• Beranda
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
Jumat, Agustus 14, 2026
  • Login
GALASIBOT.CO.ID
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
    • Buku
Tidak ada
Tampilkan semua
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
    • Buku
Tidak ada
Tampilkan semua
GALASIBOT.CO.ID
Tidak ada
Tampilkan semua
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
Home Opini

Ketika Rakyat Merasa Tersisih di Tanah Airnya Membedah Paradoks Pertumbuhan Ekonomi, Anomali Keadilan Fiskal, dan Melemahnya Daya Beli di Daerah

Redaksi Galasibot.co.id
13 Agustus 2026
/ Opini
0 0
0
Ketika Rakyat Merasa Tersisih di Tanah Airnya Membedah Paradoks Pertumbuhan Ekonomi, Anomali Keadilan Fiskal, dan Melemahnya Daya Beli di Daerah
Share on FacebookShare on Twitter

Media masa nasional tidak ada yang lebih berbahaya bagi sebuah bangsa selain ketika warganya mulai merasa menjadi orang asing di negeri sendiri. Perasaan tersisih itu tidak selalu lahir dari kemiskinan ekstrem, melainkan dari akumulasi pengalaman sehari-hari: harga kebutuhan pokok yang terus melonjak, beban pajak yang kian mencekik, lapangan kerja yang makin langka, hingga kebijakan publik yang cenderung memanjakan pemilik modal ketimbang rakyat kecil yang setia membiayai negara.

Kenaikan harga kebutuhan pokok dan ketimpangan ekonomi membuat masyarakat kecil kian terdesak di tengah gempuran biaya hidup.

Baca Juga

Sekolah untuk Membebaskan, Bukan untuk Menjinakkan

Menjaga Integritas Hukum dan Keamanan Publik di Tengah Dinamika Nasional

Menjaga Stabilitas Nasional: Menolak Provokasi dan Mengawal Kehormatan HUT RI

PARADOKS MAKROEKONOMI DAN REALITAS MIKRO

Indonesia memang masih mencatat pertumbuhan ekonomi di kisaran 5 persen pada 2024–2025. Inflasi relatif terkendali dalam sasaran Bank Indonesia, dan indikator makro menunjukkan stabilitas.

Namun, di balik angka statistik yang meyakinkan tersebut, berkembang gejala struktural yang meresahkan: melemahnya sense of belonging atau rasa memiliki rakyat terhadap negaranya sendiri.

Ketika pertumbuhan ekonomi tidak dirasakan secara adil dan pelayanan publik tidak sebanding dengan pungutan pajak, lahirlah pertanyaan mendasar: apakah negara masih berdiri menopang rakyatnya?

Fenomena ini bukan sekadar akumulasi kecemasan psikologis warga, melainkan manifestasi dari masalah struktural dalam distribusi kesejahteraan, desain kebijakan fiskal, dan tata kelola sumber daya alam.

Di berbagai daerah, masyarakat menyaksikan investasi bernilai triliunan rupiah masuk menggempur wilayah mereka.

Namun, kesempatan kerja lokal sangat terbatas, kualitas lingkungan hidup memburuk, dan harga tanah melonjak tajam hingga memaksa warga asli terdorong ke pinggiran.

Di perkotaan, generasi muda terhimpit biaya hidup yang melonjak melebihi laju pendapatan. Sementara di pedesaan, petani dan nelayan terus berhadapan dengan tingginya biaya produksi serta tingginya fluktuasi harga pasar.

ANOMALI ANGKA STATISTIK DAN BEBAN FISKAL

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat kemiskinan nasional 2025 berada pada kisaran 8–9 persen dengan tingkat pengangguran terbuka sekitar 4,8–5,0 persen.

Meski secara agregat membaik, statistik ini menutupi fakta bahwa mayoritas tenaga kerja Indonesia masih terjebak di sektor informal dengan produktivitas rendah dan perlindungan sosial.

Laporan OECD turut menegaskan bahwa tantangan utama Indonesia bukanlah sekadar memicu pertumbuhan, melainkan memperbaiki kualitas lapangan kerja dan pemerataan pendapatan. “Rakyat merasa membayar pajak lebih banyak, namun memperoleh pelayanan publik dan jaminan perlindungan sosial yang semakin minimalis.”

Akar persoalan ini berakar pada paradoks pembangunan. APBN 2025 dialokasikan melebihi Rp3.600 triliun dengan target penerimaan perpajakan yang terus digenjot melalui reformasi UU Harmonisasi Peraturan Perpajakan (UU No. 7 Tahun 2021). Secara teoritis, ekspansi perpajakan diperlukan untuk membiayai infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan.

