• Beranda
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
GALASIBOT.CO.ID
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
Tidak ada
Tampilkan semua
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
Tidak ada
Tampilkan semua
GALASIBOT.CO.ID
Tidak ada
Tampilkan semua
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
Home Opini

Anak Miskin Tersisih, Negara Terlalu Sibuk Membagi Rata

Redaksi Galasibot.co.id
10 Februari 2026
/ Opini
0 0
0
Anak Miskin Tersisih, Negara Terlalu Sibuk Membagi Rata

Joan Berlin Damanik, SSI,MM ( Akademisi Universitas Sisingamangaraja XII Tapanuli dan Pemerhati Kebijakan Publik)

Share on FacebookShare on Twitter

Tragedi yang Seharusnya Menjadi Alarm Kebijakan

Sebuah peristiwa memilukan di Ngada, Nusa Tenggara Timur, awal Februari 2026, mengguncang nurani publik. Seorang murid sekolah dasar berusia 10 tahun meninggal dunia setelah meninggalkan pesan singkat kepada ibunya. Pesan itu, meski sederhana, memuat beban sosial dan ekonomi yang terlalu berat untuk seorang anak.

Baca Juga

“Go and Sin No More” TPL: Sebuah Rekonstruksi Solusi atas Konflik Panjang di Tanah Batak

Reformasi Parkir Medan: Menutup Kebocoran PAD dan Mewujudkan Smart City yang Berkeadilan

ENSIKLIK MAGNIFICA HUMANITAS: Cara Paus Lawan Kebangkitan ‘Menara Babel’

Peristiwa ini mudah dipandang sebagai tragedi lokal di daerah terpencil. Namun, jika ditarik lebih jauh, kisah ini justru mencerminkan persoalan struktural dalam kebijakan sosial kita. Sebab ketika negara benar-benar hadir secara tepat, anak-anak tidak seharusnya merasa sendirian menghadapi keterbatasan.

Ironi di Tengah Program Makan Bergizi Gratis

Ironi semakin terasa karena tragedi ini terjadi di tengah gencarnya promosi program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pemerintah menampilkan program ini sebagai bukti keberpihakan pada masa depan anak-anak Indonesia.

Namun, penerapan bantuan yang seragam dalam masyarakat yang timpang justru menyingkap masalah mendasar. Di banyak sekolah, anak-anak dari keluarga relatif mampu ikut menikmati MBG. Sebaliknya, di wilayah tertinggal, masih ada anak yang bahkan kesulitan memperoleh perlengkapan belajar paling dasar.

Dengan kata lain, negara tampak bekerja, tetapi tidak selalu menyentuh titik yang paling genting.

Ketepatan Sasaran Lebih Penting dari Besaran Anggaran

Persoalan utamanya bukan niat pemerintah, melainkan ketepatan sasaran. Dalam kondisi sosial yang tidak setara, perlakuan yang sama justru berpotensi melanggengkan ketidakadilan.

Keadilan sosial menuntut keberpihakan yang jelas kepada kelompok paling rentan. Bantuan tidak cukup dibagikan secara merata, tetapi harus diarahkan ke mereka yang benar-benar membutuhkan.

Berbagai laporan menunjukkan bahwa kemiskinan anak di daerah tertinggal berkaitan dengan rendahnya akses pendidikan, minimnya perlengkapan belajar, serta tekanan psikologis yang kerap luput dari perhatian. Temuan ini berulang kali muncul dalam data BPS maupun kajian Kementerian Pendidikan.

Bantuan yang Terjebak Administrasi

Masalah lain terletak pada fragmentasi program. Bantuan sering berjalan terpisah antara pusat dan daerah, bergantung pada data yang tidak mutakhir, serta minim pendampingan sosial dan psikologis.

Akibatnya, bantuan berhenti sebagai prosedur administratif, bukan sebagai intervensi yang benar-benar melindungi anak. Dalam kerangka inilah, peristiwa di Ngada tidak berdiri sendiri, melainkan mencerminkan kegagalan sistem membaca risiko sejak dini.

Lebih dari Sekadar Kemiskinan Pangan

Pesan yang ditinggalkan anak tersebut menunjukkan bahwa kemiskinan bukan hanya soal perut kosong. Ia juga menyangkut runtuhnya harapan, harga diri, dan rasa aman.

Seorang anak yang merasa menjadi beban ekonomi bukan hanya problem keluarga miskin, melainkan kegagalan kolektif dalam melindungi anak-anak paling rentan.

