Medan | galasibot.co.id
Sebuah laporan terbaru mengungkapkan bahwa larangan ekspor nikel yang diterapkan pada tahun 2020 telah memberikan dampak yang signifikan pada ekspor produk turunan nikel pada tahun 2022. Data menunjukkan lonjakan ekspor yang mencapai 33,8 miliar USD, menandai peningkatan yang sangat signifikan dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Menurut data yang tercatat, ekspor produk turunan nikel pada tahun 2017 hanya mencapai 3,3 miliar dolar. Namun, setelah diberlakukan larangan ekspor nikel pada tahun 2020, ekspor produk turunan nikel pada tahun 2022 melonjak secara dramatis.
Peningkatan nilai tambah produk turunan nikel tersebut terutama terjadi pada produk seperti nikel ore, nikel sulfat, prekursor, katoda, dan sel baterai. Nickel ore meningkat sebanyak 11,4 kali, sementara nikel sulfat, prekursor, katoda, dan sel baterai masing-masing meningkat secara signifikan sebanyak 19,4 kali, 37,5 kali, dan bahkan mencapai 67,7 kali.
Indonesia, dengan cadangan biji nikel terbesar di dunia, memegang peran sentral dalam pasar nikel global dengan porsi sebanyak 23,7% dari cadangan biji nikel di dunia. Di belakang Indonesia, Australia dan Brazil memegang peran sebagai produsen biji nikel terbesar kedua dan ketiga secara berturut-turut.
Sementara itu, nikel menjadi komponen vital dalam baterai mobil listrik, di mana baterai ini merupakan salah satu elemen paling mahal dalam produksi mobil listrik. Sebagai contoh, komponen baterai jenis NCA (Nikel-Kobalt-Aluminium) terdiri dari 80% nikel, 15% kobalt, dan 5% aluminium, sementara jenis NMC 811 (Nikel-Mangan-Kobalt) terdiri dari 80% nikel, 10% mangan, dan 10% kobalt.
Dengan demikian, larangan ekspor nikel telah membawa konsekuensi yang positif bagi industri turunan nikel, sekaligus menegaskan peran penting Indonesia dalam pasar global komoditas ini.(*)










