
Jakarta | galasibot.co.id
Dalam upaya mengurangi risiko bahan kimia berbahaya dan mempromosikan praktik industri yang lebih ramah lingkungan, United Nations Industrial Development Organization (UNIDO) meluncurkan program Global Greenchem Innovation and Network Programme (GGINP) di Indonesia, dengan Universitas Pertamina sebagai koordinator nasional. Peluncuran ini dilakukan di Ballroom Swiss Belhotel Kalibata, Jakarta, pada 29 Mei 2024, dengan kolaborasi dari Kementerian Perindustrian dan Yale University.
Dalam laporan World Health Organization (WHO) tahun 2021, disebutkan bahwa dari 160 juta bahan kimia yang diketahui manusia, 99% diantaranya diperdagangkan secara global. Sayangnya, beberapa bahan kimia tersebut berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan manusia. Pada tahun 2019, sekitar 2 juta kematian dilaporkan terkait permasalahan kesehatan akibat bahan kimia, dan dari tahun 2000 hingga 2020 terjadi 1.000 insiden teknologi yang melibatkan bahan kimia, berdampak pada 1,85 juta orang.
“Setelah penantian sejak 2019, Kementerian Perindustrian resmi meluncurkan GGINP Indonesia yang bersinergi dengan Yale University, Universitas Pertamina, UNIDO, dan enam negara inisiator lainnya,” ujar Raditya Eka Permana, M.Eng, yang mewakili Ir. Wiwik Pudjiastuti, M.Si, Direktur Industri Kimia Hulu, Kementerian Perindustrian. “Program ini bertujuan mendampingi industri dalam beralih ke green chemistry yang mendukung pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan,” tambahnya.
GGINP adalah inisiatif global yang berfokus pada penerapan kimia hijau untuk menghasilkan produk yang lebih ramah lingkungan, mengurangi zat berbahaya bagi lingkungan. Enam negara inisiator GGINP adalah Indonesia, Uganda, Ukraina, Yordania, Peru, dan Serbia.
Prof. Dr. techn. Djoko Triyono S,Si., M,Si., Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengembangan, dan Kerja Sama Universitas Pertamina, menyatakan bahwa inisiatif GGINP sejalan dengan nilai Universitas Pertamina yang mengedepankan pembelajaran berbasis keberlanjutan. “Sebagai koordinator nasional, Universitas Pertamina siap bersinergi mewujudkan tujuan green chemistry bagi keberlanjutan ekosistem dan makhluk hidup,” ujarnya. Universitas Pertamina juga mengembangkan Sustainability Center dan program Magister (S2) berfokus pada keberlanjutan sebagai akselerator green chemistry di Indonesia.
Peluncuran GGINP mengangkat tema ‘Green Energy Summit: The Global Impact of Green Chemistry Implementation on Sustainable Development and Its Challenges’. Acara ini menjadi ajang diskusi antara pelaku industri, pemerintah, dan akademisi untuk mengeksplorasi prospek penerapan green chemistry di Indonesia.
Dr. Lars Ratjen, Program Manager dari Center for Green Chemistry and Green Engineering, Yale University, mengidentifikasi tiga tantangan utama dalam penerapan kimia hijau: kurangnya pemahaman pelaku industri, biaya tinggi bahan dasar green chemistry, dan keterbatasan ketersediaan bahan baku. “Kolaborasi antar pemangku kepentingan industri, pemerintah, dan para ahli sangat diperlukan untuk mewujudkan green chemistry,” jelasnya.
Dengan peluncuran program ini, diharapkan industri di Indonesia dapat beralih ke praktik yang lebih ramah lingkungan, mengurangi dampak negatif bahan kimia, dan mendukung keberlanjutan lingkungan serta kesehatan masyarakat.(*)
Penulis berita : Rohana











