• Beranda
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
Senin, Oktober 26, 2026
  • Login
GALASIBOT.CO.ID
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
    • Buku
Tidak ada
Tampilkan semua
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
    • Buku
Tidak ada
Tampilkan semua
GALASIBOT.CO.ID
Tidak ada
Tampilkan semua
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
Home Opini

Ketika Perkara Berdamai: Menakar Batas Pemidanaan di Bawah KUHP Nasional

Oleh: Polmar Lumban Gaol, S.H., M.H. (Praktisi Hukum — LM & Partners Law Firm)

Redaksi Galasibot.co.id
10 September 2026
/ Opini
0 0
0
Ketika Perkara Berdamai: Menakar Batas Pemidanaan di Bawah KUHP Nasional

Advokat Polmar Lumbangaol SH MH

Share on FacebookShare on Twitter

Baca Juga

Evaluasi 2 Tahun Prabowo-Gibran: Rapor Merah Ekonomi & Realitas Rakyat

Darurat “Vape Getar” dan Lingkaran Setan Narkotika: Menakar Ancaman Nyata Demografi Sumatera Utara

Jebakan Formalisme Hukum: Menakar Batas Substansi dan Kewenangan dalam Putusan MK Nomor 01/PHPU.PRES-XXIV/2026

Ada satu pertanyaan yang tampaknya sederhana, tetapi sesungguhnya menyentuh jantung pembaruan hukum pidana Indonesia: kalau sudah damai, mengapa masih harus dipidana?

Pertanyaan itu menjadi sangat relevan ketika suatu perkara pidana berujung pada perdamaian, korban telah memberikan pemaafan, kerugian telah dipulihkan, dan konflik antarpihak tidak lagi berlanjut. Namun, pertanyaan tersebut tentu tidak boleh dijawab secara serampangan. Perdamaian bukanlah tiket otomatis untuk menghapus tindak pidana begitu saja. Sebaliknya, proses hukum yang berjalan juga tidak semestinya dipahami sebagai alasan mutlak bahwa perkara wajib berujung pada penghukuman penjara. Di antara kedua kutub inilah paradigma baru hukum pidana Indonesia harus dibaca.

Menanyakan Kembali Tujuan Pemidanaan

Selama bertahun-tahun, keberhasilan penegakan hukum pidana sering kali diukur dari satu parameter sempit: berapa banyak pelaku yang dijatuhi hukuman? Cara berpikir ini berakar dari teori retributif atau pembalasan, di mana kejahatan harus dibayar dengan penderitaan yang setimpal. Logika ini penting agar negara tidak membiarkan kejahatan tanpa pertanggungjawaban.

Namun, hukum pidana modern memberikan cakupan yang jauh lebih luas melalui teori utilitarian dan integratif. Pemidanaan bukan lagi sekadar ajang balas dendam institusional, melainkan instrumen untuk melindungi masyarakat, membina pelaku, memulihkan korban, serta merajut kembali keseimbangan sosial yang terganggu. Selepas berlakunya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP dan UU Nomor 20 Tahun 2025 tentang KUHAP, arah penegakan hukum kita telah bergeser. Ketika sebuah perkara melahirkan perdamaian, pertanyaan dasarnya bukan lagi sekadar “apakah tindak pidananya ada?”, melainkan “tujuan pemidanaan apa lagi yang hendak dicapai dalam keadaan konkret ini?”

Keadilan Restoratif: Antara Fakta Sosial dan Mekanisme Hukum

Dalam tradisi pemikiran hukum, penegakan hukum selalu bergulat dengan tiga pilar utama: kepastian hukum, keadilan, dan kemanfaatan. Ketiganya tidak selalu berjalan dalam satu garis lurus. Di sinilah teori keadilan restoratif (restorative justice) hadir sebagai jembatan melalui instrumen hukum, seperti yang diatur dalam PERMA Nomor 1 Tahun 2024.

Penting dicatat bahwa perdamaian dan keadilan restoratif adalah dua hal yang berbeda. Perdamaian adalah fakta sosial, sementara keadilan restoratif adalah mekanisme hukum yang ketat. Keadilan restoratif tidak bisa dipahami secara naif dengan prinsip “asal korban memaafkan, perkara selesai.”

Sebaliknya, mekanisme ini menuntut verifikasi yang ketat: apakah perdamaian dibuat secara sukarela? Apakah korban benar-benar pulih? Apakah pelaku mengakui kesalahannya? Dan apakah kepentingan publik terakomodasi? Negara tetap wajib hadir—bukan untuk memenjarakan secara membabi buta, melainkan untuk memastikan bahwa proses hukum berjalan transparan, proporsional, dan tidak terjebak menjadi mesin prosedural yang kaku.

