• Beranda
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
Kamis, Juli 16, 2026
  • Login
GALASIBOT.CO.ID
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
    • Buku
Tidak ada
Tampilkan semua
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
    • Buku
Tidak ada
Tampilkan semua
GALASIBOT.CO.ID
Tidak ada
Tampilkan semua
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
Home Opini

Belum Kering Air Mata Kami, Pernyataan Pejabat Justru Menyayat Lebih Dalam

Oleh: Joan Berlin Damanik, SSi., MM (Dosen Unita dan Pemerhati Lingkungan dan Kebijakan Publik)

Redaksi Galasibot.co.id
2 Desember 2025
/ Opini
0 0
0
Belum Kering Air Mata Kami, Pernyataan Pejabat Justru Menyayat Lebih Dalam
Share on FacebookShare on Twitter

Banjir dan longsor yang menghantam Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar) pada akhir November 2025 bukan hanya peristiwa alam yang berulang. Ia merupakan tragedi sosial-ekologis yang memperlihatkan betapa rapuhnya tata kelola lingkungan, mitigasi, dan respons krisis di Indonesia. Dengan 442 korban meninggal dan 402 orang hilang, bencana ini jelas memenuhi karakteristik large-scale disaster—bencana berskala besar yang menuntut kehadiran negara secara penuh, baik dari sisi kebijakan maupun komunikasi publik.

Angka-angka korban yang tersaji bukan sekadar statistik. Sumut kehilangan 217 warganya, 209 hilang; Sumatera Barat meratapi 129 korban; Aceh menyaksikan 96 nyawa melayang. Dilihat dari perspektif akademik dan tata kelola risiko, jumlah ini adalah potret kegagalan mitigasi struktural yang mencakup pengelolaan daerah aliran sungai (DAS), pengawasan izin, serta kesiapsiagaan pemerintah daerah. Bila negara memandang tragedi ini sebagai “bencana rutin”, maka negara sejatinya sedang menormalisasi risiko yang sebenarnya dapat dikurangi—reducing avoidable risk.

Baca Juga

Dari Ruang Redaksi Menuju Gerakan Ekonomi: Ikhtiar Koperasi Pers Indonesia Membina Kesejahteraan

Dugaan Mega Korupsi BGN: Saat Program Makan Bergizi Terjebak dalam Politik Relasi

Provinsi Tapanuli: Strategi Baru Pertumbuhan Ekonomi Sumatera

Di tengah duka luar biasa ini, dua pernyataan pejabat publik justru memperdalam luka, menunjukkan lemahnya sensitivitas komunikasi krisis di tingkat pemerintah.

Pertama, pernyataan dari Kementerian Kehutanan yang menyebut bahwa kayu gelondongan yang terseret arus banjir kemungkinan berasal dari “pohon lapuk atau tumbang alami”. Secara administratif, klaim ini mungkin defensif namun dapat dipertanggungjawabkan. Tetapi dalam kerangka disaster communication, pernyataan tersebut merupakan bentuk institutional self-defense yang terlalu dini. Pada fase darurat, komunikasi harus dimulai dari empati, bukan dari upaya membela institusi.

Kedua, pernyataan Kepala BNPB yang menyebut bahwa bencana ini “tidak termasuk kategori bencana nasional” dan menegaskan bahwa kondisi lapangan “tidak separah di media sosial” adalah contoh klasik risk minimization narrative—narasi yang mengecilkan risiko dan pada akhirnya mengikis kepercayaan publik. Status kebencanaan boleh bersifat administratif, tetapi cara pejabat berkomunikasi adalah persoalan politis yang menentukan apakah negara hadir atau tidak di mata warganya.

Dalam setiap tragedi, legitimasi negara diuji. Ketika birokrasi lebih cepat mencari alasan pembelaan daripada menunjukkan empati, negara kehilangan ruang moralnya di tengah masyarakat. Warga yang kehilangan keluarga, rumah, dan masa depan tidak membutuhkan narasi yang meremehkan duka mereka. Mereka butuh kepastian, empati, dan tindakan nyata.

