
Pada bulan Juni 2025, Toba Caldera Unesco Global Geopark (TC UGGp) akan menghadapi momen penting: kedatangan asesor dari UNESCO yang akan mengevaluasi kelayakan status geopark ini. Masyarakat dan pemangku kepentingan berharap kartu kuning yang sempat disematkan pada TC UGGp bisa berubah menjadi kartu hijau—sebagai simbol keberhasilan tata kelola, pelestarian, dan tentu saja, edukasi. Namun pertanyaannya: sudahkah pelaksanaan edukasi Geopark Kaldera Toba dilakukan sesuai standar UNESCO?
Pentingnya Pendidikan dalam Geopark
Geopark bukan sekadar kawasan wisata atau koleksi lanskap cantik. Ia adalah pusat pembelajaran, pelestarian, dan pemberdayaan. Dalam filosofi UNESCO, edukasi geopark adalah jembatan yang menghubungkan manusia dengan alam secara sadar, kritis, dan partisipatif. Pelaksanaan pendidikan ini bertujuan membangun pengetahuan masyarakat tentang geologi, ekologi, budaya lokal, serta membentuk perilaku berkelanjutan.
Edukasi geopark seharusnya tidak hanya berlangsung di ruang kelas, melainkan juga dalam bentuk pengalaman langsung di lapangan, dialog antar generasi, serta penguatan nilai-nilai lokal yang dikaitkan dengan pengetahuan ilmiah.
Siapa yang Harus Diedukasi?
Standar UNESCO menyebutkan bahwa edukasi geopark harus melibatkan berbagai kelompok: siswa sekolah, masyarakat lokal, wisatawan, pekerja pariwisata, pengelola geopark, guru, dosen, dan pemerintah daerah. Artinya, edukasi tidak boleh eksklusif, melainkan inklusif dan lintas-sektor.
Lantas, apakah di Kaldera Toba semua kelompok ini telah disentuh secara menyeluruh oleh program edukasi yang terstruktur? Apakah kegiatan seperti field trip, pelatihan guide lokal, dan penyuluhan budaya telah dilakukan dengan pendekatan yang partisipatif dan konsisten?
Materi dan Hasil Edukasi: Sudahkah Terukur?
Materi edukasi yang baik mencakup pengetahuan geologi dan lingkungan, sejarah budaya lokal, konservasi, dan kegiatan lapangan. Tapi materi saja tidak cukup. Yang terpenting adalah dampak: apakah masyarakat lokal kini lebih sadar akan pentingnya pelestarian warisan geologi dan budaya? Apakah mereka sudah menjadi bagian aktif dari proses konservasi?
Geopark yang sukses biasanya memperlihatkan indikator-indikator ini secara jelas: kesadaran meningkat, partisipasi aktif, perilaku ramah lingkungan, dan evaluasi berkelanjutan. Kita bisa berkaca pada Geopark Madonie di Italia yang telah membuktikan keberhasilan edukasi melalui keterlibatan siswa, kegiatan lapangan, dan penguatan identitas lokal.
Kompetensi Pengelola Jadi Kunci
Satu aspek yang kerap diabaikan adalah kualitas pengelola edukasi. UNESCO menggarisbawahi pentingnya kapasitas SDM yang terlibat: dari pemahaman geologi, manajemen edukasi, komunikasi dengan stakeholder, hingga evaluasi program. Tanpa pengelola yang kompeten dan berkomitmen, edukasi geopark hanya akan jadi formalitas tanpa dampak jangka panjang.
Di Kaldera Toba, apakah para pengelola pendidikan geopark sudah dilengkapi dengan pelatihan intensif dan sertifikasi kompetensi? Apakah mereka memiliki kemampuan leadership dan analisis strategis yang dibutuhkan untuk menjaga keberlanjutan edukasi?
Tantangan dan Harapan
Tidak dapat dipungkiri, upaya menuju perbaikan telah dilakukan. Namun mengubah kartu kuning menjadi kartu hijau bukan hanya soal dokumentasi teknis atau kunjungan singkat. Ini adalah evaluasi atas sejauh mana filosofi geopark benar-benar dijalankan—terutama dalam bidang edukasi.
Harapan masyarakat sangat tinggi. Edukasi yang menyentuh nurani dan membentuk pola pikir masyarakat adalah senjata utama menjaga keberlanjutan geopark. Jika pelatihan dan penyuluhan belum menyentuh semua lapisan masyarakat, maka masih ada waktu untuk bergerak.
Sebelum asesor UNESCO tiba, mari kita refleksi bersama: Sudahkah edukasi Geopark Kaldera Toba sesuai standar dan pedoman UNESCO? Jika belum, inilah waktunya memperkuat kapasitas, membenahi pelaksanaan, dan memastikan bahwa edukasi benar-benar menciptakan perubahan.










