BINJAI | galasibot.co.id – Kenyamanan warga di Lingkungan IV, Kelurahan Nangka, Kecamatan Binjai Utara, mendadak sirna dalam beberapa bulan terakhir. Saluran drainase yang melintasi pemukiman warga di Jalan Teratai kini tak lagi mengalirkan air bersih, melainkan dipenuhi endapan kotoran pekat yang mengeluarkan aroma busuk menyengat.
Warga menuding, biang kerok dari pencemaran lingkungan ini berasal dari aktivitas pembuangan limbah domestik Gedung Badan Gizi Nasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Fasilitas yang berfungsi sebagai pusat pemenuhan gizi masyarakat tersebut diketahui dikelola oleh Yayasan Karya Emas Rencana.
Warga Mulai Cemas Dampak Kesehatan
Kondisi parit yang tersumbat total oleh endapan sisa pencucian dan dapur ini berada tepat di depan rumah-rumah warga. Selain merusak estetika lingkungan menjadi kumuh, warga mulai dihantui kecemasan akan munculnya wabah penyakit akibat sanitasi yang buruk.
“Parit di depan rumah kami sudah penuh endapan kotoran. Air tidak bisa mengalir, dan baunya sangat tidak sedap. Kami menduga ini dari aktivitas pencucian di gedung SPPG itu,” ujar salah seorang warga setempat yang enggan disebutkan namanya dengan nada kecewa.
Ancaman Aksi Massa dari SAPMA IPK
Melihat persoalan yang berlarut-larut tanpa solusi konkret, Sekretaris Jenderal SAPMA IPK Kota Binjai, Erik, angkat bicara. Pihaknya mengaku telah menerima banyak laporan dari masyarakat yang mulai habis kesabarannya. Erik menyayangkan sikap pengelola yang terkesan lamban membenahi sistem pembuangan limbah mereka.
“Kami menerima banyak keluhan dari warga yang terdampak. Masalah ini sudah terjadi berbulan-bulan, namun hingga saat ini belum terlihat penanganan yang benar-benar tuntas. Kami meminta pihak terkait segera mengambil langkah nyata agar limbah tidak lagi dibuang ke saluran air yang digunakan masyarakat,” tegas Erik saat diwawancarai.
Erik menambahkan bahwa dirinya sudah berkoordinasi dengan manajemen SPPG di lapangan. Berdasarkan pengakuan pihak operasional gedung, keluhan warga sebenarnya sudah diteruskan ke pihak yayasan pusat, namun belum ada tindakan eksekusi perbaikan.
“Kalau kondisi ini terus dibiarkan, bukan hanya lingkungan yang tercemar, tetapi juga berpotensi menimbulkan berbagai penyakit. Warga sudah cukup lama bersabar. Jangan sampai persoalan ini memicu keresahan yang lebih luas,” cetus Erik.
Ia pun memberikan tenggat waktu bagi pengelola. Jika dalam waktu dekat tidak ada cetak biru penyelesaian yang jelas, SAPMA IPK bersama warga siap turun ke jalan untuk menggelar aksi protes demi hak masyarakat atas lingkungan yang bersih dan sehat.
DLH Binjai dan Instansi Terkait Mulai Turun Tangan
Pihak keamanan Gedung SPPG, Ari, tidak menampik adanya polemik pembuangan limbah tersebut. Menurut keterangannya pada Senin (7/6/2026), dinamika ini akhirnya memicu respons dari otoritas terkait. Tim dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Binjai didampingi aparatur lokal langsung melakukan inspeksi mendadak ke area dapur utama gedung.
“Permasalahan ini sudah sampai ke pihak manajemen SPPG. Barusan dari pihak Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Binjai telah melihat langsung kondisi dapur dan bagaimana sistem pembuangan limbah kami,” terang Ari di lokasi kejadian.
Menurut Ari, peninjauan tersebut juga disaksikan langsung oleh Kepala Lingkungan (Kepling) setempat, Babinsa, serta Bhabinkamtibmas.
“Nantinya pihak Dinas Lingkungan Hidup akan berkoordinasi lebih lanjut dengan pihak terkait untuk mencari jalan keluar dari persoalan ini, bang. Karena tadi seluruh aparatur dari Kepling sampai TNI-Polri sudah meninjau langsung,” pungkasnya.
Hingga berita ini diturunkan, warga Jalan Teratai masih menunggu hasil koordinasi konkret dari DLH Binjai dan komitmen Yayasan Karya Emas Rencana untuk segera membangun instalasi pengolahan air limbah (IPAL) yang layak, agar aktivitas pemenuhan gizi negara tidak mengorbankan kesehatan warga sekitar.(*)