Opini ini menegaskan bahwa Indonesia membutuhkan reformasi serius dalam komunikasi kebencanaan: harus berbasis empati, transparansi risiko, dan fokus pada keselamatan warga. Investigasi lingkungan tetap penting, tetapi waktunya harus proporsional dan tidak merebut panggung pada saat publik sedang berduka.

Pejabat publik perlu mengingat: kata-kata adalah alat kebijakan. Ucapan yang tidak sensitif dapat melukai lebih dalam daripada banjir yang merenggut ribuan hidup. Jika tidak mampu menawarkan solusi, setidaknya jangan menambah luka.

Tags: #BencanaSumatera2025#KebijakanLingkungan#KomunikasiKrisis#MitigasiBencana#OpiniPublikIndonesia
SendShareTweet
Kembali

Bapemperda DPRD Medan Bahas Propemperda Tahun 2026

Lanjut

Kelangkaan BBM Meluas Pasca Banjir dan Longsor, Polres Pakpak Bharat Gerak Cepat Amankan Distribusi

Baca Juga

Dari Ruang Redaksi Menuju Gerakan Ekonomi: Ikhtiar Koperasi Pers Indonesia Membina Kesejahteraan
Opini

Dari Ruang Redaksi Menuju Gerakan Ekonomi: Ikhtiar Koperasi Pers Indonesia Membina Kesejahteraan

9 Juli 2026
Dugaan Mega Korupsi BGN: Saat Program Makan Bergizi Terjebak dalam Politik Relasi
Opini

Dugaan Mega Korupsi BGN: Saat Program Makan Bergizi Terjebak dalam Politik Relasi

5 Juli 2026
Provinsi Tapanuli: Strategi Baru Pertumbuhan Ekonomi Sumatera
Opini

Provinsi Tapanuli: Strategi Baru Pertumbuhan Ekonomi Sumatera

29 Juni 2026
Provinsi Tapanuli: Dari Jejak Sejarah Menuju Pusat Pertumbuhan Baru Sumatera
JURNAL

Provinsi Tapanuli: Dari Jejak Sejarah Menuju Pusat Pertumbuhan Baru Sumatera

24 Juni 2026
Menelusuri Lorong Kepemimpinan: Mengalirkan Pengaruh Melampaui Jabatan
Opini

Menelusuri Lorong Kepemimpinan: Mengalirkan Pengaruh Melampaui Jabatan

13 Juni 2026
“Go and Sin No More” TPL: Sebuah Rekonstruksi Solusi atas Konflik Panjang di Tanah Batak
Opini

“Go and Sin No More” TPL: Sebuah Rekonstruksi Solusi atas Konflik Panjang di Tanah Batak

4 Juni 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

HPN 2026

POPULER

  • Perkumpulan Raja Parhata Sedunia Resmi Dibentuk, Jaga Marwah Adat Batak di Era Globalisasi

    Perkumpulan Raja Parhata Sedunia Resmi Dibentuk, Jaga Marwah Adat Batak di Era Globalisasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gubernur Banten Andra Soni Ajak Warga Dukung Felicia br Sihombing di The Icon Indonesia SCTV

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Felicia Babak 6 Besar The Icon Indonesia SCTV: Mohon Dukungan untuk Rebut Tiket Top 5 Senin Ini!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Usut Tuntas! Punguan Silauraja Indonesia Desak Keadilan atas Kematian Jaka Malau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mengakar di Tanah Batak: Kiprah Jenny Waskita di Prabowonomics hingga Rencana Penabalan Boru Sinaga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Provinsi Tapanuli: Dari Jejak Sejarah Menuju Pusat Pertumbuhan Baru Sumatera

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Provinsi Tapanuli Tinggal Ketok Palu? DPR RI Desak Kemendagri Rampungkan Aturan Pemekaran Daerah!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
GALASIBOT.CO.ID

© 2015 GALASIBOT.CO.ID

Navigate Site

  • Beranda
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

Tidak ada
Tampilkan semua
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
    • Buku

© 2015 GALASIBOT.CO.ID

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In