Namun, masalah utamanya terletak pada keadilan penggunaan anggaran tersebut. Ketika masyarakat menanggung beban Pajak Pertambahan Nilai (PPN), Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), pajak kendaraan, serta kenaikan tarif layanan publik, mereka mengharapkan timbal balik layanan yang prima.

Kenyataannya, antrean panjang rumah sakit, jalan daerah yang rusak, birokrasi yang berbelit, dan maraknya kasus korupsi membuat manfaat pajak menjadi samar. Rakyat merasa membayar lebih banyak, tetapi menerima manfaat yang jauh lebih sedikit.

TEKANAN KELAS MENENGAH DAN KETIMPANGAN ASET

Beban tersebut kian menghimpit seiring melemahnya daya beli masyarakat. Bank Indonesia mencatat pertumbuhan konsumsi rumah tangga cenderung moderat di tengah gejolak harga pangan dan kenaikan biaya pendidikan serta perumahan.

Kelompok kelas menengah—yang selama ini menjadi tulang punggung penerimaan pajak dan konsumsi domestik—menghadapi tekanan ekonomi yang sangat hebat.

Stagnasi pendapatan yang berpadu dengan lonjakan biaya hidup melahirkan frustrasi sosial yang meluas. Kondisi ini diperparah oleh konsentrasi kepemilikan aset produktif.

Laporan Bank Dunia menunjukkan bahwa aset ekonomi nasional masih dikuasai kelompok elite tertentu. Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang menyerap lebih dari 90 persen tenaga kerja justru kesulitan mengakses pembiayaan, teknologi, dan pasar.

Ketika kemudahan izin dan insentif fiskal lebih mudah dinikmati korporasi raksasa, rakyat kecil merasa arena kompetisi ekonomi tidak pernah berlangsung setara. Paradoks serupa terjadi pada pengelolaan sumber daya alam.

Di daerah kaya nikel, batu bara, atau kelapa sawit, masyarakat lokal justru berhadapan dengan kemiskinan, kerusakan lingkungan, dan konflik agraria.

Kekayaan alam mengalir deras ke pusat akumulasi modal, sementara daerah penghasil hanya mendapatkan dampak eksternalitas negatifnya. Rasa tersisih pun mengkristal menjadi ancaman nyata bagi kohesi sosial.

REKOMENDASI STRATEGIS DAN LANGKAH SOLUTIF

Meskipun pemerintah berargumen bahwa infrastruktur dan hilirisasi adalah investasi jangka panjang, indikator keberhasilan pembangunan tidak boleh berhenti pada angka PDB atau volume investasi semata.

Kebijakan publik harus menempatkan rakyat sebagai subjek utama pembangunan. Untuk mengatasi krisis representasi sosial ini, beberapa langkah solutif yang berorientasi pada kepentingan publik harus segera direalisasikan:

Penguatan Keadilan Fiskal: Pemerintah harus menghentikan pergeseran beban pajak ke konsumsi masyarakat bawah dan menengah.

Optimalisasi pajak harus difokuskan pada pajak kekayaan (wealth tax), aset tidak produktif, serta penindakan tegas atas penghindaran pajak oleh kelompok berpenghasilan tinggi.

Orientasi Belanja Publik Berbasis Kebutuhan Dasar:
Prioritaskan alokasi APBN untuk peningkatan kualitas pendidikan dasar, layanan kesehatan primer, transportasi umum berbiaya terjangkau, serta penyediaan air bersih dan perumahan rakyat.
Pengawasan Parlemen yang Substantif: DPR dan DPRD harus memperketat pengawasan terhadap proyek strategis nasional dan efektivitas belanja negara, dengan fokus evaluasi pada penciptaan lapangan kerja lokal dan perlindungan lingkungan.
Hilirisasi Ekonomi Inklusif Berbasis Daerah: Mendorong integrasi program hilirisasi dengan koperasi lokal, BUMDes, dan UMKM agar nilai tambah ekonomi benar-benar terdistribusi dan menetap di daerah penghasil.
Kemitraan Dunia Usaha Berkeadilan: Korporasi besar wajib membangun rantai pasok yang melibatkan pelaku usaha lokal secara setara melalui alih teknologi dan pelatihan tenaga kerja.
Penguatan Ruang Partisipasi Masyarakat Sipil: Menjamin kebebasan media dan masyarakat sipil untuk terus mengawal kebijakan publik agar proses demokrasi tidak berhenti pada ritual pemilu semata.
MENGEMBALIKAN TUAN RUMAH DI TANAH SENDIRI
Bangsa ini tidak pernah kekurangan sumber daya maupun anggaran. Yang kerap kali hilang adalah keberpihakan yang nyata dari pemangku kebijakan.
Rakyat akan selalu rela mendukung investasi dan mematuhi kewajiban perpajakan manakala mereka merasa dihormati dan dilindungi sebagai pemilik sah republik ini.
Keadilan sosial bukanlah sekadar hiasan retoris dalam Pembukaan UUD 1945, melainkan syarat mutlak bagi keberlanjutan demokrasi dan persatuan nasional.
Negara yang besar bukanlah negara yang hanya megah oleh gedung dan jalan tol, melainkan negara yang mampu memastikan setiap warganya merasa memiliki tempat yang layak dan bermartabat di tanah airnya sendiri.(*)
Source: Oleh: Joan Berlin Damanik, S.Si., M.M.
Tags: #DayaBeliMasyarakat#EkonomiDaerah #HargaBahanPokok#KeadilanFiskal#KebijakanPublik:
SendShareTweet
Kembali

