• Beranda
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
GALASIBOT.CO.ID
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
Tidak ada
Tampilkan semua
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
Tidak ada
Tampilkan semua
GALASIBOT.CO.ID
Tidak ada
Tampilkan semua
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
Home Opini

IRONI DI BALIK TEROMPET HARI PENDIDIKAN: Ketika Negara Merayakan, Pendidikan Terabaikan

Oleh: Bung Gilang Resti Prilegawa Sitorus Wakil Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan DPD GMNI Sumatera Utara

Redaksi Galasibot.co.id
3 Mei 2026
/ Opini
0 0
0
IRONI DI BALIK TEROMPET HARI PENDIDIKAN: Ketika Negara Merayakan, Pendidikan Terabaikan

Bung Gilang Resti Prilegawa Sitorus Wakil Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan DPD GMNI Sumatera Utara

Share on FacebookShare on Twitter

IRONI DI BALIK TEROMPET HARI PENDIDIKAN: Ketika Negara Merayakan, Pendidikan Terabaikan

Setiap tanggal 2 Mei, bangsa ini seolah serempak mengumandangkan puja-puji bagi pendidikan. Upacara digelar, pidato dibacakan, dan linimasa media sosial dibanjiri narasi optimisme. Nama Ki Hajar Dewantara kembali dielu-elukan sebagai simbol dedikasi terhadap masa depan bangsa.

Namun di balik riuhnya seremoni itu, ada pertanyaan yang tidak boleh dihindari: apakah pendidikan Indonesia benar-benar sedang baik-baik saja?

Baca Juga

May Day 2026: Aktivis Mahasiswa Soroti Perlindungan Buruh, Negara Diminta Jangan Ciptakan “Buah Simalakama”

Mengembalikan Marwah Sinaga Sitolu Ompu: Menolak Egoisme di Ambang Mubes XVI PPTSB

Peredaran Narkoba di Simalungun Diungkap, Tokoh Pemuda Desak Polisi Tangkap Bandar Besar

Jawabannya pahit—tidak.

Di daerah, sekolah masih berjuang dengan keterbatasan fasilitas. Akses teknologi belum merata, ruang kelas tak layak, dan kekurangan tenaga pendidik menjadi kenyataan sehari-hari. Sementara di kota, pendidikan melesat cepat, menghadirkan standar tinggi yang tak semua mampu menjangkaunya. Ketimpangan ini bukan lagi sekadar statistik—ia telah menjadi jurang sosial yang nyata.

Lebih jauh, pendidikan tinggi kini bergerak ke arah yang mengkhawatirkan. Biaya kuliah terus meningkat, menjauhkan akses dari kelompok ekonomi bawah. Pendidikan yang semestinya menjadi hak, perlahan berubah menjadi privilese. Di sisi lain, lulusan terus bertambah, tetapi tidak diimbangi dengan kesiapan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja. Akibatnya, ijazah kehilangan daya tawarnya.

Ironi semakin terasa ketika kita berbicara tentang nasib guru. Ratusan ribu guru honorer masih hidup dalam ketidakpastian. Mereka mengabdi tanpa jaminan kesejahteraan yang layak. Honor minim, perlindungan lemah, dan masa depan yang kabur. Negara seolah lupa bahwa kualitas pendidikan tidak mungkin melampaui kualitas guru yang dipinggirkan.

Di tengah situasi itu, kurikulum terus berganti. Setiap pergantian rezim, lahir kebijakan baru—tanpa fondasi riset yang kuat dan kesiapan implementasi di lapangan. Guru dipaksa beradaptasi cepat, pelatihan terbatas, dan murid menjadi korban eksperimen kebijakan. Proses belajar kehilangan makna, berubah menjadi rutinitas administratif: datang, duduk, mencatat, pulang—tanpa daya kritis, tanpa arah.

Puncak ironi terletak pada anggaran pendidikan. Pemerintah mengklaim telah memenuhi amanat konstitusi: 20% APBN untuk pendidikan. Namun realitasnya patut dipertanyakan. Anggaran tersebut kerap “diperluas” dengan memasukkan program lintas sektor, sehingga substansi pendidikan justru tereduksi. Ini bukan sekadar soal angka—ini soal komitmen dan kejujuran negara.

Pendidikan bukan hanya ruang kelas. Ia adalah fondasi peradaban. Ia menentukan kualitas manusia, arah bangsa, dan masa depan Indonesia.