Refleksi dan Jalan Keluar

Perkara-perkara di persimpangan jalan—seperti dinamika hukum yang kerap ditemui di lapangan—menguji konsistensi aparat penegak hukum dalam menerapkan prinsip proporsionalitas dan ultimum remedium. Hukum pidana sebagai sarana paling keras harus diletakkan secara berhati-hati.

Jika korban telah memaafkan, kerugian telah dipulihkan, dan ancaman sosial telah mereda, maka memaksakan pemenjaraan hanya demi formalitas prosedural justru mencederai makna keadilan itu sendiri. Sebaliknya, jika perdamaian hanyalah kedok transaksional atau formalitas semata, negara wajib hadir menegakkan aturan.

Sebab, kekuatan sejati dari sebuah negara hukum tidak hanya diukur dari keberaniannya menghukum, tetapi juga dari kebijaksanaannya mengenali kapan sebuah konflik harus diselesaikan melalui pemulihan yang berkeadilan.

Source: Penulis : Polmar Lumbangaol SH MH
Tags: #Eperdamaian dalam perkara pidana#KUHAP Nasional#KUHP Nasional#perkara Polda Sitanggang#Restorative Justice
SendShareTweet
Kembali

Koperasi Merah Putih di Taput Mandek, Tumonggi: Jangan Jadi Program di Atas Kertas!

Lanjut

Wali Kota Medan Rico Waas Terima Penghargaan Bergengsi IMT-GT Green City Award

Baca Juga

Evaluasi 2 Tahun Prabowo-Gibran: Rapor Merah Ekonomi & Realitas Rakyat
News

Evaluasi 2 Tahun Prabowo-Gibran: Rapor Merah Ekonomi & Realitas Rakyat

21 Oktober 2026
Darurat “Vape Getar” dan Lingkaran Setan Narkotika: Menakar Ancaman Nyata Demografi Sumatera Utara
News

Darurat “Vape Getar” dan Lingkaran Setan Narkotika: Menakar Ancaman Nyata Demografi Sumatera Utara

11 Oktober 2026
Jebakan Formalisme Hukum: Menakar Batas Substansi dan Kewenangan dalam Putusan MK Nomor 01/PHPU.PRES-XXIV/2026
Opini

Jebakan Formalisme Hukum: Menakar Batas Substansi dan Kewenangan dalam Putusan MK Nomor 01/PHPU.PRES-XXIV/2026

10 Oktober 2026
Di Balik Putusan MK Ijazah Gibran: Membaca Masa Depan Penegakan Hukum dan Demokrasi Indonesi
Hukum

Di Balik Putusan MK Ijazah Gibran: Membaca Masa Depan Penegakan Hukum dan Demokrasi Indonesi

7 Oktober 2026
Dari Jantung Medan untuk Indonesia: Menelisik Ketahanan Finansial dan Layanan Unggulan di Usia 70 Tahun Asuransi Astra
Ekonomi

Dari Jantung Medan untuk Indonesia: Menelisik Ketahanan Finansial dan Layanan Unggulan di Usia 70 Tahun Asuransi Astra

24 September 2026
Galasibot dan Palti Raja : Menata Masa Depan PPTSB melalui Kepemimpinan, Program, dan Regenerasi (Refleksi Menjelang Mubes XVI PPTSB Tahun 2026)
Budaya

Galasibot dan Palti Raja : Menata Masa Depan PPTSB melalui Kepemimpinan, Program, dan Regenerasi (Refleksi Menjelang Mubes XVI PPTSB Tahun 2026)

20 September 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

HPN 2026

POPULER

  • Menanti Dua Dekade Air Bersih: Asa Baru Warga Griya Kencana Usai Disinggahi Walikota Medan Rico Waas

    Menanti Dua Dekade Air Bersih: Asa Baru Warga Griya Kencana Usai Disinggahi Walikota Medan Rico Waas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Warga  Desak Transparansi Kompensasi dan Legalitas Proyek Perumahan, Antonius Tumanggor Minta Pemko Medan Turun Tangan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mengurai Teror Bom Molotov di Namorambe: Polisi Naikkan Status Penyelidikan dan Ancam Jemput Paksa Saksi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tiger Sumatra Binjai Juara Umum Kejuaraan Taekwondo Piala Dansat Siber TNI

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Melihat Titik Temu Migrasi “Ompu Jorang Raja Sinaga” Dengan “Pomparan Ompu Jorang Raja Sinaga”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mengakar di Tanah Batak: Kiprah Jenny Waskita di Prabowonomics hingga Rencana Penabalan Boru Sinaga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Jebakan Formalisme Hukum: Menakar Batas Substansi dan Kewenangan dalam Putusan MK Nomor 01/PHPU.PRES-XXIV/2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
GALASIBOT.CO.ID

© 2015 GALASIBOT.CO.ID

Navigate Site

  • Beranda
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

Tidak ada
Tampilkan semua
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
    • Buku

© 2015 GALASIBOT.CO.ID

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In