• Beranda
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
GALASIBOT.CO.ID
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
Tidak ada
Tampilkan semua
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
Tidak ada
Tampilkan semua
GALASIBOT.CO.ID
Tidak ada
Tampilkan semua
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
Home News

Mengungkap Penyebab Banjir Bandang di Parapat, Danau Toba: Dampak Alih Fungsi Hutan dan Daya Dukung Ekosistem yang Menurun

Redaksi Galasibot.co.id
24 Maret 2025
/ News
0 0
0
Mengungkap Penyebab Banjir Bandang di Parapat, Danau Toba: Dampak Alih Fungsi Hutan dan Daya Dukung Ekosistem yang Menurun
Share on FacebookShare on Twitter

Parapat | galasibot.co.id

Baca Juga

Gebyar Pajak Sumut 2026 Dongkrak PKB 30%

Jadwal Seleksi Komisi Informasi Sumut 2026–2030 Berubah, Ini Rinciannya

Mendagri Tito Tegaskan Musrenbang RKPD 2027 Harus Sinkron dengan Nasional, Bobby Nasution: Ini Fase Ekspansi Krusial

 

Tim Ekspedisi Banjir Bandang Parapat, yang terdiri dari akademisi, rohaniawan, dan aktivis lingkungan dari Kelompok Studi dan Pengembangan Prakarsa Masyarakat (KSPPM) serta Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Tano Batak, melakukan penelusuran langsung alur longsor yang terjadi di daerah Simarbalatuk-Sitahoan-Sibatuloting. Ekspedisi ini bertujuan untuk mengungkap penyebab banjir bandang yang melanda Kota Parapat pada 16 Maret 2025.

Penelusuran dan Temuan Tim Ekspedisi

 

Tim memulai perjalanan dari harangan Bangun Dolok dan mengikuti aliran Sungai Batu Gaga yang membanjiri Kota Parapat. Selama perjalanan, ditemukan adanya aktivitas perladangan oleh masyarakat sekitar yang masih menerapkan sistem agroforestri, dengan tanaman keras seperti kopi, cengkeh, coklat, salak, dan durian, yang berinteraksi dengan pohon-pohon alami. Meskipun sistem perladangan ini ramah lingkungan, tim menemukan bahwa longsor yang terjadi di Simarbalatuk menjadi salah satu pemicu utama banjir.

 

Perjalanan berlanjut menuju Simarbalatuk, di mana tim menemukan jejak longsor di ketinggian 1.100–1.200 mdpl, dengan panjang sekitar 300-400 meter dan lebar 4–5 meter. Material longsor yang terdiri dari batu besar, sedang, dan tanah bercampur tanah liat sangat berpotensi membentuk kolam-kolam air yang bisa menjadi ancaman banjir susulan. Lokasi longsor ini berjarak sekitar 2,16 kilometer dari jembatan Sungai Batu Gaga, tempat air meluap pada 16 Maret 2025 lalu.

Analisis Penyebab Banjir Bandang

 

Meskipun hutan di sekitar titik longsor terlihat masih cukup terjaga, tim ekspedisi menemukan bahwa daya dukung lingkungan kawasan tersebut semakin menurun. Data dari riset yang dilakukan oleh KSPPM, AMAN Tano Batak, Auriga Nusantara, dan JAMSU mengungkapkan bahwa dalam 20 tahun terakhir, luas hutan alam di kawasan sekitar Parapat telah menyusut sebanyak 6.503 hektar, yang sebagian besar berubah menjadi kebun eukaliptus. Alih fungsi hutan ini diduga kuat sebagai faktor utama penurunan daya dukung alam di kawasan Simarbalatuk, yang akhirnya memicu terjadinya longsor dan banjir bandang.

 

Penurunan daya dukung lingkungan ini, yang juga diakibatkan oleh deforestasi dan perubahan iklim, semakin memperburuk kondisi ekosistem Parapat. Longsor yang terjadi menunjukkan bahwa kawasan ini sudah kehilangan kemampuan untuk menahan air hujan, yang pada akhirnya mengarah pada bencana banjir bandang.

Dampak dan Potensi Bencana Susulan

 

Banjir bandang yang terjadi pada 16 Maret 2025 bukanlah yang pertama kalinya. Sebelumnya, pada 2021, Parapat juga mengalami peristiwa serupa. Hal ini menandakan adanya masalah sistemik dalam pengelolaan ekosistem kawasan Danau Toba. Jika alih fungsi hutan terus dibiarkan tanpa pengendalian, bencana serupa diprediksi akan semakin sering terjadi, dengan dampak yang lebih besar terhadap masyarakat dan perekonomian lokal.

 

Tim ekspedisi juga mengingatkan potensi bencana susulan akibat material longsor yang masih tersangkut di lokasi. Pepohonan tumbang, batu, dan tanah yang terjebak dapat memicu banjir lebih lanjut, yang memerlukan penanganan segera untuk mencegah kerugian lebih besar.

