Parapat | galasibot.co.id
Pernyataan keras anggota DPR RI, Bane Raja Manalu, yang mengusulkan pembubaran Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT) memicu reaksi panas dari pelaku pariwisata di kawasan Danau Toba. Harianto Sinaga, SE, tokoh sekaligus praktisi pariwisata setempat, menilai narasi pembubaran tersebut sangat dangkal dan tidak menyentuh akar permasalahan strategis nasional.
### **Kritik Bukan Berarti Mematikan Institusi**
Harianto menegaskan bahwa BPODT lahir dari landasan hukum yang kuat, yakni **PP No. 50 Tahun 2011** dan **Perpres No. 49 Tahun 2016**. Menurutnya, jika saat ini BPODT dinilai kurang maksimal, yang perlu dievaluasi adalah implementasinya, bukan membubarkan lembaganya.
> “Masalahnya jelas: mandat tidak dijalankan dengan benar. BPODT saat ini seolah dipaksa menjadi Badan Layanan Umum (BLU) yang akhirnya terjebak dalam kesibukan administratif, bukan menjalankan fungsi utamanya sebagai dirigen orkestrasi pembangunan,” ujar Harianto.
### **Tantang Debat Terbuka dan Data**
Menanggapi opini Bane Raja Manalu yang menyebut anggaran Rp30 Miliar tidak berguna, Harianto menyebut argumen tersebut terlalu populis. Ia pun secara terbuka menantang politisi tersebut untuk beradu argumen dalam forum resmi.
“Saya tantang Bane Raja Manalu debat terbuka. Mari kita bahas regulasi, bahas data, bukan sekadar opini di media. Danau Toba tidak butuh komentar sinis; Danau Toba butuh keberanian untuk memperbaiki sistem,” tegasnya.
### **Solusi Strategis untuk Danau Toba**
Alih-alih menyuarakan pembubaran, Harianto mendesak DPR RI untuk fokus pada tiga poin krusial demi masa depan Destinasi Super Prioritas ini:
1. **Penyusunan RIPPARNAS Baru:** Mengingat PP 50/2011 akan berakhir pada 2025.
2. **Restorasi Fungsi:** Mengembalikan fungsi BPODT sesuai amanat Perpres sebagai koordinator lintas sektor.
3. **Penguatan Koordinasi:** Memperkuat sinkronisasi antar kementerian agar tidak ada ego sektoral.
Menurut Harianto, Danau Toba adalah *legacy* besar Presiden Joko Widodo yang harus dijaga dan disempurnakan. “Jangan karena masalah teknis, kita menghancurkan rumahnya. Perbaiki manajemennya, kuatkan koordinasinya. Bukan dibubarkan,” pungkasnya.(*)