Cermin Bagi Negara

Karena itu, peristiwa ini tidak cukup dipahami sebagai musibah semata. Ia adalah cermin tentang bagaimana kebijakan publik kerap kehilangan dimensi manusia.

Negara boleh memiliki banyak program, tetapi selama masih ada anak yang merasa hidupnya terlalu berat untuk dijalani, ada yang keliru dalam cara menentukan prioritas.

Surat kecil dari Ngada menjadi pengingat sunyi: kemiskinan bukan hanya kekurangan materi, tetapi juga hilangnya harapan.

Pada akhirnya, pertanyaan mendasar bukan seberapa besar anggaran negara, melainkan seberapa tepat negara menemukan, melindungi, dan menguatkan anak-anak yang hampir kehilangan masa depannya.(*)

 

Tags: #Evaluasi Kebijakan Publik#Keadilan Sosial Pendidikan#Kebijakan Sosial Indonesia#Kemiskinan Anak NTT#Makan Bergizi Gratis
SendShareTweet
Kembali

Video Viral Diduga Libatkan Oknum DPRD Humbang Hasundutan, Laporan Etik Belum Berjalan

Lanjut

Sembilan Fraksi DPRD Medan Setujui Pembahasan Perubahan Perda Sistem Kesehatan

Baca Juga

“Go and Sin No More” TPL: Sebuah Rekonstruksi Solusi atas Konflik Panjang di Tanah Batak
Opini

“Go and Sin No More” TPL: Sebuah Rekonstruksi Solusi atas Konflik Panjang di Tanah Batak

4 Juni 2026
Reformasi Parkir Medan: Menutup Kebocoran PAD dan Mewujudkan Smart City yang Berkeadilan
Opini

Reformasi Parkir Medan: Menutup Kebocoran PAD dan Mewujudkan Smart City yang Berkeadilan

31 Mei 2026
ENSIKLIK MAGNIFICA HUMANITAS: Cara Paus Lawan Kebangkitan ‘Menara Babel’
Opini

ENSIKLIK MAGNIFICA HUMANITAS: Cara Paus Lawan Kebangkitan ‘Menara Babel’

26 Mei 2026
Blackout Sumbagut dan Alarm Rapuhnya Infrastruktur Energi Nasional
Opini

Blackout Sumbagut dan Alarm Rapuhnya Infrastruktur Energi Nasional

23 Mei 2026
Integritas Sekolah Diuji: Menyelaraskan Retorika Kejujuran dengan Transparansi Dana BOS di Sumut
Opini

Integritas Sekolah Diuji: Menyelaraskan Retorika Kejujuran dengan Transparansi Dana BOS di Sumut

12 Mei 2026
Menakar “Rapor Hijau” Dairi: Sukses Realisasi di Tengah Ancaman Lumpuhnya Pembangunan Fisik
Opini

Menakar “Rapor Hijau” Dairi: Sukses Realisasi di Tengah Ancaman Lumpuhnya Pembangunan Fisik

11 Mei 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

POPULER

  • Tiger Sumatera Binjai Kecewa: Tuntut Kompensasi Total Atas Pembatalan Kejuaraan Batam Internasional Taekwondo 2026

    Tiger Sumatera Binjai Kecewa: Tuntut Kompensasi Total Atas Pembatalan Kejuaraan Batam Internasional Taekwondo 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dukung Program Kesbangpol Sumut, Ketum FKBNI Instruksikan Jajaran Pengurus Hadiri Rapat Deklarasi Anti Narkoba

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gandeng Kejari, Pemkab Humbang Hasundutan Sisir Rumah Warga untuk Verifikasi Faktual Bansos PKH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjaga Nyala Api Organisasi dari Tepian Danau Toba: Strategi PMKRI Pematangsiantar Mencetak Kader Berintegritas Lewat MPAB 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • PPTN Lantik Pengurus Baru, Prof. Hoga Saragih Dikukuhkan sebagai Ketua Umum Periode 2026–2030

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Direktur UKW PWI Pusat Aat Surya Safaat: Wartawan Harus Berpikir Kreatif di Tengah Perubahan Dunia Jurnalistik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Blackout Sumbagut 2026: Lumpuhnya Sumut dalam Sekejap, dari Bus Listrik Mati hingga Krisis Air dan BBM

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
GALASIBOT.CO.ID

© 2015 GALASIBOT.CO.ID

Navigate Site

  • Beranda
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

Tidak ada
Tampilkan semua
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal

© 2015 GALASIBOT.CO.ID

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In