• Beranda
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
GALASIBOT.CO.ID
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
Tidak ada
Tampilkan semua
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
Tidak ada
Tampilkan semua
GALASIBOT.CO.ID
Tidak ada
Tampilkan semua
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
Home Ekonomi

Belajar dari Sanering 1965: Redenominasi Modern Ala Purbaya dan Tantangan Membangun Kepercayaan Publik

Oleh: Joan Berlin Damanik, SSi MM  (Akademisi dan Pengamat Kebijakan Publik)

Redaksi Galasibot.co.id
11 November 2025
/ Ekonomi, Opini
0 0
0
Belajar dari Sanering 1965: Redenominasi Modern Ala Purbaya dan Tantangan Membangun Kepercayaan Publik

Joan Berlin Damanik, SSi MM

Share on FacebookShare on Twitter

Rencana pemerintah dan Bank Indonesia untuk kembali membahas redenominasi rupiah kembali memicu dua kutub reaksi di masyarakat: optimisme atas penyederhanaan sistem keuangan nasional, dan kekhawatiran yang mengingatkan publik pada trauma sejarah sanering tahun 1965.

Padahal, secara konseptual, keduanya berdiri di atas landasan yang sangat berbeda. Namun secara psikologis, kata “pemotongan nol” tetap membawa bayangan masa lalu — masa ketika nilai uang rakyat tergerus dalam semalam.

Baca Juga

“Go and Sin No More” TPL: Sebuah Rekonstruksi Solusi atas Konflik Panjang di Tanah Batak

Inflasi Sumatera Utara Mei 2026 Tembus 0,89 Persen, Didorong Lonjakan Harga Komoditas Pangan

Reformasi Parkir Medan: Menutup Kebocoran PAD dan Mewujudkan Smart City yang Berkeadilan

Belajar dari Masa Lalu: Sanering 1965

Sanering 1965 muncul di tengah badai hiperinflasi yang mencapai lebih dari 600 persen, defisit fiskal yang tak terkendali, serta runtuhnya kepercayaan publik terhadap pemerintah Orde Lama.
Kebijakan darurat itu menetapkan 1 Rupiah Baru = 1.000 Rupiah Lama — bukan sebagai penyederhanaan administratif, melainkan pemotongan nilai uang secara nyata.
Daya beli masyarakat anjlok, tabungan menguap, dan inflasi tetap liar. Sanering menjadi simbol kegagalan manajemen moneter koersif yang justru mempercepat keruntuhan ekonomi nasional saat itu.

Redenominasi Modern: Konsep yang Sama Sekilas, Tujuan Berbeda

Redenominasi modern, sebagaimana digagas sejak 2010 oleh Bank Indonesia dan kembali diangkat oleh Menteri PPN Suharso Monoarfa bersama ekonom Purbaya Yudhi Sadewa, berbeda secara mendasar.
Tujuannya bukan memangkas nilai uang, melainkan menyederhanakan sistem nominal: 1 Rupiah Baru = 1.000 Rupiah Lama dengan daya beli tetap sama.

Kebijakan ini diarahkan untuk meningkatkan efisiensi transaksi, mempermudah pembukuan, dan memperkuat citra rupiah agar sejajar dengan mata uang global yang tidak “berlebihan nol”.
Namun, tantangannya bukan hanya teknis. Stabilitas ekonomi makro, sinkronisasi fiskal-moneter, dan strategi komunikasi publik menjadi faktor penentu sukses atau gagalnya kebijakan ini.

Membedah Perbedaan Fundamental

Aspek Sanering 1965 Redenominasi Modern
Tujuan Utama Menekan inflasi lewat pemotongan nilai uang Menyederhanakan nominal tanpa mengubah daya beli
Kondisi Ekonomi Hiperinflasi >600%, krisis kepercayaan Inflasi 3–5%, stabilitas makro terjaga
Daya Beli Turun drastis Tetap sama
Kepercayaan Publik Runtuh Diharapkan tinggi lewat edukasi
Dampak Jangka Panjang Gagal menahan inflasi Efisiensi dan citra rupiah meningkat

 Antara Citra dan Kepercayaan

Kebijakan moneter sebaik apa pun tak akan berjalan tanpa kepercayaan publik.
Sanering 1965 gagal bukan hanya karena teknis, tapi karena runtuhnya kredibilitas pemerintah.
Sebaliknya, redenominasi modern baru bisa berhasil bila rakyat yakin bahwa nilai uang mereka tidak berkurang — hanya tampilannya yang disederhanakan.

Untuk itu, pemerintah perlu belajar dari sejarah: transparansi komunikasi publik harus dikedepankan, diiringi konsolidasi fiskal dan stabilitas harga, serta kesiapan ekonomi digital agar transisi berjalan mulus.
Jika tidak, redenominasi bisa berubah menjadi trauma ekonomi jilid dua.

