• Beranda
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
Minggu, September 6, 2026
  • Login
GALASIBOT.CO.ID
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
    • Buku
Tidak ada
Tampilkan semua
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
    • Buku
Tidak ada
Tampilkan semua
GALASIBOT.CO.ID
Tidak ada
Tampilkan semua
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
Home Opini

Belum Kering Air Mata Kami, Pernyataan Pejabat Justru Menyayat Lebih Dalam

Oleh: Joan Berlin Damanik, SSi., MM (Dosen Unita dan Pemerhati Lingkungan dan Kebijakan Publik)

Redaksi Galasibot.co.id
2 Desember 2025
/ Opini
0 0
0
Belum Kering Air Mata Kami, Pernyataan Pejabat Justru Menyayat Lebih Dalam
Share on FacebookShare on Twitter

Banjir dan longsor yang menghantam Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar) pada akhir November 2025 bukan hanya peristiwa alam yang berulang. Ia merupakan tragedi sosial-ekologis yang memperlihatkan betapa rapuhnya tata kelola lingkungan, mitigasi, dan respons krisis di Indonesia. Dengan 442 korban meninggal dan 402 orang hilang, bencana ini jelas memenuhi karakteristik large-scale disaster—bencana berskala besar yang menuntut kehadiran negara secara penuh, baik dari sisi kebijakan maupun komunikasi publik.

Angka-angka korban yang tersaji bukan sekadar statistik. Sumut kehilangan 217 warganya, 209 hilang; Sumatera Barat meratapi 129 korban; Aceh menyaksikan 96 nyawa melayang. Dilihat dari perspektif akademik dan tata kelola risiko, jumlah ini adalah potret kegagalan mitigasi struktural yang mencakup pengelolaan daerah aliran sungai (DAS), pengawasan izin, serta kesiapsiagaan pemerintah daerah. Bila negara memandang tragedi ini sebagai “bencana rutin”, maka negara sejatinya sedang menormalisasi risiko yang sebenarnya dapat dikurangi—reducing avoidable risk.

Baca Juga

Memiskinkan Kejahatan vs Menjaga Keadilan: Menakar Arah RUU Perampasan Aset

156 Juta Pengguna Medsos Indonesia: Saatnya Menata Kembali Etika Bermedia Sosial

Rekonstruksi Tekstual: Menakar Fakta dan Varian Ungkapan Parhatian Sibola Timbang vs So Ra Monggal

Di tengah duka luar biasa ini, dua pernyataan pejabat publik justru memperdalam luka, menunjukkan lemahnya sensitivitas komunikasi krisis di tingkat pemerintah.

Pertama, pernyataan dari Kementerian Kehutanan yang menyebut bahwa kayu gelondongan yang terseret arus banjir kemungkinan berasal dari “pohon lapuk atau tumbang alami”. Secara administratif, klaim ini mungkin defensif namun dapat dipertanggungjawabkan. Tetapi dalam kerangka disaster communication, pernyataan tersebut merupakan bentuk institutional self-defense yang terlalu dini. Pada fase darurat, komunikasi harus dimulai dari empati, bukan dari upaya membela institusi.

Kedua, pernyataan Kepala BNPB yang menyebut bahwa bencana ini “tidak termasuk kategori bencana nasional” dan menegaskan bahwa kondisi lapangan “tidak separah di media sosial” adalah contoh klasik risk minimization narrative—narasi yang mengecilkan risiko dan pada akhirnya mengikis kepercayaan publik. Status kebencanaan boleh bersifat administratif, tetapi cara pejabat berkomunikasi adalah persoalan politis yang menentukan apakah negara hadir atau tidak di mata warganya.

Dalam setiap tragedi, legitimasi negara diuji. Ketika birokrasi lebih cepat mencari alasan pembelaan daripada menunjukkan empati, negara kehilangan ruang moralnya di tengah masyarakat. Warga yang kehilangan keluarga, rumah, dan masa depan tidak membutuhkan narasi yang meremehkan duka mereka. Mereka butuh kepastian, empati, dan tindakan nyata.

