• Beranda
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
Jumat, Juli 24, 2026
  • Login
GALASIBOT.CO.ID
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
    • Buku
Tidak ada
Tampilkan semua
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
    • Buku
Tidak ada
Tampilkan semua
GALASIBOT.CO.ID
Tidak ada
Tampilkan semua
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
Home Ekonomi

Belajar dari Sanering 1965: Redenominasi Modern Ala Purbaya dan Tantangan Membangun Kepercayaan Publik

Oleh: Joan Berlin Damanik, SSi MM  (Akademisi dan Pengamat Kebijakan Publik)

Redaksi Galasibot.co.id
11 November 2025
/ Ekonomi, Opini
0 0
0
Belajar dari Sanering 1965: Redenominasi Modern Ala Purbaya dan Tantangan Membangun Kepercayaan Publik

Joan Berlin Damanik, SSi MM

Share on FacebookShare on Twitter

Rencana pemerintah dan Bank Indonesia untuk kembali membahas redenominasi rupiah kembali memicu dua kutub reaksi di masyarakat: optimisme atas penyederhanaan sistem keuangan nasional, dan kekhawatiran yang mengingatkan publik pada trauma sejarah sanering tahun 1965.

Padahal, secara konseptual, keduanya berdiri di atas landasan yang sangat berbeda. Namun secara psikologis, kata “pemotongan nol” tetap membawa bayangan masa lalu — masa ketika nilai uang rakyat tergerus dalam semalam.

Baca Juga

Wali Kota Medan Minta Indomaret Tambah Porsi Produk UMKM Lokal untuk Perluas Pasar Ritel Modern

Menjaga Rupiah di Kepulauan Nias: Langkah Nyata Tegakkan Kedaulatan Ekonomi

Delapan Alasan ILAJ, Mengapa Penyidik Perlu Mengkaji Objektif Perkara Febrie Adriansyah

Belajar dari Masa Lalu: Sanering 1965

Sanering 1965 muncul di tengah badai hiperinflasi yang mencapai lebih dari 600 persen, defisit fiskal yang tak terkendali, serta runtuhnya kepercayaan publik terhadap pemerintah Orde Lama.
Kebijakan darurat itu menetapkan 1 Rupiah Baru = 1.000 Rupiah Lama — bukan sebagai penyederhanaan administratif, melainkan pemotongan nilai uang secara nyata.
Daya beli masyarakat anjlok, tabungan menguap, dan inflasi tetap liar. Sanering menjadi simbol kegagalan manajemen moneter koersif yang justru mempercepat keruntuhan ekonomi nasional saat itu.

Redenominasi Modern: Konsep yang Sama Sekilas, Tujuan Berbeda

Redenominasi modern, sebagaimana digagas sejak 2010 oleh Bank Indonesia dan kembali diangkat oleh Menteri PPN Suharso Monoarfa bersama ekonom Purbaya Yudhi Sadewa, berbeda secara mendasar.
Tujuannya bukan memangkas nilai uang, melainkan menyederhanakan sistem nominal: 1 Rupiah Baru = 1.000 Rupiah Lama dengan daya beli tetap sama.

Kebijakan ini diarahkan untuk meningkatkan efisiensi transaksi, mempermudah pembukuan, dan memperkuat citra rupiah agar sejajar dengan mata uang global yang tidak “berlebihan nol”.
Namun, tantangannya bukan hanya teknis. Stabilitas ekonomi makro, sinkronisasi fiskal-moneter, dan strategi komunikasi publik menjadi faktor penentu sukses atau gagalnya kebijakan ini.

Membedah Perbedaan Fundamental

Aspek Sanering 1965 Redenominasi Modern
Tujuan Utama Menekan inflasi lewat pemotongan nilai uang Menyederhanakan nominal tanpa mengubah daya beli
Kondisi Ekonomi Hiperinflasi >600%, krisis kepercayaan Inflasi 3–5%, stabilitas makro terjaga
Daya Beli Turun drastis Tetap sama
Kepercayaan Publik Runtuh Diharapkan tinggi lewat edukasi
Dampak Jangka Panjang Gagal menahan inflasi Efisiensi dan citra rupiah meningkat

 Antara Citra dan Kepercayaan

Kebijakan moneter sebaik apa pun tak akan berjalan tanpa kepercayaan publik.
Sanering 1965 gagal bukan hanya karena teknis, tapi karena runtuhnya kredibilitas pemerintah.
Sebaliknya, redenominasi modern baru bisa berhasil bila rakyat yakin bahwa nilai uang mereka tidak berkurang — hanya tampilannya yang disederhanakan.

