Tragedi di Jalan Nasional, Alarm Bagi Negara
Kematian seekor anak Harimau Sumatera di Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) Girsang tidak dapat lagi dipandang sebagai insiden satwa liar biasa. Peristiwa tersebut telah menjadi simbol nyata kegagalan negara dan pemerintah daerah dalam menjaga keseimbangan ekosistem Bukit Barisan yang terus mengalami degradasi.
Kematian itu terjadi bukan di tengah rimba, melainkan di atas aspal jalan nasional. Dengan demikian, sebuah pesan keras telah disampaikan oleh alam bahwa batas toleransi lingkungan telah dilampaui.
Konflik yang Sering Disalahartikan
Selama ini, istilah “konflik manusia dan satwa” kerap digunakan untuk menjelaskan peristiwa serupa. Namun, istilah tersebut sesungguhnya telah menyesatkan. Yang terjadi bukan konflik alamiah, melainkan dampak langsung dari kerusakan hutan yang dilakukan secara sistematis.
Ruang hidup Harimau Sumatera telah dipersempit oleh pembalakan, pembukaan lahan, dan pemutusan koridor satwa. Ketika jalur jelajah diubah menjadi jalan raya dan kawasan industri, maka pertemuan dengan manusia tidak lagi dapat dihindari.
Perlindungan yang Mandek di Atas Kertas
Secara hukum, Harimau Sumatera telah ditetapkan sebagai satwa yang dilindungi penuh. Namun, perlindungan tersebut hanya kuat dalam regulasi, lemah dalam implementasi. Di lapangan, perlindungan justru lebih terasa bagi kepentingan investasi, alat berat, dan proyek pembangunan.
Ketegasan negara kerap terlihat saat penertiban masyarakat kecil dilakukan. Sebaliknya, kelambanan tampak nyata ketika pelanggaran terhadap kawasan hutan harus ditindak. Akibatnya, konservasi hanya dijadikan slogan tanpa tindakan nyata.
Bom Waktu Ekologis di Permukiman Warga
Keberadaan induk harimau dan satu anak lainnya yang masih berkeliaran di sekitar perladangan warga telah menjadi ancaman ekologis yang serius. Jika konflik lanjutan terjadi, baik berupa korban manusia maupun satwa, maka kesalahan tidak lagi dapat dialihkan kepada alam.
Tanggung jawab sepenuhnya berada pada kebijakan yang gagal membaca daya dukung lingkungan dan mengabaikan prinsip kehati-hatian dalam pembangunan.
Martabat Bangsa Dipertaruhkan
Harimau Sumatera bukan sekadar satwa liar. Ia telah menjadi indikator kesehatan ekosistem, penjaga keseimbangan rantai makanan, dan simbol komitmen bangsa terhadap warisan alamnya. Ketika seekor anak harimau mati sia-sia di jalan raya, maka yang sesungguhnya runtuh adalah kredibilitas konservasi itu sendiri.
Komitmen terhadap keberlanjutan telah dipertanyakan secara terbuka melalui tragedi ini.
Garis Merah Terakhir Konservasi
Jika keberlanjutan masih dianggap penting, maka peristiwa Girsang harus dijadikan garis merah terakhir. Perusakan hutan harus dihentikan, koridor satwa wajib dipulihkan, dan hukum harus ditegakkan tanpa kompromi.
Jika langkah tersebut kembali diabaikan, Harimau Sumatera hanya akan tersisa sebagai simbol di logo, ilustrasi buku pelajaran, dan penyesalan kolektif di masa depan—sementara hutannya telah lenyap dan kita kehilangan lebih dari sekadar seekor harimau.(*)











