• Beranda
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
Jumat, Agustus 21, 2026
  • Login
GALASIBOT.CO.ID
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
    • Buku
Tidak ada
Tampilkan semua
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
    • Buku
Tidak ada
Tampilkan semua
GALASIBOT.CO.ID
Tidak ada
Tampilkan semua
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
Home Opini

Ternyata Sumatera Penghasil Emas Terbesar: Dari Ofir hingga Banjir Bandang Akibat Rakusnya Eksploitasi Alam

Redaksi Galasibot.co.id
13 Desember 2025
/ Opini
0 0
0
Ternyata Sumatera Penghasil Emas Terbesar: Dari Ofir hingga Banjir Bandang Akibat Rakusnya Eksploitasi Alam
Share on FacebookShare on Twitter

Sebuah unggahan sejarawan Hilmar Farid kembali membuka ingatan kolektif tentang Sumatera sebagai Pulau Emas—negeri yang sejak berabad-abad silam dikenal dunia sebagai salah satu penghasil emas terbesar. Unggahan tersebut menampilkan potongan invoice honor Harian Kompas atas nama M. Tasijawa, yang kemudian diketahui sebagai nama pena Pramoedya Ananta Toer, serta rujukan pada artikel klasik Kompas berjudul “Ofir, Sumatra-kah?” terbit pada Minggu, 22 Maret 1981.

Rasa ingin tahu publik pun mengarah pada penelusuran arsip. Melalui kompasdata.id, artikel tersebut berhasil diakses dalam bentuk PDF dan kemudian ditranskripsikan ulang dengan bantuan Herry Anggoro Djatmiko. Hilmar Farid menutup unggahannya dengan ajakan membaca ulang artikel itu, sembari mengapresiasi Fay yang melakukan penelusuran awal.

Baca Juga

Lemhannas dan Masa Depan Kepemimpinan NKRI: Membangun Pemimpin Berwawasan Kebangsaan

Menjaga Rumah Besar PPTSB: Ketika Etika Berorganisasi Teruji di Era Digital

Partuturan di Era Digital: Menemukan Kembali Cara Menempatkan Diri

Artikel “Ofir, Sumatra-kah?” menegaskan posisi Sumatera—khususnya kawasan Minangkabau—sebagai pusat emas Nusantara sejak masa kuno. Dari sebutan Swarna Dwipa dalam tradisi Sanskerta, catatan para pedagang Arab, hingga laporan penjelajah Portugis dan Eropa abad ke-16, Sumatera digambarkan sebagai negeri tempat emas ditambang dan diperdagangkan melalui pelabuhan-pelabuhan penting seperti Pariaman, Tiku, Barus, Kampar, Indragiri, dan Pedir.

Tulisan itu juga mengajukan hipotesis berani bahwa Sumatera kemungkinan besar adalah Ofir, negeri emas legendaris dalam Perjanjian Lama yang menjadi sumber kekayaan Raja Sulaiman. Keberadaan Gunung Ofir (kini Gunung Talamau) di Pasaman, kesamaan teknik penambangan emas dengan metode Mesir purba, serta kesaksian João de Barros, Tome Pires, dan Fernão Mendes Pinto, menjadi rangkaian petunjuk yang memperkuat dugaan tersebut.

Namun, empat dekade setelah artikel itu terbit, Sumatera kini menghadapi ironi sejarah. Pulau yang dahulu masyhur karena kekayaan emas dan hutannya, hari ini justru dilanda banjir berulang di berbagai wilayah—dari Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jambi, hingga Aceh. Banjir tersebut kian sering dikaitkan dengan penebangan liar, penggundulan hutan skala besar, serta aktivitas pertambangan—baik legal maupun ilegal—yang merusak daerah aliran sungai.

Aktivitas pemilik konsesi kehutanan dan pemegang izin tambang yang abai terhadap daya dukung lingkungan disebut banyak kalangan sebagai salah satu penyebab utama rusaknya bentang alam Sumatera. Hutan yang dahulu menjadi penyangga air dan tanah kini berubah menjadi kawasan terbuka, membuat sungai-sungai tak lagi mampu menahan limpahan air hujan. Emas yang dulu ditambang dengan kearifan lokal kini digali dengan alat berat, meninggalkan lubang-lubang raksasa dan kerusakan permanen.

