Perdebatan mengenai ungkapan “Parhatian Sibola Timbang, Parninggala Sibola Tali” dan “Parhatian Sora/So Ra Monggal, Parninggala Sibola Tali” tidak semestinya diselesaikan berdasarkan kebiasaan pengucapan, popularitas, ataupun klaim siapa yang paling benar. Persoalan ini harus dikembalikan kepada sumber, teks, bahasa, konteks budaya, sejarah transmisi, dan kritik terhadap varian.
Rekonstruksi Tekstual
Dalam penelitian tradisi Batak, penting membedakan teks, varian teks, tradisi lisan, dan formulasi yang berkembang kemudian. Tradisi lisan dapat mengalami perubahan bunyi, pemendekan, penggabungan, bahkan reinterpretasi. Karena itu, bentuk yang hidup dalam masyarakat tidak otomatis identik dengan bentuk tekstual paling awal.
-
Jejak Dokumenter Abad ke-20: Jejak dokumenter yang sangat penting terdapat dalam Madjallah Soara Batak tahun 1917, yang memuat bentuk “parhatian sibola timbang, parninggala sibola tali” dalam Utjapan Penghormatan kepada S.M. Raja. Jejak tersebut menunjukkan bahwa konstruksi ini sekurang-kurangnya telah terdokumentasi secara tertulis pada awal abad ke-20.
-
Rujukan Filologis: Rujukan lain yang lebih kuat secara filologis terdapat pada W.M. Hutagalung, Pustaha Batak (1991), hlm. 10, yang mencatat rangkaian:“Mula ni gantang tarajuan, hatian sibola timbang, ninggala sibola tali, tu atas so ra mungkit, tu toru so ra monggal, tu lambung so ra teleng.”
-
Kajian Akademik: Rangkaian tersebut juga dikutip dalam kajian akademik mengenai kebudayaan Batak dengan merujuk langsung kepada Hutagalung, 1991, hlm. 10.
Di sini terdapat fakta tekstual yang tidak boleh diabaikan: “sibola timbang” dan “sibola tali” merupakan konstruksi yang berpasangan, sedangkan “so ra monggal” hadir sebagai bagian lain dari rangkaian kalimat. Maka, secara tekstual, “sibola timbang” tidak dapat begitu saja diganti atau disamakan dengan “so ra monggal” tanpa bukti manuskrip atau sumber tertulis yang setara.
Kedudukan Manguji Nababan
Nama Manguji Nababan relevan terutama dalam kerangka metodologi dokumentasi dan pelestarian sumber Batak. Ia tercatat sebagai Kepala Pusat Dokumentasi dan Pengkajian Kebudayaan Batak Universitas HKBP Nommensen dan aktif dalam penelitian manuskrip Pustaha Laklak. Riwayat publikasinya mencatat antara lain transliterasi Pustaha Laklak koleksi Fondation Bodmer-Geneva dan Museum Bronbeek Belanda. Ia juga terlibat sebagai penerjemah Bahasa Batak dalam Tuan M.H. Manullang Dipenjarakan Belanda, terbitan LPPM Unimed tahun 2021.
Namun, secara akademik, Manguji Nababan tidak perlu dijadikan “hakim” untuk menentukan ungkapan ini. Nilai penting dari pekerjaannya justru terletak pada prinsip yang lebih mendasar: tradisi Batak harus ditelusuri melalui dokumentasi, pembacaan teks, transliterasi, perbandingan sumber, dan konteks sejarah.
Dengan demikian, penggunaan nama Manguji Nababan dalam kajian ini sebaiknya ditempatkan sebagai penguat pendekatan dokumenter, bukan sebagai bukti langsung bahwa salah satu varian adalah bentuk asal.
Uji Validasi dan Reliabilitas
Setelah diuji dari segi sumber, struktur teks, kronologi, dan logika argumentasi, posisi yang paling aman secara ilmiah adalah:
-
Bentuk Berdasar Dokumen: “Parhatian Sibola Timbang, Parninggala Sibola Tali” mempunyai dukungan dokumenter yang jelas dan dapat ditelusuri setidaknya sampai dokumentasi tertulis tahun 1917, serta memiliki dukungan tekstual dalam Hutagalung (1991), hlm. 10.
-
Varian Tradisi Lisan: Sebaliknya, “Parhatian Sora/So Ra Monggal, Parninggala Sibola Tali” tidak tepat langsung dinyatakan salah apabila memang hidup sebagai varian dalam tradisi lisan atau lingkungan budaya tertentu.
Tetapi ada perbedaan mendasar antara “varian yang hidup” dan “bentuk asal yang terbukti secara tekstual.” Sebuah varian dapat sah sebagai bagian dari tradisi tanpa otomatis memiliki kedudukan sebagai bentuk tertua. Untuk menyatakan suatu bentuk sebagai bentuk asal, diperlukan bukti yang sebanding: naskah, tanggal, sumber, konteks, dan kesinambungan transmisi.
Karena itu, klaim yang menyatakan bahwa Sora/So Ra Monggal adalah satu-satunya bentuk yang benar masih memerlukan bukti tekstual yang setara atau lebih tua daripada bukti yang telah ditunjukkan untuk Sibola Timbang.
Posisi dan Kebaruan Pemikiran
Di sinilah posisi saya menjadi jelas. Saya tidak sedang memenangkan satu varian dan mengalahkan varian lainnya. Saya sedang membedakan tiga hal yang sering dicampuradukkan: teks, tradisi, dan klaim asal-usul.
Tradisi harus dihormati. Varian harus dicatat. Tetapi klaim mengenai bentuk asal harus diuji.
Karena itu, saya mempertahankan kesimpulan:
-
“Parhatian Sibola Timbang, Parninggala Sibola Tali” lebih kuat apabila diposisikan sebagai bentuk yang memiliki dasar dokumenter tekstual.
-
“Parhatian Sora/So Ra Monggal, Parninggala Sibola Tali” lebih tepat ditempatkan sebagai varian tradisional yang keberadaannya patut dihormati dan diteliti lebih lanjut.
Ini bukan soal siapa yang paling keras berbicara. Ini soal siapa yang bersedia tunduk kepada sumber. Bagi saya, satu kata dalam warisan leluhur bukan sekadar bunyi. Ia dapat menjadi jejak sejarah, struktur bahasa, memori kolektif, dan nilai peradaban.
Karena itu, warisan Batak tidak boleh dijaga dengan klaim sepihak. Ia harus dijaga dengan ilmu, ketelitian, keterbukaan terhadap varian, dan penghormatan kepada sumber. Maka saya memilih berdiri pada prinsip sederhana:
Prinsip Utama: Yang terbukti, kita nyatakan terbukti. Yang merupakan varian, kita hormati sebagai varian. Yang belum terbukti, jangan kita paksa menjadi kebenaran.
Sebab dalam penelitian kebudayaan, kebenaran tidak ditentukan oleh siapa yang paling lama mengucapkannya, paling banyak pengikutnya, atau paling yakin terhadap ingatannya. Kebenaran harus diberi ruang untuk diuji oleh sumber. Di situlah tradisi tidak hanya diwariskan, tetapi dipertanggungjawabkan.










