MEDAN | galasibot.co.id
Sebuah langkah besar diambil oleh Parsadaan Pomparan Toga Sinaga dohot Boru (PPTSB) dalam upaya melestarikan warisan leluhur dan mendukung pariwisata berkelanjutan. Bertempat di Gedung Togsin, Medan, Minggu (12/4/2026), dilakukan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara PPTSB Pusat dengan Badan Pengelola Toba Caldera UNESCO Global Geopark (BP TCUGGp).
Kerja sama ini menandai kolaborasi erat antara entitas berbasis marga dengan lembaga internasional untuk memperkuat narasi budaya Batak di kawasan Danau Toba. Nota kesepahaman tersebut ditandatangani langsung oleh General Manager BP TCUGGp, Dr. Azizul Kholis, dan Ketua Umum PPTSB Pusat, Ir. Edison Sinaga.
Komitmen Lima Tahun untuk Bumi
Kesepakatan strategis ini mencakup jangka waktu lima tahun ke depan, yang berfokus pada bidang pendidikan, inovasi pariwisata, penguatan ekonomi lokal, pembinaan generasi muda, hingga pelestarian lingkungan hidup.
Ketua Umum PPTSB Pusat, Ir. Edison Sinaga, menyatakan bahwa kerja sama ini merupakan perwujudan tanggung jawab sosial organisasi dalam menjaga ekosistem Danau Toba. Marga Sinaga, menurutnya, memiliki keterikatan sejarah yang sangat kuat dengan tanah Samosir.
“MoU ini bukan sekadar tanda tangan di atas kertas, melainkan komitmen nyata kami untuk ikut serta membangun kawasan Toba Caldera. Kami ingin kekayaan budaya Sinaga menjadi bagian dari daya tarik wisata kelas dunia,” ujar Edison.
Menjaga Status “Green Card” UNESCO
Senada dengan itu, Dr. Azizul Kholis menyambut hangat inisiatif ini. Ia menilai keterlibatan komunitas adat dan marga sangat vital dalam mempertahankan status Geopark dunia. Saat ini, Toba Caldera telah mengantongi status “Green Card” dari UNESCO.
“Pilar utama Geopark adalah keragaman geologi, hayati, dan budaya. PPTSB memiliki peran besar dalam pilar budaya untuk mengedukasi masyarakat dan wisatawan melalui jaringan sosialnya yang kuat,” ungkap Azizul.
Tantangan Eksekusi: Bukan Sekadar Dokumen
Meski optimisme meluap, suara kritis muncul dari tokoh lingkungan hidup sekaligus anggota Dewan Pakar PPTSB,Dr Wilmar Eliaser Simandjorang. Ia menegaskan bahwa tantangan utama saat ini adalah keberanian mengeksekusi rencana di lapangan.
“Kerja sama ini akan diuji bukan oleh dokumennya, tetapi oleh jejaknya di lapangan—apakah lingkungan semakin terjaga, masyarakat merasakan perubahan, dan generasi muda benar-benar terlibat,” tegas Wilmar dalam acara itu, Senin (13/4/2026).
Dukungan Pengurus dan Program Kerja
Hadir dalam prosesi tersebut Sekjen PPTSB Pusat Edward Sinaga SH, Ketua Yayasan PPTSB Letkol (Purn) Hombar Sinaga, serta jajaran Dewan Pakar seperti Dr. Aldon Sinaga dan Osbet Sinaga. Dari pihak BP TCUGGp, hadir para manajer kunci yakni Petrus Parlindungan Purba, Tikwan Raya Siregar, dan Ovi Vensus Samosir.
Pasca penandatanganan ini, kedua pihak akan merancang program nyata, mulai dari pengembangan destinasi wisata berbasis sejarah marga, penghijauan berbasis komunitas, hingga pelaksanaan Geofest 2026. Kolaborasi ini diharapkan memastikan bahwa nilai-nilai kearifan lokal tetap terjaga di tengah arus modernisasi pariwisata dunia.(*)