Sanering 1965 adalah luka lama tentang bagaimana kebijakan terburu-buru bisa menghancurkan kepercayaan publik.
Redenominasi modern, bila dirancang matang, justru bisa menjadi simbol kedewasaan ekonomi Indonesia — menandai bahwa rupiah telah cukup kuat dan stabil untuk tampil lebih sederhana tanpa kehilangan nilai.

Redenominasi bukan tentang memotong nol, melainkan menegakkan kembali kepercayaan terhadap nilai rupiah.
Dan kepercayaan itu hanya tumbuh dari konsistensi kebijakan, komunikasi jujur, serta keberanian belajar dari masa lalu.(*)

 

Tags: #EkonomiMakroIndonesia#KebijakanMoneterBI#KepercayaanPublikEkonomi#RedenominasiRupiah#Sanering1965
SendShareTweet
Kembali

Kapolrestabes Medan Pimpin Pengungkapan Kasus Narkoba 35 Kg dan 985 Butir Ekstasi di Kampung Lalang

Lanjut

Menuju Pemberlakuan KUHP Baru 2026: Reformasi Hukum, Kebebasan Sipil, dan Ujian Demokrasi Indonesia

Baca Juga

“Go and Sin No More” TPL: Sebuah Rekonstruksi Solusi atas Konflik Panjang di Tanah Batak
Opini

“Go and Sin No More” TPL: Sebuah Rekonstruksi Solusi atas Konflik Panjang di Tanah Batak

4 Juni 2026
Inflasi Sumatera Utara Mei 2026 Tembus 0,89 Persen, Didorong Lonjakan Harga Komoditas Pangan
Ekonomi

Inflasi Sumatera Utara Mei 2026 Tembus 0,89 Persen, Didorong Lonjakan Harga Komoditas Pangan

2 Juni 2026
Reformasi Parkir Medan: Menutup Kebocoran PAD dan Mewujudkan Smart City yang Berkeadilan
Opini

Reformasi Parkir Medan: Menutup Kebocoran PAD dan Mewujudkan Smart City yang Berkeadilan

31 Mei 2026
Strategi Baru Hadapi Perubahan Iklim: Pemkab Dairi Telurkan Pilot Model Asuransi Parametrik Berbasis Data Cuaca untuk Petani Kopi
Ekonomi

Strategi Baru Hadapi Perubahan Iklim: Pemkab Dairi Telurkan Pilot Model Asuransi Parametrik Berbasis Data Cuaca untuk Petani Kopi

29 Mei 2026
ENSIKLIK MAGNIFICA HUMANITAS: Cara Paus Lawan Kebangkitan ‘Menara Babel’
Opini

ENSIKLIK MAGNIFICA HUMANITAS: Cara Paus Lawan Kebangkitan ‘Menara Babel’

26 Mei 2026
Blackout Sumbagut dan Alarm Rapuhnya Infrastruktur Energi Nasional
Opini

Blackout Sumbagut dan Alarm Rapuhnya Infrastruktur Energi Nasional

23 Mei 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

POPULER

  • Tiger Sumatera Binjai Kecewa: Tuntut Kompensasi Total Atas Pembatalan Kejuaraan Batam Internasional Taekwondo 2026

    Tiger Sumatera Binjai Kecewa: Tuntut Kompensasi Total Atas Pembatalan Kejuaraan Batam Internasional Taekwondo 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dukung Program Kesbangpol Sumut, Ketum FKBNI Instruksikan Jajaran Pengurus Hadiri Rapat Deklarasi Anti Narkoba

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjaga Nyala Api Organisasi dari Tepian Danau Toba: Strategi PMKRI Pematangsiantar Mencetak Kader Berintegritas Lewat MPAB 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gandeng Kejari, Pemkab Humbang Hasundutan Sisir Rumah Warga untuk Verifikasi Faktual Bansos PKH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • PPTN Lantik Pengurus Baru, Prof. Hoga Saragih Dikukuhkan sebagai Ketua Umum Periode 2026–2030

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Beredar Informasi Yang Membawa Kontraktor Proyek Sihapilis dan Huta Ginjang Samosir Adalah “Ober Gultom”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Direktur UKW PWI Pusat Aat Surya Safaat: Wartawan Harus Berpikir Kreatif di Tengah Perubahan Dunia Jurnalistik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
GALASIBOT.CO.ID

© 2015 GALASIBOT.CO.ID

Navigate Site

  • Beranda
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

Tidak ada
Tampilkan semua
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal

© 2015 GALASIBOT.CO.ID

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In