Opini ini menegaskan bahwa Indonesia membutuhkan reformasi serius dalam komunikasi kebencanaan: harus berbasis empati, transparansi risiko, dan fokus pada keselamatan warga. Investigasi lingkungan tetap penting, tetapi waktunya harus proporsional dan tidak merebut panggung pada saat publik sedang berduka.

Pejabat publik perlu mengingat: kata-kata adalah alat kebijakan. Ucapan yang tidak sensitif dapat melukai lebih dalam daripada banjir yang merenggut ribuan hidup. Jika tidak mampu menawarkan solusi, setidaknya jangan menambah luka.

Tags: #BencanaSumatera2025#KebijakanLingkungan#KomunikasiKrisis#MitigasiBencana#OpiniPublikIndonesia
SendShareTweet
Kembali

Bapemperda DPRD Medan Bahas Propemperda Tahun 2026

Lanjut

Kelangkaan BBM Meluas Pasca Banjir dan Longsor, Polres Pakpak Bharat Gerak Cepat Amankan Distribusi

Baca Juga

Memiskinkan Kejahatan vs Menjaga Keadilan: Menakar Arah RUU Perampasan Aset
Opini

Memiskinkan Kejahatan vs Menjaga Keadilan: Menakar Arah RUU Perampasan Aset

1 September 2026
156 Juta Pengguna Medsos Indonesia: Saatnya Menata Kembali Etika Bermedia Sosial
Opini

156 Juta Pengguna Medsos Indonesia: Saatnya Menata Kembali Etika Bermedia Sosial

29 Agustus 2026
Rekonstruksi Tekstual: Menakar Fakta dan Varian Ungkapan Parhatian Sibola Timbang vs So Ra Monggal
Opini

Rekonstruksi Tekstual: Menakar Fakta dan Varian Ungkapan Parhatian Sibola Timbang vs So Ra Monggal

27 Agustus 2026
Rekonsiliasi Jakarta Raya: Saatnya Menguatkan BPH dan Menjaga Marwah PPTSB
Opini

Rekonsiliasi Jakarta Raya: Saatnya Menguatkan BPH dan Menjaga Marwah PPTSB

25 Agustus 2026
Apakah Warisan Kita Hanya Kegaduhan? : Jadilah “Tua-Tua” yang Dicatat Sejarah
Opini

Apakah Warisan Kita Hanya Kegaduhan? : Jadilah “Tua-Tua” yang Dicatat Sejarah

24 Agustus 2026
Kepemimpinan dalam Marga: Jangan Biarkan Ambisi Mengalahkan Persaudaraan
Opini

Kepemimpinan dalam Marga: Jangan Biarkan Ambisi Mengalahkan Persaudaraan

22 Agustus 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

HPN 2026

POPULER

  • Rumah Warga di Depan SMA Negeri 1 Namorambe Diduga Dilempar Bom Molotov, Polisi Selidiki Pelaku

    Rumah Warga di Depan SMA Negeri 1 Namorambe Diduga Dilempar Bom Molotov, Polisi Selidiki Pelaku

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rekonsiliasi Jakarta Raya: Saatnya Menguatkan BPH dan Menjaga Marwah PPTSB

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Meriahkan HUT ke-81 RI, Karang Taruna Desa Pollung Gelar Lomba Antardusun

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Warisan Kita Hanya Kegaduhan? : Jadilah “Tua-Tua” yang Dicatat Sejarah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukti Otentik Hak Ulayat: Sejarah Enklave Marga Sinaga di Simalungun dan Perjuangan Ruang Hidup Masyarakat Adat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Konsolidasi Marga Sinaga: Sairon Deklarasi Maju Calon Ketum PPTSB 2026-2030

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kepemimpinan dalam Marga: Jangan Biarkan Ambisi Mengalahkan Persaudaraan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
GALASIBOT.CO.ID

© 2015 GALASIBOT.CO.ID

Navigate Site

  • Beranda
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

Tidak ada
Tampilkan semua
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
    • Buku

© 2015 GALASIBOT.CO.ID

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In