Medan | galasibot.co.id – Perdebatan mengenai silsilah Raja Batak tidak lagi berlangsung di balai adat atau halaman rumah bolon. Kini, perdebatan itu berpindah ke layar telepon genggam. TikTok, Facebook, YouTube, hingga grup WhatsApp menjadi arena baru yang mempertemukan berbagai tafsir sejarah, identitas, dan kepentingan.
Fenomena tersebut menunjukkan perubahan besar dalam cara masyarakat membangun pandangan tentang jati diri. Otoritas yang dahulu berada di tangan para tetua adat kini mulai bergeser kepada pembuat konten digital, influencer, dan akun anonim yang mampu membentuk opini publik dalam hitungan menit.
Perubahan ini menghadirkan tantangan baru. Di satu sisi, teknologi membuka akses informasi lebih luas. Di sisi lain, ruang digital juga mempercepat penyebaran narasi yang belum tentu memiliki dasar sejarah yang kuat.
Pergeseran Otoritas di Era Digital
Media sosial telah menjadi Digital Town Square, yaitu ruang publik tempat masyarakat memperdebatkan sejarah, budaya, dan identitas.
Algoritma platform digital bekerja dengan menampilkan konten yang sesuai dengan minat pengguna. Akibatnya, masyarakat lebih sering menerima informasi yang menguatkan keyakinannya daripada memperluas sudut pandangnya.
Fenomena tersebut melahirkan echo chamber, yaitu ruang gema yang memperkuat pandangan kelompok sendiri sekaligus memperlemah dialog dengan kelompok lain.
Dalam situasi seperti ini, perdebatan mengenai tarombo tidak lagi berorientasi pada pencarian kebenaran. Perdebatan justru berubah menjadi kompetisi untuk memenangkan narasi.
Tiga Kekuatan dalam Peta Politik Digital
Pemetaan politik digital memperlihatkan tiga kelompok yang memiliki karakter berbeda.
Kelompok pertama ialah The Traditionalist. Mereka mempertahankan narasi Raja Batak sebagai simbol pemersatu seluruh keturunan Batak. Kelompok ini melihat kesinambungan sejarah sebagai fondasi identitas bersama.
Kelompok kedua ialah The Reformist. Mereka menegaskan identitas etnis secara mandiri. Mandailing, Karo, Pakpak, Simalungun, Angkola, dan kelompok lainnya menonjolkan sejarah lokal sebagai bagian penting dari identitas masing-masing.
Kelompok ketiga ialah The Skeptics. Kelompok ini didominasi generasi muda yang aktif mengonsumsi informasi digital. Mereka ingin memahami sejarah, tetapi sering kesulitan membedakan data ilmiah dengan opini yang viral.
Ketiga kelompok tersebut saling memengaruhi percakapan publik. Namun, ruang digital sering memperbesar perbedaan daripada membangun pemahaman bersama.
Ketika Agama Masuk ke Dalam Perdebatan Identitas
Perdebatan identitas semakin kompleks ketika sentimen keagamaan ikut masuk ke dalam ruang diskusi.
Narasi sejarah sering bercampur dengan pandangan keagamaan. Akibatnya, garis perbedaan tidak lagi hanya berdasarkan silsilah, tetapi juga berdasarkan identitas keyakinan.
Kondisi tersebut melahirkan politik identitas yang semakin tajam. Identitas digunakan untuk membedakan “kita” dan “mereka”. Ruang dialog berubah menjadi ruang pertarungan simbol.
Fenomena ini menunjukkan terjadinya krisis Habonaron, yaitu ketika kepentingan kelompok lebih dominan daripada pencarian kebenaran.
Jika kondisi ini terus berkembang, masyarakat berisiko kehilangan nilai persaudaraan yang selama ini menjadi kekuatan budaya Batak.
Habonaron Do Bona Sebagai Kompas Baru
Perdebatan identitas memerlukan arah yang lebih konstruktif.
Karena itu, gagasan “Pulang untuk Melangkah” menawarkan pendekatan berbeda. Fokus utamanya bukan memenangkan perdebatan genealogi, melainkan membangun karakter berdasarkan nilai-nilai luhur leluhur.
Landasan tersebut bertumpu pada filosofi Habonaron Do Bona, yaitu kebenaran sebagai dasar kehidupan.
Pendekatan ini mengajak masyarakat menggeser fokus dari pertanyaan “siapa yang paling benar” menuju “nilai apa yang harus diwariskan.”
Empat Pilar Integritas menjadi instrumen penting dalam proses tersebut.
Pangkataion mengajarkan kejujuran dalam berkata.
Pingkiran menanamkan kejernihan dalam berpikir.
Pangulahonon mengarahkan masyarakat kepada tindakan yang bertanggung jawab.
Panujuon menjaga tujuan hidup agar tetap berorientasi pada kemaslahatan bersama.
Keempat nilai itu lebih relevan untuk menjawab tantangan zaman dibanding memperpanjang konflik identitas.
Jati Diri Harus Menjadi Modal Sosial
Asal-usul merupakan bagian penting dari sejarah setiap manusia. Namun, sejarah tidak boleh berubah menjadi alat untuk membangun sekat sosial.
Pengakuan terhadap leluhur semestinya melahirkan rasa tanggung jawab untuk menjaga persaudaraan, memperkuat budaya, dan membangun masa depan bersama.
Modal sosial yang lahir dari identitas akan menjadi kekuatan besar jika masyarakat mampu menjadikan sejarah sebagai sumber kebijaksanaan, bukan sumber permusuhan.
Di era digital, kemenangan sejati bukan terletak pada siapa yang paling keras berbicara. Kemenangan sesungguhnya hadir ketika masyarakat mampu menjaga Habonaron sebagai kompas bersama.
Perjalanan menuju masa depan membutuhkan teknologi, tetapi lebih dari itu, membutuhkan karakter yang kuat. Ketika identitas berpijak pada kebenaran, ruang digital dapat menjadi sarana pemersatu, bukan arena perpecahan.(*)










