Banjarmasin | galasibot.co.id — KM Virgo Transport 8 terbalik di perairan Laut Jawa, Minggu (13/9/2026), saat berlayar dari Surabaya menuju Banjarmasin. Kapal membawa 243 orang dan menghadapi cuaca buruk sebelum kehilangan kontak.
Tim SAR gabungan terus mencari penumpang dan awak kapal yang belum ditemukan. Hingga perkembangan terbaru, enam orang dilaporkan meninggal, 108 orang berhasil diselamatkan, dan 129 lainnya masih dalam pencarian.
Kecelakaan itu terjadi setelah kapal mengalami kondisi miring ketika menghadapi cuaca buruk. Otoritas masih menyelidiki penyebab pasti kapal terbalik.
Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Banjarmasin menerima laporan kehilangan kontak pada Minggu pukul 04.10 WITA. Laporan tersebut disampaikan Yoel Rihi selaku General Manager PT Virgo.
Kapal sebelumnya berangkat dari Surabaya pada Sabtu (12/9) pagi. Kapal kemudian kehilangan kontak sekitar pukul 02.00 WITA setelah menghadapi cuaca buruk dalam perjalanan menuju Banjarmasin.
Kapal Mengalami Kemiringan
Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan Mohammad Syafii mengatakan awak kapal sebelumnya telah melaporkan kondisi cuaca buruk kepada perusahaan.
Beberapa jam kemudian, kondisi kapal berubah. Kapal mengalami perubahan center of gravity yang menyebabkan badan kapal miring.
Awak kapal kemudian mengirimkan broadcast untuk meminta bantuan. Mereka juga mengaktifkan perangkat darurat EPIRB yang tersedia di kapal.
Informasi tersebut menjadi dasar bagi tim SAR untuk menggelar operasi pencarian dan pertolongan.
Basarnas kemudian mengumumkan kondisi darurat kepada pengguna lalu lintas laut di kawasan Laut Jawa. Pengumuman itu bertujuan memperluas dukungan pencarian dari kapal-kapal yang berada di sekitar lokasi.
Lokasi Menjadi Tantangan
Lokasi kejadian menjadi salah satu tantangan terbesar dalam operasi SAR.
Dari Banjarmasin, lokasi kejadian membutuhkan waktu tempuh sekitar enam jam. Kondisi laut dan cuaca juga membuat proses pencarian membutuhkan koordinasi yang ketat.
Kantor SAR Banjarmasin sebelumnya mengerahkan enam personel menuju Dermaga SAR Basirih. Tim kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan KN SAR Laksmana 241 menuju perkiraan lokasi terakhir kapal.
Estimasi perjalanan menuju lokasi mencapai sekitar lima jam.
Dalam perkembangan berikutnya, operasi melibatkan sejumlah unsur. Kapal-kapal yang berada di sekitar lokasi ikut membantu mengevakuasi korban.
Ratusan Orang Masih Dicari
Kapal Virgo Transport 8 membawa 243 orang dalam pelayaran Surabaya-Banjarmasin. Data tersebut mencakup penumpang dan awak kapal.
Pada pembaruan awal, sebanyak 113 orang telah dievakuasi. Rinciannya 107 orang selamat dan enam orang meninggal dunia.
Kapal TB Mauhaw IX mengevakuasi 16 orang. TB TCP mengevakuasi enam orang, sedangkan MV Haida membawa 69 orang. KM Cahaya Bahari Jaya juga mengevakuasi 22 orang.
Perkembangan berikutnya mengubah angka evakuasi. Reuters melaporkan 108 orang selamat, enam meninggal, dan 129 masih hilang berdasarkan informasi badan pencarian dan pertolongan.
Perbedaan angka tersebut menunjukkan bahwa data korban masih bergerak seiring proses pencarian, evakuasi, dan verifikasi manifes.
Kesaksian Penumpang
Kesaksian para penyintas menggambarkan cepatnya perubahan situasi di atas kapal.
Agus mengatakan dirinya sedang tidur ketika kapal mulai miring. Menurut dia, kondisi itu terjadi sekitar pukul 01.00.
“Tidak ada informasi sama sekali. Langsung tiba-tiba miring,” kata Agus.
Suasana kemudian berubah menjadi kepanikan. Penumpang berteriak dan berusaha menyelamatkan diri.
Agus mencari orang-orang yang dikenalnya. Namun, dia tidak menemukan pelampung di sekitarnya.
Dalam kondisi kapal semakin limbung, Agus menemukan sekoci. Dia kemudian melompat ke atas sekoci tersebut.
Agus bersama rombongannya kemudian terombang-ambing di laut selama sekitar sembilan jam.
Ia sebenarnya menuju Banjarmasin untuk menyelesaikan pekerjaan ekspedisi. Perjalanan tersebut berubah menjadi situasi penyelamatan nyawa.
“Banyak orang meninggal di tengah laut,” tuturnya.
Keluarga Menunggu di Pelabuhan Trisakti
Kecelakaan tersebut membuat keluarga penumpang berdatangan ke Pelabuhan Trisakti Banjarmasin.
Mereka menunggu informasi mengenai kerabat yang berada di kapal. Sebagian keluarga belum mengetahui apakah anggota keluarganya termasuk dalam daftar korban yang berhasil dievakuasi.
Rusmilawati, warga Banjarmasin, datang mencari kabar delapan kerabatnya.
Delapan anggota keluarganya berada dalam perjalanan pulang ke Banjarmasin setelah berziarah ke sejumlah makam ulama di Jawa.
Keluarga terakhir memperoleh kabar melalui status WhatsApp salah seorang kerabat.
Pesan tersebut menggambarkan kekhawatiran terhadap kondisi laut saat kapal berlayar.
