• Beranda
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
Selasa, November 3, 2026
  • Login
GALASIBOT.CO.ID
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
    • Buku
Tidak ada
Tampilkan semua
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
    • Buku
Tidak ada
Tampilkan semua
GALASIBOT.CO.ID
Tidak ada
Tampilkan semua
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
Home Opini

Low Tourism Danau Toba Jadi Pilihan Strategis Keberlanjutan Kawasan Wisata Unggulan Nasional

Redaksi Galasibot.co.id
23 April 2026
/ Opini
0 0
0
Low Tourism Danau Toba Jadi Pilihan Strategis Keberlanjutan Kawasan Wisata Unggulan Nasional

Dr Wilmar E Simanjorang

Share on FacebookShare on Twitter

Low tourism Danau Toba menjadi pendekatan yang dinilai paling tepat untuk menjaga keberlanjutan kawasan wisata unggulan nasional. Pemerhati pembangunan, Dr Wilmar Eliaser Simandjorang, menegaskan bahwa pergeseran dari mass tourism ke low tourism harus segera dilakukan berbasis kajian ilmiah.

Ia menilai, pendekatan lama yang berorientasi pada jumlah kunjungan wisatawan sudah tidak relevan jika tidak diimbangi dengan daya dukung lingkungan. Selain itu, tekanan terhadap ekosistem kawasan Danau Toba terus meningkat seiring tingginya arus wisatawan.

Baca Juga

Putusan MA Bukan Otomatis Pemberhentian Wakil Presiden: Menjaga Batas Kewenangan dan Kepastian Hukum Konstitusional

Sumpah Pemuda 2026: Pemuda Bersumpah, Elit Berkuasa? 

Menyingkap Tabir 700 Ribu Perusahaan Cangkang: Mengapa Transparansi Beneficial Ownership Harus Dikerjar Tuntas?

Kritik terhadap Mass Tourism

Wilmar mengakui bahwa konsep mass tourism selama ini memberikan dampak ekonomi yang signifikan. Sektor transportasi, perhotelan, hingga perdagangan tumbuh seiring meningkatnya kunjungan wisatawan.

Namun, di sisi lain, ia menyoroti dampak negatif yang mulai muncul. Degradasi lingkungan, kepadatan kawasan wisata, serta menurunnya kualitas pengalaman wisatawan menjadi persoalan serius.

“Jika tidak dikendalikan, mass tourism justru akan merusak daya tarik utama Danau Toba itu sendiri,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia menilai pendekatan berbasis kuantitas tanpa kontrol hanya akan menciptakan pertumbuhan semu yang tidak berkelanjutan.

Low Tourism Danau Toba: Fokus pada Kualitas

Sebagai alternatif, low tourism Danau Toba menawarkan pendekatan yang lebih selektif dan terukur. Konsep ini menitikberatkan pada kualitas kunjungan, bukan sekadar jumlah wisatawan.

Selain itu, low tourism membatasi jumlah pengunjung sesuai daya dukung lingkungan. Hal ini memungkinkan kawasan tetap terjaga, sekaligus memberikan pengalaman wisata yang lebih eksklusif dan nyaman.

Sementara itu, pendekatan ini juga membuka peluang peningkatan pendapatan yang lebih stabil. Wisatawan dengan kualitas pengalaman tinggi cenderung memberikan dampak ekonomi yang lebih berkelanjutan bagi masyarakat lokal.

“Ini bukan soal membatasi wisatawan, tetapi mengatur agar dampaknya tetap positif bagi lingkungan dan masyarakat,” ujar Wilmar.

Sejalan dengan Konsep Geopark Kaldera Toba

Di sisi lain, Wilmar menilai bahwa konsep low tourism Danau Toba sejalan dengan penguatan kawasan Geopark Kaldera Toba sebagai destinasi kelas dunia.

Geopark menuntut pengelolaan berbasis konservasi, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat. Oleh karena itu, pendekatan mass tourism dinilai tidak sepenuhnya selaras dengan prinsip tersebut.

Namun demikian, dengan penerapan low tourism yang konsisten, kawasan Danau Toba tetap dapat berkembang tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan.

Dorongan Kebijakan Berbasis Ilmiah

Wilmar juga mendorong pemerintah untuk mengambil kebijakan berbasis riset dalam mengelola kawasan wisata. Ia menegaskan bahwa pembangunan pariwisata harus mempertimbangkan daya dukung lingkungan secara terukur.