Langkah-langkah yang Harus Diambil

 

Untuk mencegah terulangnya bencana serupa, tim mengusulkan beberapa langkah konkret yang harus segera dilakukan oleh pemerintah:

 

  1. Pembersihan Material Longsor: Segera mengirimkan tim untuk mengevakuasi dan membersihkan area longsor sebelum musim hujan berikutnya datang.
  2. Moratorium Penebangan Hutan: Pemerintah harus menegaskan moratorium penebangan hutan alam dan mengevaluasi aktivitas perusahaan yang terlibat dalam konversi hutan di kawasan ini.
  3. Restorasi Ekosistem: Melakukan penghijauan dengan menanam kembali kawasan hutan yang telah rusak, serta memprioritaskan reboisasi dengan tanaman yang dapat mendukung kestabilan tanah.
  4. Pengelolaan Hutan yang Ketat: Kebijakan pengelolaan hutan harus diperketat, dan tidak ada lagi izin eksploitasi yang merusak keseimbangan ekosistem kawasan Parapat dan Danau Toba.

Tanpa intervensi serius dari pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya, bencana ekologis seperti yang terjadi di Parapat akan terus berulang. Krisis ini merupakan akibat dari eksploitasi hutan yang tidak terkendali. Pemerintah harus bertindak tegas untuk melindungi lingkungan dan masyarakat, serta memastikan kelestarian ekosistem Danau Toba demi keberlanjutan hidup generasi mendatang.(*)

Source: Penulis :Wilfrid
Via: Editor :Baldwin
Tags: Alih Fungsi Hutan Danau TobaPenyebab Banjir Bandang ParapatRestorasi Ekosistem Parapat
SendShareTweet
Kembali

Banjir Bandang di Parapat: Protes Masyarakat dan Komitmen Bersama untuk Melindungi Kelestarian Alam

Lanjut

Dua Anggota DPRD Medan Ricuh Akhirnya Berdamai

Baca Juga

Gebyar Pajak Sumut 2026 Dongkrak PKB 30%
Ekonomi

Gebyar Pajak Sumut 2026 Dongkrak PKB 30%

22 April 2026
Jadwal Seleksi Komisi Informasi Sumut 2026–2030 Berubah, Ini Rinciannya
News

Jadwal Seleksi Komisi Informasi Sumut 2026–2030 Berubah, Ini Rinciannya

22 April 2026
Mendagri Tito Tegaskan Musrenbang RKPD 2027 Harus Sinkron dengan Nasional, Bobby Nasution: Ini Fase Ekspansi Krusial
News

Mendagri Tito Tegaskan Musrenbang RKPD 2027 Harus Sinkron dengan Nasional, Bobby Nasution: Ini Fase Ekspansi Krusial

22 April 2026
GPPMI Dukung Pernyataan Kepala BNN: Larangan Vape dalam RUU Narkotika dan Penguatan Kelembagaan Jadi Kunci Selamatkan Generasi Bangsa
News

GPPMI Dukung Pernyataan Kepala BNN: Larangan Vape dalam RUU Narkotika dan Penguatan Kelembagaan Jadi Kunci Selamatkan Generasi Bangsa

21 April 2026
PPTSB Siap Gelar Mubes XVI di Medan Oktober 2026, Fokus pada Transformasi Organisasi dan Generasi Muda
Budaya

PPTSB Siap Gelar Mubes XVI di Medan Oktober 2026, Fokus pada Transformasi Organisasi dan Generasi Muda

21 April 2026
Antisipasi Kemarau Ekstrem 2026, Bupati Taput Usulkan Pembangunan Irigasi di Rakornas Kementan
News

Antisipasi Kemarau Ekstrem 2026, Bupati Taput Usulkan Pembangunan Irigasi di Rakornas Kementan

20 April 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

POPULER

  • Sikapi Pernyataan Jusuf Kalla, DPD Patria Sumut: Martir Kristen Itu Kasih, Bukan Membunuh

    Sikapi Pernyataan Jusuf Kalla, DPD Patria Sumut: Martir Kristen Itu Kasih, Bukan Membunuh

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sarjana atau Tertinggal: Cermin Keras dari Budaya Pendidikan Orang Batak

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sinergi Budaya dan Alam: PPTSB dan Toba Caldera UNESCO Global Geopark Resmi Jalin Kerja Sama Strategis

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • BPODT dan Ilusi Kesejahteraan: Infrastruktur Tertinggal di Pesisir Danau Toba, Simalungun

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Melihat Titik Temu Migrasi “Ompu Jorang Raja Sinaga” Dengan “Pomparan Ompu Jorang Raja Sinaga”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • SD Budi Murni 2 Medan Raih Juara II Umum Kejuaraan Karate TAKO Piala Direktur POLMED 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Harianto Sinaga Tantang Debat Terbuka Bane Raja Manalu: “BPODT Itu Perbaiki, Bukan Bubarkan!”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
GALASIBOT.CO.ID

© 2015 GALASIBOT.CO.ID

Navigate Site

  • Beranda
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

Tidak ada
Tampilkan semua
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal

© 2015 GALASIBOT.CO.ID

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In