• Beranda
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
Kamis, September 24, 2026
  • Login
GALASIBOT.CO.ID
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
    • Buku
Tidak ada
Tampilkan semua
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
    • Buku
Tidak ada
Tampilkan semua
GALASIBOT.CO.ID
Tidak ada
Tampilkan semua
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
Home Opini

Banjir Bandang di Parapat: Protes Masyarakat dan Komitmen Bersama untuk Melindungi Kelestarian Alam

Redaksi Galasibot.co.id
24 Maret 2025
/ Opini
0 0
0
Banjir Bandang di Parapat: Protes Masyarakat dan Komitmen Bersama untuk Melindungi Kelestarian Alam
Share on FacebookShare on Twitter

Medan | galasibot.co.id

 

Baca Juga

Galasibot dan Palti Raja : Menata Masa Depan PPTSB melalui Kepemimpinan, Program, dan Regenerasi (Refleksi Menjelang Mubes XVI PPTSB Tahun 2026)

Menagih Kedaulatan Manusia di Balik Megahnya Anggaran dan Paradoks “Kurikulum Robotik”

Menyalakan Nalar, Merawat Realitas: Meneguhkan Kembali Pilar Perjuangan PMKRI di Kampus dan Masyarakat

Bencana banjir bandang yang mengguncang Parapat pada Minggu, 16 Maret 2025, tidak hanya mengakibatkan kerusakan yang signifikan di kawasan tersebut, tetapi juga memicu gelombang protes dari berbagai kalangan masyarakat. Aktivis lingkungan, akademisi, dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) menganggap bencana ini sebagai akibat dari kelalaian manusia, terutama terkait dengan kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh aktivitas pembalakan liar dan pengelolaan hutan yang tidak ramah lingkungan.

 

Menurut Osril Limbong, aktivis 98 dan tokoh pemuda Sumut, bencana ini bukan hanya sebuah musibah alam, melainkan juga sebuah peringatan mengenai ketidakpedulian terhadap kelestarian alam. Limbong, yang juga merupakan seorang peneliti dari Sumut Institute, menjelaskan bahwa Parapat dan sekitarnya telah lama menghadapi tekanan besar dalam mempertahankan keseimbangan ekosistemnya. Salah satu faktor utama yang menyebabkan kerusakan adalah kebijakan pemberian izin usaha pemanfaatan hasil hutan (IPKTH) dan hak pengusahaan hutan (HPH), yang justru memperburuk kerusakan lingkungan.

 

“Praktik pembalakan liar yang terus terjadi tanpa pengawasan yang memadai telah merusak keseimbangan alam. Selain itu, aktivitas industri yang merambah ke kawasan hutan semakin menambah beban lingkungan. Ini bukan hanya bencana alam, tetapi akibat dari kebijakan dan tindakan manusia yang tidak peduli terhadap lingkungan,” ujar Limbong dalam wawancara dengan media.

 

Banjir bandang yang terjadi di Parapat ini menjadi bukti nyata bahwa bencana alam yang melanda tidak lepas dari dampak buruk dari eksploitasi sumber daya alam. Curah hujan yang tinggi, yang mengakibatkan meluapnya Sungai di kawasan itu, ternyata memperburuk kondisi tanah yang sudah gundul akibat penebangan pohon secara liar. Tanah yang tidak stabil ini meningkatkan potensi longsor dan banjir bandang yang memporak-porandakan pemukiman dan sumber daya masyarakat setempat. Akibatnya, warga setempat tidak hanya kehilangan tempat tinggal, tetapi juga mata pencaharian mereka, yang sebagian besar bergantung pada pertanian dan perikanan.

 

Menanggapi hal ini, masyarakat Parapat bersama dengan berbagai elemen masyarakat lainnya, mulai dari tokoh agama, tokoh masyarakat, akademisi, hingga LSM, menyuarakan komitmen bersama untuk melindungi kawasan Kecamatan Girsang Sipangan Bolon yang berbatasan langsung dengan wilayah Toba. Komitmen ini bertujuan untuk memastikan kawasan ini tidak hanya dijaga dari kegiatan merusak, tetapi juga dilestarikan sebagai kawasan konservasi alam yang dapat mencegah perubahan statusnya menjadi kawasan industri besar.

 

Komitmen tersebut mencakup beberapa poin penting, antara lain pengalihan status kawasan yang rawan bencana ini dari area yang bisa dikelola untuk kepentingan industri menjadi kawasan konservasi alam. Salah satu langkah yang diusulkan adalah pengurangan jumlah izin usaha pemanfaatan hasil hutan (IPKTH) yang diberikan kepada perusahaan-perusahaan besar, serta pembatasan aktivitas yang berpotensi merusak ekosistem di kawasan tersebut.

 

“Upaya ini bertujuan untuk menyelamatkan ekosistem yang ada, agar Parapat dan wilayah sekitarnya tidak hanya menjadi tempat yang indah untuk dikunjungi, tetapi juga menjadi tempat yang aman bagi masyarakat untuk hidup dan bekerja,” ungkap salah seorang perwakilan masyarakat Parapat.