Gubernur Sumut Bobby Nasution Desak Tambahan TKD dan Kejelasan Anggaran ke Mendagri

Lanjut

Pemko Medan Dukung Penuh 10 Program Pokok PKK di Peringatan HKG ke-54

Baca Juga

Sekolah untuk Membebaskan, Bukan untuk Menjinakkan
Opini

Sekolah untuk Membebaskan, Bukan untuk Menjinakkan

13 Agustus 2026
Menjaga Integritas Hukum dan Keamanan Publik di Tengah Dinamika Nasional
Opini

Menjaga Integritas Hukum dan Keamanan Publik di Tengah Dinamika Nasional

12 Agustus 2026
Menjaga Stabilitas Nasional: Menolak Provokasi dan Mengawal Kehormatan HUT RI
Opini

Menjaga Stabilitas Nasional: Menolak Provokasi dan Mengawal Kehormatan HUT RI

11 Agustus 2026
Reformasi Birokrasi Pemko Medan: Ujian Konsistensi dan Sinyal Kepemimpinan Tegas
Opini

Reformasi Birokrasi Pemko Medan: Ujian Konsistensi dan Sinyal Kepemimpinan Tegas

11 Agustus 2026
Bukti Otentik Hak Ulayat: Sejarah Enklave Marga Sinaga di Simalungun dan Perjuangan Ruang Hidup Masyarakat Adat
Opini

Bukti Otentik Hak Ulayat: Sejarah Enklave Marga Sinaga di Simalungun dan Perjuangan Ruang Hidup Masyarakat Adat

8 Agustus 2026
8 Langkah Wartawan Membuat Konten Berita di Tengah Disinformasi dan Persaingan Traffic: Jurnalisme Berkualitas Menjadi Pembeda
Opini

8 Langkah Wartawan Membuat Konten Berita di Tengah Disinformasi dan Persaingan Traffic: Jurnalisme Berkualitas Menjadi Pembeda

3 Agustus 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

HPN 2026

POPULER

  • Rumah Warga di Depan SMA Negeri 1 Namorambe Diduga Dilempar Bom Molotov, Polisi Selidiki Pelaku

    Rumah Warga di Depan SMA Negeri 1 Namorambe Diduga Dilempar Bom Molotov, Polisi Selidiki Pelaku

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gubernur Banten Andra Soni Ajak Warga Dukung Felicia br Sihombing di The Icon Indonesia SCTV

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukti Otentik Hak Ulayat: Sejarah Enklave Marga Sinaga di Simalungun dan Perjuangan Ruang Hidup Masyarakat Adat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Caroline Nababan Raih Emas dan Top Score ASMC 2026, The PRINT Apresiasi Prestasi Anak Sumut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Argentina vs Spanyol di Final Piala Dunia 2026: Messi Bidik Gelar Beruntun, Yamal Siap Tantang Sang Idola

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sidang Korupsi Bansos PENA Samosir di PN Medan: Keterangan Saksi Didengar, Massa Desak Pengusutan Aktor Lain

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • THE PRINT Gelar Peluncuran Buku Bilingual Prabowonomics dan Prabowonomics Summit 2026 di JICC

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
GALASIBOT.CO.ID

© 2015 GALASIBOT.CO.ID

Navigate Site

  • Beranda
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

Tidak ada
Tampilkan semua
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
    • Buku

© 2015 GALASIBOT.CO.ID

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In