Menjelang pelaksanaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Parsadaan Pomparan Toga Sinaga Dohot Boru (PPTSB) Tahun 2026 dan puncaknya Musyawarah Besar (MUBES) PPTSB 2026, satu pertanyaan fundamental kembali menggema di ruang-ruang diskursus internal: Quo Vadis PPTSB? Ke mana arah Parsadaan Pomparan Toga Sinaga Dohot Boruna akan dilangkahkan di tengah perubahan zaman yang semakin cepat, kompleks, dan global?
Pertanyaan ini bukan sekadar refleksi normatif, melainkan panggilan untuk melakukan penataan ulang secara sadar dan terencana. Rakernas 2026 menjadi ruang strategis untuk merumuskan agenda, sementara MUBES 2026 harus menjadi forum penegasan arah dan keberanian mengambil keputusan besar.
Sebagaimana pernah ditulis Mgr. Dr. A.B. Smaga dalam Galisabot (2019) melalui refleksi “Sinaga Quo Vadis Habatakon?”, PPTSB sejatinya bukan hanya organisasi genealogis. Ia adalah entitas budaya, sosial, dan spiritual—sebuah warisan hidup yang hanya akan bermakna jika terus dihidupi.
PPTSB: Lebih dari Sekadar Organisasi Marga
PPTSB bukan sekadar kumpulan individu bermarga Sinaga. Ia lahir dan bertumbuh dari falsafah luhur Parhatian Sibolatimbang – Parninggala Sibolatali, yang menekankan keseimbangan berpikir dan keteguhan bertindak. Di sinilah posisi strategis PPTSB: sebagai penjaga nilai, pemersatu rumpun, sekaligus penggerak sosial dalam masyarakat Batak dan Indonesia yang majemuk.
Namun, nilai luhur tanpa aktualisasi akan kehilangan daya hidupnya. Karena itu, Rakernas dan MUBES 2026 harus dimaknai sebagai momentum reformasi, baik secara struktural maupun kultural. PPTSB dituntut menjadi organisasi yang bukan hanya besar secara kuantitas, tetapi juga tajam secara visi dan efektif dalam implementasi.
Sejarah mengingatkan kita bahwa PPTSB berdiri sejak tahun 1940 di Kota Medan, berangkat dari semangat solidaritas sosial dan ekonomi pomparan Sinaga di perantauan. Semangat inilah yang harus terus diwarisi—namun dengan pendekatan yang relevan dengan konteks abad ke-21.
Tarombo: Fondasi Identitas dan Legitimasi
Isu tarombo dan keanggotaan kembali menjadi topik sentral menjelang MUBES. Ini bukan sekadar urusan administratif, melainkan soal identitas, legitimasi, dan keberlanjutan organisasi. Rakernas 2026 harus menjadi ruang perumusan teknis, sementara MUBES 2026 wajib menetapkan kebijakan yang tegas, adil, dan bermartabat—mengawinkan inklusivitas dengan keaslian silsilah.
Tanpa kejelasan identitas, kebersamaan akan rapuh.
Etos Galasibot: Warisan Nilai untuk Dunia yang Berubah
PPTSB memiliki modal nilai yang sangat kuat untuk berkontribusi lebih luas. Etos Galasibot—pangulu ni na bile, pangompatompatan ni na maliali—bukan sekadar pepatah adat, melainkan pesan peradaban yang relevan di tengah krisis etika, sosial, dan spiritual dewasa ini.
Rakernas dan MUBES 2026 perlu merumuskan bagaimana etos ini diterjemahkan ke dalam program nyata, sehingga PPTSB hadir bukan hanya untuk anggotanya, tetapi juga memberi makna bagi masyarakat luas, bahkan dalam skala nasional dan global.
Manajemen Modern: Kebutuhan yang Tak Terelakkan
Tantangan zaman menuntut pembaruan. Modernisasi manajemen organisasi, digitalisasi data keanggotaan, transparansi tata kelola, serta penguatan dan pemetaan aset organisasi adalah agenda mendesak yang harus menjadi prioritas Rakernas 2026.
Tanpa pembenahan struktural yang serius, kekuatan besar PPTSB berisiko berhenti sebagai potensi, bukan prestasi.
Suksesi dan Regenerasi: Kembali ke Formasi Asal
Isu kepemimpinan tidak boleh terjebak dalam kontestasi semata. PPTSB perlu kembali pada formasi awal kepemimpinan berbasis tiga rumpun utama: Bonor, Ompu Ratus, dan Uruk. Prinsip ini bukan langkah mundur, melainkan upaya menjaga keseimbangan, musyawarah, dan kearifan adat Batak dalam berdemokrasi.
Regenerasi harus menjadi proses kaderisasi nilai, bukan sekadar pergantian jabatan.
Penutup: Dari Rakernas Menuju Keputusan Bersejarah
Rakernas PPTSB 2026 dan MUBES PPTSB 2026 adalah satu rangkaian sejarah. Rakernas adalah ruang merajut gagasan, MUBES adalah momentum mengambil keputusan. Ini bukan sekadar agenda rutin organisasi, melainkan titik balik menentukan masa depan PPTSB.
Saatnya kita tidak lagi sekadar bertanya, tetapi menjawab dengan kerja, keberanian, dan kebijaksanaan.
“Kita tahu dari mana kita datang, maka kita akan lebih tahu ke mana kita akan pergi.”(*)











