan dalam bingkai kasih persaudaraan. Perbedaan pandangan dan pilihan merupakan bagian yang wajar dalam organisasi.

Namun, perbedaan tersebut jangan sampai membuat kita kehilangan rasa hormat sebagai saudara.

Dalam kearifan Batak, nilai Dalihan Na Tolu mengajarkan somba marhula-hula, elek marboru, manat mardongan tubu. Nilai itu mengandung pesan mengenai penghormatan, kasih sayang, dan kehati-hatian dalam menjaga hubungan antarsaudara.

Menurut penulis, nilai-nilai tersebut tidak seharusnya berhenti sebagai semboyan budaya. Nilai itu perlu hadir dalam cara kita berorganisasi, memilih pemimpin, menyampaikan pendapat, menerima perbedaan, dan menyelesaikan persoalan.

Ketika Kepentingan Bersama Lebih Utama

Ada pelajaran penting dari perjalanan sebuah perkumpulan marga besar yang disampaikan dalam bahan tulisan ini.

Seseorang berkeinginan ikut menjadi pemimpin. Dalam prosesnya, muncul pandangan dari sebagian pihak yang mempertanyakan kelayakannya, antara lain karena dukungan keluarga dan lingkungan marganya dinilai belum memadai.

Ia tidak memilih membalas pandangan tersebut dengan polemik. Ia juga tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk mempertajam perpecahan.

Pada akhirnya, ia memilih tidak mencalonkan diri.

Menurut penulis, keputusan semacam itu patut dilihat sebagai salah satu bentuk kedewasaan dalam berorganisasi. Mundur dari sebuah kontestasi tidak otomatis berarti seseorang tidak memiliki kemampuan atau keinginan untuk memimpin.

Dalam konteks yang digambarkan dalam bahan tulisan ini, keputusan tersebut justru dimaknai sebagai upaya memberikan ruang kepada calon yang memperoleh dukungan lebih kuat demi menjaga keutuhan perkumpulan dan membuka jalan bagi musyawarah menuju mufakat.

Di sinilah kepemimpinan memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar memenangkan kontestasi.

Seorang calon pemimpin yang matang bukan hanya memahami bagaimana memperoleh dukungan. Ia juga perlu memahami kapan kepentingan pribadi harus ditempatkan di bawah kepentingan organisasi.

Tiga Kemampuan Dasar Pemimpin

Dalam bahan tulisan ini, kepemimpinan situasional dikaitkan dengan tiga perilaku penting, yakni direction, supporting, dan delegation.

Direction berarti memberikan arah.

Organisasi membutuhkan pemimpin yang mampu menetapkan tujuan, menentukan prioritas, dan memberikan langkah yang jelas. Tanpa arah, program dapat berjalan sendiri-sendiri dan tujuan bersama menjadi kabur.

Supporting berarti memberikan kekuatan.

Pemimpin tidak cukup hanya memberikan instruksi. Ia perlu mendengar, berdialog, menguatkan, dan hadir ketika anggota menghadapi persoalan.

Dalam pandangan penulis, pemimpin bukan hanya orang yang berada di depan. Ia juga harus bersedia berdiri di tengah bersama anggota.

Sementara itu, delegation berarti memberikan kepercayaan.

Pemimpin tidak mungkin mengerjakan seluruh pekerjaan seorang diri. Karena itu, kewenangan dan tanggung jawab perlu diberikan kepada orang yang tepat sesuai kemampuan dan mandatnya.

Delegasi bukan berarti melepaskan tanggung jawab. Delegasi justru merupakan bentuk kepercayaan yang harus berjalan bersama akuntabilitas.

Dengan demikian, direction memberikan arah, supporting memberikan kekuatan, dan delegation memberikan kepercayaan.

Ketiganya bukan jenjang kekuasaan. Ketiganya merupakan kemampuan untuk membaca situasi, manusia, dan kebutuhan organisasi.

Kepercayaan Bukan Berarti Tanpa Kritik

Di atas kemampuan tersebut, terdapat modal lain yang sangat penting, yakni kepercayaan.

Seseorang yang telah dipilih melalui mekanisme musyawarah dan memperoleh mandat organisasi patut diberikan kesempatan menjalankan tugasnya.

Namun, kepercayaan tidak berarti menutup mata terhadap kekurangan.

Menurut penulis, kepercayaan justru harus berjalan bersama pengawasan, masukan, dan keberanian mengingatkan apabila terdapat hal-hal yang perlu diperbaiki.

Jika pada periode berikutnya muncul aspirasi menghadirkan kepemimpinan berbeda, aspirasi tersebut sebaiknya diproses melalui mekanisme yang telah disepakati dalam AD/ART perkumpulan.

