BALI | galasibot.co.id – Panggung global menyoroti Pulau Dewata yang menjadi pusat perhatian para tokoh penting dunia. Pemimpin lintas sektor, cendekiawan terkemuka, hingga generasi muda berkumpul dalam sebuah perhelatan bersejarah di Bali.
Mereka menghadiri World Encounter Summit 2026 yang mengusung misi besar. Para delegasi berdiskusi intensif mengenai arah perkembangan teknologi kecerdasan buatan agar selalu berakar pada nilai-nilai kemanusiaan.
Menjembatani Kesenjangan Teknologi Lewat Dialog Global
Kecerdasan buatan mengubah peradaban manusia dengan kecepatan yang luar biasa. Teknologi ini membuka peluang besar bagi pembangunan berkelanjutan sekaligus menghadirkan tantangan global yang kompleks.
Namun, manfaat dari teknologi canggih tersebut belum terdistribusi secara merata di seluruh belahan dunia. Kesenjangan akses data, infrastruktur digital, serta kapasitas tata kelola masih menjadi pekerjaan rumah bersama.
Oleh karena itu, para peserta memandang kolaborasi lintas negara sebagai sebuah keharusan moral. Mereka merumuskan kebijakan strategis agar inovasi teknologi mampu menghadirkan kemakmuran inklusif bagi semua orang.
Peran Strategis Indonesia dalam Ekosistem AI Global
Pemerintah Indonesia mengambil peran aktif dalam mengarahkan masa depan teknologi digital nasional. Para pejabat tinggi negara menegaskan pentingnya kedaulatan teknologi yang berlandaskan kearifan lokal.
Ketua Dewan Ekonomi Nasional RI, Luhut B. Pandjaitan, menjelaskan bahwa prinsip Tri Hita Karana memberikan keseimbangan antara manusia, alam, dan teknologi. Melalui energi bersih dan pendidikan, Indonesia memposisikan diri sebagai pencipta global, bukan sekadar pasar konsumen.
Sementara itu, Menteri Komunikasi dan Digital RI, Meutya Hafid, menyambut baik peluncuran Garuda Spark Innovation Hub di UID Bali Campus. Inisiatif ini berfungsi sebagai pusat regional yang mendorong lahirnya Meaningful AI dari Indonesia untuk dunia.
Kolaborasi Pemuda dan Pendidikan Berbasis Makna
Rangkaian acara ini juga diisi oleh XI International Scholas Chairs Congress 2026 yang mempertemukan pemuda dari berbagai penjuru dunia. Mereka berdiskusi menggunakan metodologi Agora Yunani kuno guna menguji asumsi dan merumuskan etika digital.
Direktur Eksekutif Scholas Occurrentes, Maria Paz Jurado, mengingatkan pentingnya menjaga aspek kemanusiaan yang tidak bisa digantikan mesin. Hati nurani, kebebasan, belas kasih, dan pencarian makna hidup harus tetap menjadi kompas utama pendidikan modern.
Melalui Young Changemaker Programme, para pemuda usia 18 hingga 24 tahun dilatih menjadi pemimpin yang sadar sosial. Mereka belajar menerjemahkan inovasi teknologi menjadi aksi nyata demi keadilan masyarakat dan perdamaian global.(*)










