Medan | galasibot.co.id
Menjelang pelaksanaan Simposium Nasional Bela Negara 2025 yang akan digelar pada 18–19 Juni 2025 di Medan, Forum Komunikasi Bela Negara Indonesia (FKBNI) memperkuat sinergi strategis dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah I (LLDikti-1) dan Badan Narkotika Nasional Provinsi Sumatera Utara (BNNP Sumut). Upaya ini dilakukan untuk memperkuat paradigma Bela Negara Humanis sebagai respons konkret terhadap krisis multidimensi yang melanda bangsa Indonesia.
Dipimpin langsung oleh Prof. Dr. Jon Piter Sinaga selaku Ketua Umum FKBNI dan Ketua Dewan Pengarah Simposium, rapat koordinasi dan diskusi strategis lintas sektor berlangsung pada Selasa, 20 Mei 2025, bertempat di D Easy Eats, Jalan Monginsidi, Medan. Turut hadir dalam pertemuan tersebut Ketua Panitia Brigjen Toga H. Panjaitan (Kepala BNNP Sumut), Sekretaris Simposium Prof. Efendi Barus, serta sejumlah tokoh nasional dan regional seperti Prof. Brilter A. Sirait, Dr. Sunarto MPsi, dan perwakilan komunitas akar rumput.
Bela Negara Humanis: Dari Ancaman Keras Menuju Solusi Lembut
Dalam paparannya, Prof. Dr. Jon Piter Sinaga menekankan bahwa bela negara dewasa ini tidak cukup dilakukan melalui pendekatan militeristik. “Kita menghadapi ancaman baru — gizi buruk, narkoba, radikalisme, mentalitas destruktif, bahkan judi daring. Ini semua menghantam pondasi bangsa,” tegasnya.
Ia menguraikan bahwa krisis multidimensi yang dihadapi bangsa Indonesia, mulai dari ketahanan pangan hingga krisis karakter, harus ditangani dengan pendekatan humanistik, yang mengutamakan pemberdayaan masyarakat dan kolaborasi lintas sektor.
“Bela negara harus menyentuh perut rakyat, menyehatkan anak-anak, dan menghidupkan semangat gotong royong. Di situlah letak kekuatan bangsa. Itulah wajah Bela Negara Humanis yang kita perjuangkan,” ujarnya.
Sinergi BNNP dan LLDikti-1: Kunci Integrasi Program Nasional
Brigjen Pol Drs. Toga H. Panjaitan menyatakan komitmen BNNP Sumut untuk mendukung penuh Simposium Nasional Bela Negara 2025. Ia menyebut bahwa program P4GN (Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika) sangat selaras dengan semangat bela negara.
“Narkoba merusak generasi. Jika generasi rusak, tidak akan ada bangsa yang kuat. Maka membela negara artinya juga menyelamatkan masa depan anak-anak kita dari bahaya narkoba,” tegasnya.
LLDikti Wilayah I Sumatera Utara turut menyatakan dukungannya dengan mendorong keterlibatan aktif perguruan tinggi sebagai pusat pendidikan karakter humanis. Keterlibatan akademisi dinilai sangat penting dalam membentuk kesadaran hukum, etika, dan partisipasi sosial yang bermartabat.
Simposium 2025: Agenda Strategis dan Rekomendasi Nasional
Simposium Nasional Bela Negara 2025 akan menghadirkan sejumlah segmen penting yang dirancang untuk menghasilkan Deklarasi Medan sebagai rekomendasi kebijakan nasional dan lokal. Beberapa segmen utama yang akan dibahas meliputi:
- Ketahanan Pangan dan Gizi
- Pendidikan Karakter Humanis
- Kesehatan Mental dan Jasmani
- Kesadaran Hukum dan Etika
- Pemberdayaan Ekonomi Kerakyatan
- P4GN dan Rehabilitasi Sosial
Simposium akan menghadirkan para pembicara nasional dari kalangan pemerintah, akademisi, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan sektor swasta, serta melibatkan pelajar, mahasiswa, dan komunitas lokal sebagai representasi masyarakat akar rumput.
Landasan Konstitusional Bela Negara Humanis
Prof. Efendi Barus menegaskan bahwa semangat bela negara tidak hanya bersandar pada tanggung jawab moral, tetapi juga memiliki dasar hukum yang kuat. Mengacu pada Pasal 27 Ayat 3 dan Pasal 30 Ayat 1 UUD 1945, serta UU No. 1 Tahun 1998 dan UU No. 20 Tahun 2022, setiap warga negara memiliki hak dan kewajiban untuk ikut serta dalam pembelaan negara.
“Bela Negara Humanis adalah reinterpretasi progresif dari amanat konstitusi. Kita dorong nilai kemanusiaan, keadilan sosial, dan kesetaraan hak sebagai fondasi daya tahan bangsa,” papar Prof. Efendi.
Deklarasi Medan: Simbol Perubahan Gerakan Bela Negara
Salah satu hasil utama yang diharapkan dari simposium ini adalah lahirnya Deklarasi Medan, sebuah dokumen strategis yang akan memuat prinsip-prinsip Bela Negara Humanis dan menjadi acuan bersama dalam merancang program nasional dan lokal ke depan.
Prof. Sinaga menutup pertemuan dengan seruan kuat: “Ini bukan hanya acara. Ini adalah gerakan. Mari kita kuatkan ketangguhan bangsa dari akar rumput — dari makanan yang sehat, anak-anak yang cerdas, dan masyarakat yang berdaya.”
Melalui pendekatan yang holistik, kolaboratif, dan berbasis nilai-nilai kemanusiaan, Simposium Nasional Bela Negara 2025 diharapkan menjadi titik balik penguatan jati diri dan ketahanan bangsa Indonesia dalam menghadapi tantangan global dan domestik yang kian kompleks.(*)










