Low tourism Danau Toba menjadi pendekatan yang dinilai paling tepat untuk menjaga keberlanjutan kawasan wisata unggulan nasional. Pemerhati pembangunan, Dr Wilmar Eliaser Simandjorang, menegaskan bahwa pergeseran dari mass tourism ke low tourism harus segera dilakukan berbasis kajian ilmiah.
Ia menilai, pendekatan lama yang berorientasi pada jumlah kunjungan wisatawan sudah tidak relevan jika tidak diimbangi dengan daya dukung lingkungan. Selain itu, tekanan terhadap ekosistem kawasan Danau Toba terus meningkat seiring tingginya arus wisatawan.
Kritik terhadap Mass Tourism
Wilmar mengakui bahwa konsep mass tourism selama ini memberikan dampak ekonomi yang signifikan. Sektor transportasi, perhotelan, hingga perdagangan tumbuh seiring meningkatnya kunjungan wisatawan.
Namun, di sisi lain, ia menyoroti dampak negatif yang mulai muncul. Degradasi lingkungan, kepadatan kawasan wisata, serta menurunnya kualitas pengalaman wisatawan menjadi persoalan serius.
“Jika tidak dikendalikan, mass tourism justru akan merusak daya tarik utama Danau Toba itu sendiri,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menilai pendekatan berbasis kuantitas tanpa kontrol hanya akan menciptakan pertumbuhan semu yang tidak berkelanjutan.
Low Tourism Danau Toba: Fokus pada Kualitas
Sebagai alternatif, low tourism Danau Toba menawarkan pendekatan yang lebih selektif dan terukur. Konsep ini menitikberatkan pada kualitas kunjungan, bukan sekadar jumlah wisatawan.
Selain itu, low tourism membatasi jumlah pengunjung sesuai daya dukung lingkungan. Hal ini memungkinkan kawasan tetap terjaga, sekaligus memberikan pengalaman wisata yang lebih eksklusif dan nyaman.
Sementara itu, pendekatan ini juga membuka peluang peningkatan pendapatan yang lebih stabil. Wisatawan dengan kualitas pengalaman tinggi cenderung memberikan dampak ekonomi yang lebih berkelanjutan bagi masyarakat lokal.
“Ini bukan soal membatasi wisatawan, tetapi mengatur agar dampaknya tetap positif bagi lingkungan dan masyarakat,” ujar Wilmar.
Sejalan dengan Konsep Geopark Kaldera Toba
Di sisi lain, Wilmar menilai bahwa konsep low tourism Danau Toba sejalan dengan penguatan kawasan Geopark Kaldera Toba sebagai destinasi kelas dunia.
Geopark menuntut pengelolaan berbasis konservasi, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat. Oleh karena itu, pendekatan mass tourism dinilai tidak sepenuhnya selaras dengan prinsip tersebut.
Namun demikian, dengan penerapan low tourism yang konsisten, kawasan Danau Toba tetap dapat berkembang tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan.
Dorongan Kebijakan Berbasis Ilmiah
Wilmar juga mendorong pemerintah untuk mengambil kebijakan berbasis riset dalam mengelola kawasan wisata. Ia menegaskan bahwa pembangunan pariwisata harus mempertimbangkan daya dukung lingkungan secara terukur.
Selain itu, keterlibatan akademisi dan masyarakat lokal menjadi kunci dalam merancang model pengelolaan yang berkelanjutan.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa keberhasilan pariwisata tidak hanya diukur dari angka kunjungan, tetapi dari dampak jangka panjang terhadap lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.
Masa Depan Pariwisata Berkelanjutan
Di penutup, Wilmar menegaskan bahwa low tourism Danau Toba bukan sekadar konsep, melainkan kebutuhan mendesak. Ia menilai perubahan paradigma ini menjadi langkah strategis untuk menjaga keseimbangan antara ekonomi dan ekologi.
Selain itu, pendekatan ini diyakini mampu memperkuat posisi Danau Toba sebagai destinasi wisata kelas dunia yang berkelanjutan.
“Dengan pengelolaan yang tepat, Danau Toba bisa tetap maju tanpa kehilangan jati dirinya,” tutupnya.(*)