Rusmilawati mengaku belum menerima kepastian mengenai kondisi delapan kerabatnya.
“Mudahan-mudahan selamat saja,” katanya.
Di tempat yang sama, Misnah mendapat kabar bahwa suaminya, Ahmad Supandi, berhasil diselamatkan.
Ahmad merupakan sopir ekspedisi yang berada di dalam kapal. Ia dievakuasi menggunakan MV Haida. Misnah menangis haru setelah mengetahui suaminya selamat.
Namun, keluarga lainnya masih menunggu.
Jenah masih berharap kakaknya yang berada di kapal segera ditemukan. Komunikasi terakhir terjadi sebelum kapal berangkat.
Saat Jenah kembali menghubungi kakaknya, pesan yang dikirim hanya menunjukkan satu tanda centang.
“Mudah-mudahan cepat ditemukan,” ujarnya.
Keluarga Kru Mencari Kepastian
Penanganan kecelakaan juga menyentuh keluarga para kru kapal.
Di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, keluarga kru datang mencari informasi.
Fredy, warga Mojokerto, mencari adiknya, Stevie Manuhua. Stevie bekerja sebagai pemain keyboard atau organ hiburan di kapal Virgo Transport 8.
Komunikasi terakhir Fredy dengan Stevie terjadi ketika kapal masih berada di Surabaya.
Setelah itu, tidak ada lagi komunikasi.
Fredy mengaku belum menerima informasi resmi mengenai kondisi adiknya.
“Belum, belum ada. Belum ada masuk. Saya masih tunggu dari pihak yang bersangkutan untuk ngasih info ke kita,” katanya.
Fredy kemudian mendatangi Pelabuhan Tanjung Perak setelah menerima informasi mengenai kecelakaan tersebut.
Ia berharap Stevie segera ditemukan.
“Semoga bisa ditemukan. Apa pun keadaannya saya harap bisa ditemukan,” ujarnya.
Penumpang Juga Dicari Keluarga
Keluarga penumpang juga terus berdatangan ke Pelabuhan Tanjung Perak.
Istiana, warga Sidoarjo, datang mencari keponakannya, Dede Farandika, 29 tahun.
Dede merupakan warga Banyuwangi yang tercatat sebagai penumpang KM Virgo Transport 8.
Istiana mengetahui kejadian tersebut dari keluarga di Banyuwangi.
Ia kemudian datang ke Surabaya karena Pelabuhan Tanjung Perak lebih dekat dengan tempat tinggalnya.
Hingga proses pencarian berlangsung, keluarga masih menunggu informasi resmi mengenai keberadaan Dede.
Kapal Terbalik, Penyebab Masih Diselidiki
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengatakan penyebab pasti kecelakaan masih dalam penyelidikan.
Informasi awal menunjukkan kapal menghadapi cuaca buruk sebelum mengalami kondisi miring. Sebuah helikopter yang melintas kemudian melaporkan kapal berada dalam kondisi terbalik.
Karena itu, kondisi cuaca menjadi bagian penting dalam penyelidikan.
Namun, cuaca buruk tidak otomatis menjadi satu-satunya penyebab kecelakaan. Pemeriksaan terhadap kapal, muatan, stabilitas, prosedur keselamatan, komunikasi darurat, dan kondisi pelayaran tetap diperlukan.
Kesimpulan mengenai penyebab kecelakaan seharusnya menunggu hasil pemeriksaan resmi.
Kapal Dibangun pada 1987
Data pemantauan kapal yang dikutip dalam bahan awal menunjukkan Virgo Transport 8 sebelumnya bernama Ferry Kurushima.
Kapal tersebut selesai dibangun di galangan Shin Kurushima Onishi, Jepang, pada 1987. Kapal itu kemudian pernah melayani rute penumpang di Jepang.
Informasi mengenai usia kapal tidak dapat dijadikan kesimpulan bahwa faktor usia menjadi penyebab kecelakaan.
Kondisi teknis kapal tetap membutuhkan pemeriksaan resmi untuk mengetahui faktor yang berkontribusi terhadap kecelakaan.
Operasi SAR Masih Berlangsung
Basarnas mengoptimalkan pencarian dengan melibatkan berbagai unsur.
Operasi tersebut bertujuan menemukan penumpang dan awak kapal yang belum diketahui keberadaannya.
Keluarga korban juga terus menunggu informasi resmi dari petugas.
Dalam situasi seperti ini, kecepatan pencarian harus berjalan bersama ketepatan identifikasi korban. Informasi yang belum terverifikasi berisiko menambah beban psikologis keluarga.
Karena itu, pembaruan data korban harus mengacu pada hasil verifikasi tim SAR dan otoritas terkait.
Keselamatan Pelayaran Kembali Dipertaruhkan
Kecelakaan Virgo Transport 8 kembali memperlihatkan pentingnya keselamatan pelayaran di Indonesia.
Transportasi laut memiliki peran penting karena menghubungkan wilayah kepulauan. Namun, keselamatan penumpang harus menjadi prioritas utama dalam setiap perjalanan.
Kondisi cuaca, kesiapan kapal, kemampuan awak, sistem komunikasi darurat, alat keselamatan, serta koordinasi pencarian menjadi bagian penting dalam sistem keselamatan pelayaran.
Dalam kasus Virgo Transport 8, penyebab kecelakaan masih menunggu hasil penyelidikan resmi.
Sementara itu, fokus utama tetap pada pencarian korban yang belum ditemukan dan memastikan seluruh keluarga memperoleh informasi yang akurat.
Operasi SAR menjadi harapan terakhir bagi keluarga yang masih menunggu kabar dari tengah Laut Jawa.(*)