 

Selain itu, masyarakat juga menuntut agar pemerintah pusat lebih serius dalam menanggapi masalah kerusakan lingkungan ini. Mereka meminta pemerintah untuk memperkuat pengawasan terhadap praktik illegal logging yang terus merambah hutan-hutan sekitar kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS), serta menyediakan alternatif pengelolaan hutan yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.

 

Jika komitmen ini dapat terwujud, maka diharapkan Parapat, yang dikenal dengan pesona alam Danau Toba, dapat terhindar dari kerusakan lingkungan yang lebih parah. Keindahan alam yang menjadi daya tarik utama sektor pariwisata setempat akan tetap terjaga dan dapat dinikmati oleh generasi mendatang. Upaya ini juga penting untuk menciptakan keberlanjutan bagi masyarakat yang bergantung pada sumber daya alam di sekitar mereka.

 

Bencana ini, meskipun membawa duka, juga membuka mata banyak pihak akan pentingnya menjaga alam demi keberlanjutan kehidupan. Sebuah harapan besar kini tertumpu pada komitmen masyarakat dan berbagai pihak terkait untuk melindungi kawasan Parapat agar tidak mengalami kerusakan lebih lanjut, demi masa depan yang lebih baik bagi generasi mendatang.(*)

Tags: Banjir Bandang Parapat 2025Komitmen Bersama Lindungi AlamPerlindungan Lingkungan Parapat
SendShareTweet
Kembali

PPPT Siapkan Program Kerja Strategis untuk Percepatan Pembentukan Provinsi Tapanuli: Menyongsong Periode 22 Maret – 31 Mei 2025

Lanjut

Mengungkap Penyebab Banjir Bandang di Parapat, Danau Toba: Dampak Alih Fungsi Hutan dan Daya Dukung Ekosistem yang Menurun

Baca Juga

Galasibot dan Palti Raja : Menata Masa Depan PPTSB melalui Kepemimpinan, Program, dan Regenerasi (Refleksi Menjelang Mubes XVI PPTSB Tahun 2026)
Budaya

Galasibot dan Palti Raja : Menata Masa Depan PPTSB melalui Kepemimpinan, Program, dan Regenerasi (Refleksi Menjelang Mubes XVI PPTSB Tahun 2026)

20 September 2026
Menagih Kedaulatan Manusia di Balik Megahnya Anggaran dan Paradoks “Kurikulum Robotik”
Opini

Menagih Kedaulatan Manusia di Balik Megahnya Anggaran dan Paradoks “Kurikulum Robotik”

17 September 2026
Menyalakan Nalar, Merawat Realitas: Meneguhkan Kembali Pilar Perjuangan PMKRI di Kampus dan Masyarakat
Opini

Menyalakan Nalar, Merawat Realitas: Meneguhkan Kembali Pilar Perjuangan PMKRI di Kampus dan Masyarakat

14 September 2026
Opini

10 September 2026
Membedah Dugaan Pidana Korporasi PT Toba Pulp Lestari: Antara Kejahatan Individu dan Korporasi
Hukum

Membedah Dugaan Pidana Korporasi PT Toba Pulp Lestari: Antara Kejahatan Individu dan Korporasi

9 September 2026
Memiskinkan Kejahatan vs Menjaga Keadilan: Menakar Arah RUU Perampasan Aset
Opini

Memiskinkan Kejahatan vs Menjaga Keadilan: Menakar Arah RUU Perampasan Aset

1 September 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

HPN 2026

POPULER

  • Rekonsiliasi Jakarta Raya: Saatnya Menguatkan BPH dan Menjaga Marwah PPTSB

    Rekonsiliasi Jakarta Raya: Saatnya Menguatkan BPH dan Menjaga Marwah PPTSB

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 Hari Tidur di Polsek Namorambe, Korban Teror Bom Molotov Tagih Ketegasan Polisi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Konsolidasi Marga Sinaga: Sairon Deklarasi Maju Calon Ketum PPTSB 2026-2030

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dugaan Pungutan Liar di MAN 2 Tanjung Pura Langkat Didorong ke Kejatisu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Melihat Titik Temu Migrasi “Ompu Jorang Raja Sinaga” Dengan “Pomparan Ompu Jorang Raja Sinaga”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Eksklusif Wawancara Yohanes Suhardin: Dari Ruang Kuliah Menuju Panggung Advokasi Demi Penegakan Hukum Tanpa Politik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Koperasi Merah Putih di Taput Mandek, Tumonggi: Jangan Jadi Program di Atas Kertas!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
GALASIBOT.CO.ID

© 2015 GALASIBOT.CO.ID

Navigate Site

  • Beranda
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

Tidak ada
Tampilkan semua
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
    • Buku

© 2015 GALASIBOT.CO.ID

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In