Dengan demikian, regenerasi dapat berlangsung secara tertib tanpa harus mengorbankan persaudaraan.

Pencalonan Pemimpin dan Penghormatan terhadap Proses

Menjelang Musyawarah Besar (Mubes), proses pencalonan pemimpin sebaiknya tumbuh dari aspirasi anggota secara bottom-up.

Aspirasi tersebut dapat berkembang dari cabang dan wilayah hingga menjadi bagian pembahasan dalam Mubes.

Dukungan pribadi maupun kelompok merupakan dinamika organisasi. Namun, dukungan tersebut menurut hemat penulis tidak semestinya langsung diposisikan sebagai suara resmi perkumpulan sebelum memperoleh legitimasi melalui mekanisme organisasi.

Karena itu, seseorang yang dinilai memiliki kapasitas memimpin seyogianya tidak tergesa-gesa membangun deklarasi pencalonan atas nama perkumpulan sebelum Mubes mengambil keputusan.

Seorang yang sungguh-sungguh siap memimpin semestinya mampu menghormati proses.

Kualitas seorang calon pemimpin bukan hanya terlihat dari seberapa banyak dukungan yang dapat dikumpulkan. Kualitas itu juga terlihat dari kesediaannya menghormati aturan, proses, dan keputusan organisasi.

Mendukung Bukan Berarti Membenarkan

Sebagai bagian dari pegiat lingkungan berbasis budaya, penulis berpandangan bahwa pemimpin yang telah menerima mandat perlu dipercaya untuk menjalankan tugasnya.

Jika terdapat kekurangan, berikan masukan.

Jika muncul persoalan, cari jalan keluar bersama.

Jika terdapat perbedaan pandangan, tempuh dialog dengan kepala dingin dan penuh hormat.

Sebab, mendukung bukan berarti selalu membenarkan. Sebaliknya, mengingatkan bukan berarti melemahkan.

Kritik yang disampaikan dengan niat baik dapat menjadi kekuatan bagi pemimpin. Sebaliknya, kritik yang dibungkus kebencian, prasangka, atau kepentingan pribadi berisiko memperlebar jarak dan merusak kepercayaan.

Dalam organisasi kekeluargaan, kita tidak hanya membutuhkan orang yang pandai berbicara. Kita juga membutuhkan orang yang mampu menjaga hati, menahan diri, dan mengutamakan kepentingan bersama.

Jangan Biarkan Ambisi Mengalahkan Persaudaraan

Sebagai saketurunan marga, kita boleh memiliki calon yang berbeda. Kita boleh memiliki pandangan yang berbeda. Kita juga boleh menyampaikan kritik dan gagasan yang berbeda.

Namun, setelah seluruh proses selesai, kita tetaplah saudara.

Menurut penulis, inilah titik yang tidak boleh hilang dalam setiap kontestasi organisasi.

Jangan sampai proses mencari pemimpin justru membuat saudara saling menjauh. Jangan sampai sebuah kontestasi organisasi meninggalkan luka yang lebih panjang daripada masa jabatan seorang pemimpin.

Dalam konteks tersebut, filosofi Batak “Au do ho, ho do au; hita” menjadi relevan.

Engkau adalah aku, aku adalah engkau; kita adalah satu.

Makna tersebut mengingatkan bahwa hubungan kekerabatan tidak seharusnya dikalahkan oleh kepentingan sesaat. Kepemimpinan datang dan pergi. Periode organisasi berganti. Namun, persaudaraan harus tetap dijaga lintas generasi.

Mandat Adalah Amanah Bersama

Musyawarah telah selesai, amanah telah dimulai.

Yang terpilih adalah pemimpin bersama. Mandatnya adalah amanah bersama. Keberhasilannya menjadi tanggung jawab bersama.

Karena itu, setelah seorang pemimpin memperoleh mandat, seluruh anggota semestinya mengambil bagian dalam memastikan roda organisasi berjalan dengan baik.

Pemimpin membutuhkan dukungan. Anggota membutuhkan kepemimpinan yang dapat dipercaya. Organisasi membutuhkan aturan. Persaudaraan membutuhkan ketulusan.

Semua unsur tersebut harus berjalan bersama.

Menurut penulis, kepemimpinan yang sehat bukanlah kepemimpinan yang membuat anggota takut berbeda pendapat. Kepemimpinan yang sehat justru menciptakan ruang bagi perbedaan dan mengolahnya menjadi kekuatan bersama.

Pada akhirnya, pemimpin yang layak dipercaya bukan semata-mata mereka yang paling cepat mendapatkan dukungan atau paling kuat membangun pencitraan.

Pemimpin yang layak dipercaya adalah mereka yang mampu menghormati proses, memegang amanah, mendengarkan anggota, memberikan ruang kepada orang lain, menjaga persatuan, dan menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.