Selain itu, keterlibatan akademisi dan masyarakat lokal menjadi kunci dalam merancang model pengelolaan yang berkelanjutan.

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa keberhasilan pariwisata tidak hanya diukur dari angka kunjungan, tetapi dari dampak jangka panjang terhadap lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.

Masa Depan Pariwisata Berkelanjutan

Di penutup, Wilmar menegaskan bahwa low tourism Danau Toba bukan sekadar konsep, melainkan kebutuhan mendesak. Ia menilai perubahan paradigma ini menjadi langkah strategis untuk menjaga keseimbangan antara ekonomi dan ekologi.

Selain itu, pendekatan ini diyakini mampu memperkuat posisi Danau Toba sebagai destinasi wisata kelas dunia yang berkelanjutan.

“Dengan pengelolaan yang tepat, Danau Toba bisa tetap maju tanpa kehilangan jati dirinya,” tutupnya.(*)

 

Tags: #DanauToba#GeoparkToba#LowTourism#PariwisataBerkelanjutan#SumutWisata
SendShareTweet
Kembali

Hutang Koperasi Rp2,9 Miliar Final, Pembayaran Mulai Berjalan

Lanjut

Bupati Taput Optimalkan Penataan Kota Tarutung

Baca Juga

Putusan MA Bukan Otomatis Pemberhentian Wakil Presiden: Menjaga Batas Kewenangan dan Kepastian Hukum Konstitusional
Opini

Putusan MA Bukan Otomatis Pemberhentian Wakil Presiden: Menjaga Batas Kewenangan dan Kepastian Hukum Konstitusional

1 November 2026
Sumpah Pemuda 2026: Pemuda Bersumpah, Elit Berkuasa? 
Opini

Sumpah Pemuda 2026: Pemuda Bersumpah, Elit Berkuasa? 

28 Oktober 2026
Menyingkap Tabir 700 Ribu Perusahaan Cangkang: Mengapa Transparansi Beneficial Ownership Harus Dikerjar Tuntas?
Medan

Menyingkap Tabir 700 Ribu Perusahaan Cangkang: Mengapa Transparansi Beneficial Ownership Harus Dikerjar Tuntas?

27 Oktober 2026
Evaluasi 2 Tahun Prabowo-Gibran: Rapor Merah Ekonomi & Realitas Rakyat
News

Evaluasi 2 Tahun Prabowo-Gibran: Rapor Merah Ekonomi & Realitas Rakyat

21 Oktober 2026
Darurat “Vape Getar” dan Lingkaran Setan Narkotika: Menakar Ancaman Nyata Demografi Sumatera Utara
News

Darurat “Vape Getar” dan Lingkaran Setan Narkotika: Menakar Ancaman Nyata Demografi Sumatera Utara

11 Oktober 2026
Jebakan Formalisme Hukum: Menakar Batas Substansi dan Kewenangan dalam Putusan MK Nomor 01/PHPU.PRES-XXIV/2026
Opini

Jebakan Formalisme Hukum: Menakar Batas Substansi dan Kewenangan dalam Putusan MK Nomor 01/PHPU.PRES-XXIV/2026

10 Oktober 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

HPN 2026

POPULER

  • Tiger Sumatra Binjai Juara Umum Kejuaraan Taekwondo Piala Dansat Siber TNI

    Tiger Sumatra Binjai Juara Umum Kejuaraan Taekwondo Piala Dansat Siber TNI

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menanti Dua Dekade Air Bersih: Asa Baru Warga Griya Kencana Usai Disinggahi Walikota Medan Rico Waas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumpah Pemuda 2026: Pemuda Bersumpah, Elit Berkuasa? 

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Warga  Desak Transparansi Kompensasi dan Legalitas Proyek Perumahan, Antonius Tumanggor Minta Pemko Medan Turun Tangan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mengurai Teror Bom Molotov di Namorambe: Polisi Naikkan Status Penyelidikan dan Ancam Jemput Paksa Saksi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Jebakan Formalisme Hukum: Menakar Batas Substansi dan Kewenangan dalam Putusan MK Nomor 01/PHPU.PRES-XXIV/2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Melihat Titik Temu Migrasi “Ompu Jorang Raja Sinaga” Dengan “Pomparan Ompu Jorang Raja Sinaga”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
GALASIBOT.CO.ID

© 2015 GALASIBOT.CO.ID

Navigate Site

  • Beranda
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

Tidak ada
Tampilkan semua
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
    • Buku

© 2015 GALASIBOT.CO.ID

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In