Sebagai representasi suara kritis mahasiswa, Bidang Penelitian dan Pengembangan DPD GMNI Sumatera Utara menyampaikan sikap tegas:

  1. Kembalikan 20% APBN untuk pendidikan murni, bukan manipulasi administratif dengan memasukkan program di luar sektor pendidikan.
  2. Selesaikan persoalan guru honorer secara sistemik dan manusiawi, bukan sekadar insentif yang jauh dari kata layak.
  3. Hentikan eksperimen kurikulum tanpa basis riset, lakukan evaluasi menyeluruh sebelum reformasi.
  4. Hormati dan jalankan putusan Mahkamah Konstitusi, termasuk jika gugatan terkait APBN 2026 dikabulkan—tanpa kompromi.

Pendidikan sejati tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Ia hidup di ruang sidang, di jalanan demonstrasi, dalam tulisan-tulisan kritis, dan dalam keberanian untuk berkata: ini tidak benar, dan kami tidak akan diam.

Selamat Hari Pendidikan Nasional 2026.
Sudah saatnya kita berhenti sekadar merayakan—dan mulai membenahi.(*)

 

Tags: #anggaran-20-persen-apbn-pendidikan-fakta#gmni-sumut-suara-mahasiswa-pendidikan#ironi-hardiknas-2026-kritik-pendidikan#ketimpangan-pendidikan-daerah-vs-kota#nasib-guru-honorer-indonesia-terkini
SendShareTweet
Kembali

Koordinator Wartawan DPRD Medan Gelar Raker ke-2, Perkuat Profesionalisme

Baca Juga

May Day 2026: Aktivis Mahasiswa Soroti Perlindungan Buruh, Negara Diminta Jangan Ciptakan “Buah Simalakama”
Opini

May Day 2026: Aktivis Mahasiswa Soroti Perlindungan Buruh, Negara Diminta Jangan Ciptakan “Buah Simalakama”

1 Mei 2026
Mengembalikan Marwah Sinaga Sitolu Ompu: Menolak Egoisme di Ambang Mubes XVI PPTSB
Budaya

Mengembalikan Marwah Sinaga Sitolu Ompu: Menolak Egoisme di Ambang Mubes XVI PPTSB

30 April 2026
Peredaran Narkoba di Simalungun Diungkap, Tokoh Pemuda Desak Polisi Tangkap Bandar Besar
Opini

Peredaran Narkoba di Simalungun Diungkap, Tokoh Pemuda Desak Polisi Tangkap Bandar Besar

25 April 2026
Low Tourism Danau Toba Jadi Pilihan Strategis Keberlanjutan Kawasan Wisata Unggulan Nasional
Opini

Low Tourism Danau Toba Jadi Pilihan Strategis Keberlanjutan Kawasan Wisata Unggulan Nasional

23 April 2026
Skandal BNI Aek Nabara: OJK Turun Tangan, “Sihir” Viralitas Paksa Bank Pelat Merah Bayar Ganti Rugi
Opini

Skandal BNI Aek Nabara: OJK Turun Tangan, “Sihir” Viralitas Paksa Bank Pelat Merah Bayar Ganti Rugi

19 April 2026
Saat Dalih AI Menabrak Realitas Hukum: Di Balik Laporan JK terhadap Rismon Sianipar
Opini

Saat Dalih AI Menabrak Realitas Hukum: Di Balik Laporan JK terhadap Rismon Sianipar

10 April 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

POPULER

  • Sikapi Pernyataan Jusuf Kalla, DPD Patria Sumut: Martir Kristen Itu Kasih, Bukan Membunuh

    Sikapi Pernyataan Jusuf Kalla, DPD Patria Sumut: Martir Kristen Itu Kasih, Bukan Membunuh

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sinergi Budaya dan Alam: PPTSB dan Toba Caldera UNESCO Global Geopark Resmi Jalin Kerja Sama Strategis

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • BPODT dan Ilusi Kesejahteraan: Infrastruktur Tertinggal di Pesisir Danau Toba, Simalungun

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • SD Budi Murni 2 Medan Raih Juara II Umum Kejuaraan Karate TAKO Piala Direktur POLMED 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Harianto Sinaga Tantang Debat Terbuka Bane Raja Manalu: “BPODT Itu Perbaiki, Bukan Bubarkan!”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Melihat Titik Temu Migrasi “Ompu Jorang Raja Sinaga” Dengan “Pomparan Ompu Jorang Raja Sinaga”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sarjana atau Tertinggal: Cermin Keras dari Budaya Pendidikan Orang Batak

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
GALASIBOT.CO.ID

© 2015 GALASIBOT.CO.ID

Navigate Site

  • Beranda
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

Tidak ada
Tampilkan semua
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal

© 2015 GALASIBOT.CO.ID

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In