Dalam konteks ini, artikel “Ofir, Sumatra-kah?” terasa menemukan relevansi baru. Sejarah emas Sumatera bukan sekadar kisah kejayaan masa lalu, tetapi juga cermin untuk menilai arah pembangunan hari ini. Jika dahulu emas menggerakkan perdagangan global dan imajinasi dunia, kini eksploitasi sumber daya tanpa kendali justru memicu bencana ekologis yang menimpa warga setempat.

Ditandatangani dengan nama M. Tasijawa—nama pena Pramoedya Ananta Toer—artikel tersebut menjadi pengingat kuat bahwa hubungan manusia dengan alam selalu bersifat politis dan menentukan masa depan. Sumatera, negeri emas yang pernah mengilhami legenda Ofir, kini dihadapkan pada pertanyaan mendasar: apakah kekayaan alam akan terus dikuras, atau dikelola dengan tanggung jawab agar tidak berubah menjadi sumber petaka.(*)

Tags: #Banjir Sumatera Penebangan Liar#Eksploitasi Tambang dan Kerusakan Hutan#Pramoedya Ananta Toer Kompas#Sejarah Emas Nusantara dan Krisis Lingkungan#Sumatera Pulau Emas Ofir
SendShareTweet
Kembali

Solidaritas Masyarakat Indonesia Kepri Kecam Sikap Arogansai Endipat WijaYA Terkait Bantuan Bencana Sumatera

Lanjut

DPRD Medan Dorong Peningkatan Layanan Kesehatan dan Penyaluran Bansos Tepat Sasaran

Baca Juga

Lemhannas dan Masa Depan Kepemimpinan NKRI: Membangun Pemimpin Berwawasan Kebangsaan
Opini

Lemhannas dan Masa Depan Kepemimpinan NKRI: Membangun Pemimpin Berwawasan Kebangsaan

20 Agustus 2026
Menjaga Rumah Besar PPTSB: Ketika Etika Berorganisasi Teruji di Era Digital
Opini

Menjaga Rumah Besar PPTSB: Ketika Etika Berorganisasi Teruji di Era Digital

18 Agustus 2026
Partuturan di Era Digital: Menemukan Kembali Cara Menempatkan Diri
Opini

Partuturan di Era Digital: Menemukan Kembali Cara Menempatkan Diri

17 Agustus 2026
Menjaga Integritas Hukum dan Keamanan Publik di Tengah Dinamika Nasional
Opini

Menjaga Integritas Hukum dan Keamanan Publik di Tengah Dinamika Nasional

16 Agustus 2026
Utang Membesar, Dapur MBG Bermasalah: Saat Negara Harus Memilih Prioritas
Opini

Utang Membesar, Dapur MBG Bermasalah: Saat Negara Harus Memilih Prioritas

14 Agustus 2026
Ketika Rakyat Merasa Tersisih di Tanah Airnya Membedah Paradoks Pertumbuhan Ekonomi, Anomali Keadilan Fiskal, dan Melemahnya Daya Beli di Daerah
Opini

Ketika Rakyat Merasa Tersisih di Tanah Airnya Membedah Paradoks Pertumbuhan Ekonomi, Anomali Keadilan Fiskal, dan Melemahnya Daya Beli di Daerah

13 Agustus 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

HPN 2026

POPULER

  • Rumah Warga di Depan SMA Negeri 1 Namorambe Diduga Dilempar Bom Molotov, Polisi Selidiki Pelaku

    Rumah Warga di Depan SMA Negeri 1 Namorambe Diduga Dilempar Bom Molotov, Polisi Selidiki Pelaku

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukti Otentik Hak Ulayat: Sejarah Enklave Marga Sinaga di Simalungun dan Perjuangan Ruang Hidup Masyarakat Adat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Meriahkan HUT ke-81 RI, Karang Taruna Desa Pollung Gelar Lomba Antardusun

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Caroline Nababan Raih Emas dan Top Score ASMC 2026, The PRINT Apresiasi Prestasi Anak Sumut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Rakyat Merasa Tersisih di Tanah Airnya Membedah Paradoks Pertumbuhan Ekonomi, Anomali Keadilan Fiskal, dan Melemahnya Daya Beli di Daerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gubernur Banten Andra Soni Ajak Warga Dukung Felicia br Sihombing di The Icon Indonesia SCTV

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • THE PRINT Gelar Peluncuran Buku Bilingual Prabowonomics dan Prabowonomics Summit 2026 di JICC

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
GALASIBOT.CO.ID

© 2015 GALASIBOT.CO.ID

Navigate Site

  • Beranda
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

Tidak ada
Tampilkan semua
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
    • Buku

© 2015 GALASIBOT.CO.ID

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In