PAKPAK BHARAT I galasibot.co.id
Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Meradu Mende di Desa Pardomuan, Kecamatan Sitellu Tali Urang Julu (STTU Julu), Kabupaten Pakpak Bharat, mulai mengembangkan usaha peternakan bebek petelur sebagai langkah mendorong kemandirian ekonomi desa dan pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat.
Bupati Pakpak Bharat, Franc Bernhard Tumanggor (FBT), Rabu (15/10/2025) yang meninjau langsung lokasi peternakan, menyampaikan apresiasi atas inisiatif ini. Ia menegaskan bahwa BUMDes harus mampu menjadi penopang ekonomi desa sekaligus mendukung program pembangunan daerah.
“BUMDes harus bisa menjadi tumpuan perekonomian desa. Ciptakan produk unggulan, beri nilai tambah bagi masyarakat, dan dukung pemenuhan gizi untuk mengatasi stunting. Yang terpenting, usaha harus dikelola dengan baik dan penuh tanggung jawab,” tegas FBT.
FBT menyebutkan bahwa pengembangan produk lokal sangat sejalan dengan program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang tengah dijalankan pemerintah secara nasional. Bila BUMDes beroperasi dengan baik, produk telur bebek dapat menjadi suplai untuk program MBG maupun konsumsi masyarakat desa.
Pengembangan Usaha Berbasis Potensi Lokal
Kepala Desa Pardomuan, Hendri Berutu, menjelaskan bahwa bebek dipilih sebagai komoditas utama karena cocok dengan kondisi lingkungan desa serta ketersediaan pakan alami.
“Banyak warga sudah memelihara bebek secara kecil-kecilan. Lewat BUMDes, kami ingin mengelolanya lebih terarah dan terukur agar hasil lebih maksimal,” jelas Hendri.
Direktur BUMDes Meradu Mende, Bodrek Munthe, menerangkan bahwa saat ini telah tersedia sekitar 300 ekor bebek petelur yang sebagian sudah mulai berproduksi. Ia berharap adanya pendampingan dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian untuk meningkatkan kapasitas produksi.
“Pendampingan sangat kami butuhkan, terutama soal pakan, vaksinasi, dan pengawasan kesehatan ternak,” ujar Bodrek.
Dorongan Pemerintah Kecamatan
Camat STTU Julu, Ucok Benget Berutu, mengapresiasi langkah inovatif BUMDes tersebut. Ia mendorong desa lain untuk turut menggali potensi lokal masing-masing.
“Banyak model usaha yang bisa dikembangkan. Melalui BUMDes atau bukan, asal disepakati warga. Potensi desa harus dimanfaatkan untuk kemajuan bersama,” ujarnya.
Ucok menambahkan bahwa era digital saat ini mempermudah proses belajar, sehingga desa dapat cepat mengadopsi ilmu teknis dari berbagai sumber, baik daring maupun melalui penyuluh pertanian.
Dengan dukungan penuh pemerintah daerah, kecamatan, dan partisipasi masyarakat, BUMDes Meradu Mende diharapkan dapat menjadi salah satu contoh sukses usaha produktif desa yang tidak hanya menguatkan ekonomi lokal, tetapi juga memberikan kontribusi nyata terhadap pengentasan stunting dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.(*)











