FLORES I galasibot.co.id —Jaringan Caritas Indonesia bergerak cepat membantu penyintas gempa M7,7 di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Respons dilakukan bersama Caritas keuskupan di wilayah terdampak.
Gempa terjadi pada Sabtu (15/8/2026) pukul 04.58 WIB. Gempa berpusat sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo.
Gempa sempat memicu peringatan dini tsunami dan berdampak pada sejumlah wilayah. Jaringan Caritas kemudian mengaktifkan respons kemanusiaan untuk memenuhi kebutuhan darurat masyarakat.
Berdasarkan data BNPB yang tercantum dalam materi, gempa menyebabkan 47 orang meninggal dunia. Sebanyak 101 orang mengalami luka-luka.
Lebih dari 5.934 jiwa juga mengungsi. Pengungsi terbesar tercatat di Kabupaten Sikka sebanyak 3.356 jiwa.
Kabupaten Manggarai menyusul dengan 2.078 pengungsi. Nagekeo mencatat sekitar 500 pengungsi.
Gempa juga menimbulkan 341 gempa susulan. Kerusakan tercatat pada rumah, fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan, dan kantor pemerintah.
Caritas Aktifkan Status Tanggap Darurat
Direktur Caritas Indonesia, Romo Fredy Rante Taruk, Pr, menyatakan KWI mendukung respons darurat tersebut.
Caritas Indonesia menetapkan Skala Dampak Level III atau Orange. Jaringan tersebut juga mengaktifkan sejumlah pos layanan di empat keuskupan terdampak.
“Caritas menggerakkan semua komponen Gereja untuk bekerja sama,” kata Romo Fredy dalam keterangan yang tercantum dalam materi.
Respons tersebut menggunakan semangat One Church, One Response. Jaringan Caritas mengerahkan berbagai komponen Gereja untuk mempercepat bantuan.
Caritas Indonesia juga memobilisasi relawan terlatih dari Core Response Team (CRT). Tim tersebut membantu penanganan bencana pada masa tanggap darurat.
Kebutuhan Dasar Menjadi Prioritas
Kebutuhan mendesak penyintas mencakup tenda darurat, beras, obat-obatan, dan selimut. Bantuan lain mencakup velbed, tikar, air bersih, dan genset.
Jaringan Caritas menyiapkan posko transit mobilisasi logistik di Surabaya dan Kupang. Posko Surabaya menghimpun bantuan dari wilayah Jawa.
Caritas Keuskupan Surabaya turut mendukung pengelolaan bantuan melalui posko tersebut.
Empat Keuskupan Perkuat Respons
Di Keuskupan Agung Ende, Caritas berfokus pada pendataan kerusakan dan penanganan pengungsi.
Wilayah Nagekeo tercatat mengalami dampak gempa yang signifikan. Sedikitnya 20 bangunan gereja dilaporkan mengalami kerusakan.
Caritas juga menyalurkan bantuan awal ke wilayah Nagekeo, Ngada, dan Ende. Pos pelayanan telah berdiri di Paroki Aeramo.
Pos tersebut juga mendukung pengungsian bagi kelompok lanjut usia.
Di Keuskupan Maumere, Caritas mengaktifkan pos koordinasi kemanusiaan. Tim memantau wilayah pesisir Sikka yang sempat menghadapi ancaman kenaikan muka air laut.
Tim mengidentifikasi kebutuhan makanan siap saji, tempat tidur, lauk pauk, dan air bersih. Hygiene kit serta bahan pokok juga disiapkan bagi pengungsi.
Caritas Maumere berkoordinasi dengan BPBD dan PMI untuk memperbarui informasi dampak bencana.
Dukungan untuk Pasien dan Warga Terdampak
Di Keuskupan Ruteng, Caritas merespons kebutuhan kesehatan darurat. Tim mendirikan tenda darurat di area RSUD setempat.
Langkah tersebut dilakukan untuk membantu evakuasi pasien. Pelayanan medis tetap berjalan di tengah ancaman gempa susulan.
Caritas juga mengoordinasikan jaringan paroki untuk evakuasi warga. Tim turut mengumpulkan data korban di wilayah terdampak.
Sementara itu, Keuskupan Labuan Bajo memusatkan respons pada pos layanan kemanusiaan. Tim juga memenuhi kebutuhan shelter kit darurat dan pendampingan psikososial.
Pendataan dampak masih berlangsung di wilayah tersebut. Informasi sementara mencatat sekitar 150 rumah terdampak.
Perkuat Koordinasi dan Distribusi Bantuan
Jaringan Caritas Indonesia mengaktifkan grup koordinasi darurat sebagai pusat arus informasi antar-keuskupan.
Caritas Indonesia juga menyiapkan Caritas Response Team untuk memperkuat asesmen cepat. Tim akan membantu pengelolaan data dan distribusi bantuan.
Jaringan tersebut juga membangun kemitraan dengan organisasi, universitas, dan komunitas yang peduli terhadap penanganan bencana.
Caritas Indonesia membuka jalur bantuan dana dan kebutuhan dasar bagi para pengungsi. Penyaluran dilakukan melalui pos logistik yang telah ditetapkan.
Jaringan Caritas mengimbau masyarakat tetap tenang dan waspada terhadap gempa susulan. Masyarakat juga diminta mengikuti arahan resmi BMKG dan BPBD.
Caritas Indonesia menyatakan akan terus mendampingi warga terdampak hingga tahap pemulihan pascabencana.