Untuk itu, pemerintah perlu belajar dari sejarah: transparansi komunikasi publik harus dikedepankan, diiringi konsolidasi fiskal dan stabilitas harga, serta kesiapan ekonomi digital agar transisi berjalan mulus.
Jika tidak, redenominasi bisa berubah menjadi trauma ekonomi jilid dua.

Sanering 1965 adalah luka lama tentang bagaimana kebijakan terburu-buru bisa menghancurkan kepercayaan publik.
Redenominasi modern, bila dirancang matang, justru bisa menjadi simbol kedewasaan ekonomi Indonesia — menandai bahwa rupiah telah cukup kuat dan stabil untuk tampil lebih sederhana tanpa kehilangan nilai.

Redenominasi bukan tentang memotong nol, melainkan menegakkan kembali kepercayaan terhadap nilai rupiah.
Dan kepercayaan itu hanya tumbuh dari konsistensi kebijakan, komunikasi jujur, serta keberanian belajar dari masa lalu.(*)

 

Tags: #EkonomiMakroIndonesia#KebijakanMoneterBI#KepercayaanPublikEkonomi#RedenominasiRupiah#Sanering1965
SendShareTweet
Kembali

Kapolrestabes Medan Pimpin Pengungkapan Kasus Narkoba 35 Kg dan 985 Butir Ekstasi di Kampung Lalang

Lanjut

Menuju Pemberlakuan KUHP Baru 2026: Reformasi Hukum, Kebebasan Sipil, dan Ujian Demokrasi Indonesia

Baca Juga

Wali Kota Medan Minta Indomaret Tambah Porsi Produk UMKM Lokal untuk Perluas Pasar Ritel Modern
Ekonomi

Wali Kota Medan Minta Indomaret Tambah Porsi Produk UMKM Lokal untuk Perluas Pasar Ritel Modern

24 Juli 2026
Menjaga Rupiah di Kepulauan Nias: Langkah Nyata Tegakkan Kedaulatan Ekonomi
Ekonomi

Menjaga Rupiah di Kepulauan Nias: Langkah Nyata Tegakkan Kedaulatan Ekonomi

24 Juli 2026
Delapan Alasan ILAJ, Mengapa Penyidik Perlu Mengkaji Objektif Perkara Febrie Adriansyah
Opini

Delapan Alasan ILAJ, Mengapa Penyidik Perlu Mengkaji Objektif Perkara Febrie Adriansyah

22 Juli 2026
Tragedi Grand Polonia Medan dan Alarm Keselamatan Kawasan Elite
Opini

Tragedi Grand Polonia Medan dan Alarm Keselamatan Kawasan Elite

21 Juli 2026
Ekonomi

21 Juli 2026
Digital Political Mapping: Saat Identitas Bertarung di Ruang Digital dan Habonaron Menjadi Kompas
Opini

Digital Political Mapping: Saat Identitas Bertarung di Ruang Digital dan Habonaron Menjadi Kompas

18 Juli 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

HPN 2026

POPULER

  • Gubernur Banten Andra Soni Ajak Warga Dukung Felicia br Sihombing di The Icon Indonesia SCTV

    Gubernur Banten Andra Soni Ajak Warga Dukung Felicia br Sihombing di The Icon Indonesia SCTV

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Felicia Babak 6 Besar The Icon Indonesia SCTV: Mohon Dukungan untuk Rebut Tiket Top 5 Senin Ini!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perkumpulan Raja Parhata Sedunia Resmi Dibentuk, Jaga Marwah Adat Batak di Era Globalisasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Perempat Final Piala Dunia 2026: Prancis dan Argentina Difavoritkan Melaju ke Final, Inggris serta Spanyol Siap Beri Kejutan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Membanggakan, Felicia Sihombing Siap Guncang Panggung Top 5 The Icon Indonesia SCTV

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Luhut Panjaitan Tegaskan PT TPL Tidak Akan Beroperasi Lagi, Pemerintah Siapkan Penataan Ulang Lahan demi Masyarakat Adat dan Pemulihan Ekologi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Provinsi Tapanuli: Dari Jejak Sejarah Menuju Pusat Pertumbuhan Baru Sumatera

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
GALASIBOT.CO.ID

© 2015 GALASIBOT.CO.ID

Navigate Site

  • Beranda
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

Tidak ada
Tampilkan semua
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
    • Buku

© 2015 GALASIBOT.CO.ID

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In