Sebab, dalam perkumpulan yang dibangun atas dasar darah, budaya, dan persaudaraan, jabatan hanyalah sementara. Hubungan persaudaraan adalah warisan yang harus dijaga lintas generasi.

Maka, sebelum bertanya “Siapa yang akan menjadi pemimpin?”, mungkin pertanyaan yang lebih penting adalah:

“Sosok seperti apa yang layak kita percaya untuk memimpin?”

Menurut hemat penulis, dari pertanyaan itulah kepemimpinan yang bermartabat seharusnya dimulai.

9. KESIMPULAN OPINI

Kepemimpinan dalam marga seharusnya tidak ditempatkan semata sebagai kontestasi untuk memperoleh posisi. Kepemimpinan adalah amanah yang membutuhkan kemampuan memberi arah, memberikan dukungan, mendelegasikan kepercayaan, serta menjaga persatuan.

Dalam pandangan penulis, perbedaan pilihan tidak perlu menjadi alasan retaknya persaudaraan. Musyawarah, penghormatan terhadap aturan organisasi, kritik yang sehat, dan kesediaan menempatkan kepentingan bersama di atas ambisi pribadi merupakan bagian penting dari kepemimpinan yang bermartabat.(*)

Tags: #amanah organisasi#Dalihan Na Tolu#kepemimpinan organisasi#kepentingan bersama#musyawarah mufakat#persaudaraan marga#regenerasi kepemimpinan
SendShareTweet
Kembali

RDP Gakkum DPRD Sumut Soroti Penetapan Sopir Jadi Tersangka

Lanjut

Prabowo Pantau Penanganan Karhutla di Kalimantan

Baca Juga

Membedah APBD Perubahan Medan 2026: Ke Mana Rp7,7 Triliun Akan Dibelanjakan?
Opini

Membedah APBD Perubahan Medan 2026: Ke Mana Rp7,7 Triliun Akan Dibelanjakan?

21 Agustus 2026
Lemhannas dan Masa Depan Kepemimpinan NKRI: Membangun Pemimpin Berwawasan Kebangsaan
Opini

Lemhannas dan Masa Depan Kepemimpinan NKRI: Membangun Pemimpin Berwawasan Kebangsaan

20 Agustus 2026
Menjaga Rumah Besar PPTSB: Ketika Etika Berorganisasi Teruji di Era Digital
Opini

Menjaga Rumah Besar PPTSB: Ketika Etika Berorganisasi Teruji di Era Digital

18 Agustus 2026
Partuturan di Era Digital: Menemukan Kembali Cara Menempatkan Diri
Opini

Partuturan di Era Digital: Menemukan Kembali Cara Menempatkan Diri

17 Agustus 2026
Menjaga Integritas Hukum dan Keamanan Publik di Tengah Dinamika Nasional
Opini

Menjaga Integritas Hukum dan Keamanan Publik di Tengah Dinamika Nasional

16 Agustus 2026
Utang Membesar, Dapur MBG Bermasalah: Saat Negara Harus Memilih Prioritas
Opini

Utang Membesar, Dapur MBG Bermasalah: Saat Negara Harus Memilih Prioritas

14 Agustus 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

HPN 2026

POPULER

  • Rumah Warga di Depan SMA Negeri 1 Namorambe Diduga Dilempar Bom Molotov, Polisi Selidiki Pelaku

    Rumah Warga di Depan SMA Negeri 1 Namorambe Diduga Dilempar Bom Molotov, Polisi Selidiki Pelaku

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Meriahkan HUT ke-81 RI, Karang Taruna Desa Pollung Gelar Lomba Antardusun

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukti Otentik Hak Ulayat: Sejarah Enklave Marga Sinaga di Simalungun dan Perjuangan Ruang Hidup Masyarakat Adat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Caroline Nababan Raih Emas dan Top Score ASMC 2026, The PRINT Apresiasi Prestasi Anak Sumut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Rakyat Merasa Tersisih di Tanah Airnya Membedah Paradoks Pertumbuhan Ekonomi, Anomali Keadilan Fiskal, dan Melemahnya Daya Beli di Daerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • THE PRINT Gelar Peluncuran Buku Bilingual Prabowonomics dan Prabowonomics Summit 2026 di JICC

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aturan Baru Kasasi Pidana Berlaku, Cek Syarat dan Batas Waktu SEMA MA Terbaru Ini!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
GALASIBOT.CO.ID

© 2015 GALASIBOT.CO.ID

Navigate Site

  • Beranda
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

Tidak ada
Tampilkan semua
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
    • Buku

© 2015 GALASIBOT.CO.ID

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In