Girsang | galasibot.co.id
Di tengah modernisasi yang sering menggusur nilai-nilai tradisional, suara Kamidin Sinaga—penjaga tatanan kearifan adat di Huta Girsang, Kabupaten Simalungun—hadir sebagai pengingat bahwa filosofi hidup masyarakat Batak bukan hanya warisan, melainkan petunjuk hidup yang relevan sepanjang masa.
Tiga pilar kearifan Batak yang beliau uraikan bukan sekadar pepatah kosong, melainkan refleksi dari nilai-nilai mendasar manusia: bertahan dalam kesulitan, menjaga perdamaian, dan membangun masa depan bersama. Di saat banyak masyarakat sibuk mengejar kemajuan individual, filosofi “molo masa halian potir, mangalean mangan ma angka namalean” mengajarkan bahwa keberhasilan sejati adalah kemampuan bertahan dan sekaligus berbagi dengan yang membutuhkan.
Sementara itu, filosofi “molo masa parbadaan mangalean, dame dohot tangiang ma, asa ro dame” menjadi solusi yang sangat relevan dalam menghadapi dunia yang semakin terpolarisasi. Ketika gesekan sosial dan konflik antarindividu semakin menguat, masyarakat modern bisa belajar dari pendekatan Batak: bahwa doa dan damai adalah senjata paling ampuh untuk menyelesaikan perpecahan.
Dan dalam dunia yang semakin individualistis, pepatah “molo adong tano na kosong, manuan si sisuanon ma hita” mengingatkan bahwa membangun tidak bisa sendiri. Tanah yang kosong, seperti potensi yang belum tergarap, hanya akan menghasilkan kehidupan jika ada kolaborasi. Nilai gotong royong yang terkandung dalam filosofi ini sejalan dengan semangat pembangunan berkelanjutan dan inklusif yang sering kita dengar dalam wacana pembangunan nasional.
Kamidin Sinaga tidak hanya melestarikan pepatah kuno. Ia menyampaikan nilai-nilai yang bersifat lintas zaman—bahwa kearifan lokal bukan barang museum, melainkan pelita dalam menghadapi tantangan hari ini dan masa depan. Dunia boleh berubah, tapi manusia tetap membutuhkan ketangguhan, perdamaian, dan kebersamaan. Dan semua itu sudah lama ada, tersimpan dalam kearifan Batak.











