• Beranda
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
Senin, Oktober 5, 2026
  • Login
GALASIBOT.CO.ID
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
    • Buku
Tidak ada
Tampilkan semua
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
    • Buku
Tidak ada
Tampilkan semua
GALASIBOT.CO.ID
Tidak ada
Tampilkan semua
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
Home Opini

Ternyata Sumatera Penghasil Emas Terbesar: Dari Ofir hingga Banjir Bandang Akibat Rakusnya Eksploitasi Alam

Redaksi Galasibot.co.id
13 Desember 2025
/ Opini
0 0
0
Ternyata Sumatera Penghasil Emas Terbesar: Dari Ofir hingga Banjir Bandang Akibat Rakusnya Eksploitasi Alam
Share on FacebookShare on Twitter

Sebuah unggahan sejarawan Hilmar Farid kembali membuka ingatan kolektif tentang Sumatera sebagai Pulau Emas—negeri yang sejak berabad-abad silam dikenal dunia sebagai salah satu penghasil emas terbesar. Unggahan tersebut menampilkan potongan invoice honor Harian Kompas atas nama M. Tasijawa, yang kemudian diketahui sebagai nama pena Pramoedya Ananta Toer, serta rujukan pada artikel klasik Kompas berjudul “Ofir, Sumatra-kah?” terbit pada Minggu, 22 Maret 1981.

Rasa ingin tahu publik pun mengarah pada penelusuran arsip. Melalui kompasdata.id, artikel tersebut berhasil diakses dalam bentuk PDF dan kemudian ditranskripsikan ulang dengan bantuan Herry Anggoro Djatmiko. Hilmar Farid menutup unggahannya dengan ajakan membaca ulang artikel itu, sembari mengapresiasi Fay yang melakukan penelusuran awal.

Baca Juga

Dari Jantung Medan untuk Indonesia: Menelisik Ketahanan Finansial dan Layanan Unggulan di Usia 70 Tahun Asuransi Astra

Galasibot dan Palti Raja : Menata Masa Depan PPTSB melalui Kepemimpinan, Program, dan Regenerasi (Refleksi Menjelang Mubes XVI PPTSB Tahun 2026)

Menagih Kedaulatan Manusia di Balik Megahnya Anggaran dan Paradoks “Kurikulum Robotik”

Artikel “Ofir, Sumatra-kah?” menegaskan posisi Sumatera—khususnya kawasan Minangkabau—sebagai pusat emas Nusantara sejak masa kuno. Dari sebutan Swarna Dwipa dalam tradisi Sanskerta, catatan para pedagang Arab, hingga laporan penjelajah Portugis dan Eropa abad ke-16, Sumatera digambarkan sebagai negeri tempat emas ditambang dan diperdagangkan melalui pelabuhan-pelabuhan penting seperti Pariaman, Tiku, Barus, Kampar, Indragiri, dan Pedir.

Tulisan itu juga mengajukan hipotesis berani bahwa Sumatera kemungkinan besar adalah Ofir, negeri emas legendaris dalam Perjanjian Lama yang menjadi sumber kekayaan Raja Sulaiman. Keberadaan Gunung Ofir (kini Gunung Talamau) di Pasaman, kesamaan teknik penambangan emas dengan metode Mesir purba, serta kesaksian João de Barros, Tome Pires, dan Fernão Mendes Pinto, menjadi rangkaian petunjuk yang memperkuat dugaan tersebut.

Namun, empat dekade setelah artikel itu terbit, Sumatera kini menghadapi ironi sejarah. Pulau yang dahulu masyhur karena kekayaan emas dan hutannya, hari ini justru dilanda banjir berulang di berbagai wilayah—dari Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jambi, hingga Aceh. Banjir tersebut kian sering dikaitkan dengan penebangan liar, penggundulan hutan skala besar, serta aktivitas pertambangan—baik legal maupun ilegal—yang merusak daerah aliran sungai.

Aktivitas pemilik konsesi kehutanan dan pemegang izin tambang yang abai terhadap daya dukung lingkungan disebut banyak kalangan sebagai salah satu penyebab utama rusaknya bentang alam Sumatera. Hutan yang dahulu menjadi penyangga air dan tanah kini berubah menjadi kawasan terbuka, membuat sungai-sungai tak lagi mampu menahan limpahan air hujan. Emas yang dulu ditambang dengan kearifan lokal kini digali dengan alat berat, meninggalkan lubang-lubang raksasa dan kerusakan permanen.

Dalam konteks ini, artikel “Ofir, Sumatra-kah?” terasa menemukan relevansi baru. Sejarah emas Sumatera bukan sekadar kisah kejayaan masa lalu, tetapi juga cermin untuk menilai arah pembangunan hari ini. Jika dahulu emas menggerakkan perdagangan global dan imajinasi dunia, kini eksploitasi sumber daya tanpa kendali justru memicu bencana ekologis yang menimpa warga setempat.

Ditandatangani dengan nama M. Tasijawa—nama pena Pramoedya Ananta Toer—artikel tersebut menjadi pengingat kuat bahwa hubungan manusia dengan alam selalu bersifat politis dan menentukan masa depan. Sumatera, negeri emas yang pernah mengilhami legenda Ofir, kini dihadapkan pada pertanyaan mendasar: apakah kekayaan alam akan terus dikuras, atau dikelola dengan tanggung jawab agar tidak berubah menjadi sumber petaka.(*)

Tags: #Banjir Sumatera Penebangan Liar#Eksploitasi Tambang dan Kerusakan Hutan#Pramoedya Ananta Toer Kompas#Sejarah Emas Nusantara dan Krisis Lingkungan#Sumatera Pulau Emas Ofir
SendShareTweet
Kembali

Solidaritas Masyarakat Indonesia Kepri Kecam Sikap Arogansai Endipat WijaYA Terkait Bantuan Bencana Sumatera

Lanjut

DPRD Medan Dorong Peningkatan Layanan Kesehatan dan Penyaluran Bansos Tepat Sasaran

Baca Juga

Dari Jantung Medan untuk Indonesia: Menelisik Ketahanan Finansial dan Layanan Unggulan di Usia 70 Tahun Asuransi Astra
Ekonomi

Dari Jantung Medan untuk Indonesia: Menelisik Ketahanan Finansial dan Layanan Unggulan di Usia 70 Tahun Asuransi Astra

24 September 2026
Galasibot dan Palti Raja : Menata Masa Depan PPTSB melalui Kepemimpinan, Program, dan Regenerasi (Refleksi Menjelang Mubes XVI PPTSB Tahun 2026)
Budaya

Galasibot dan Palti Raja : Menata Masa Depan PPTSB melalui Kepemimpinan, Program, dan Regenerasi (Refleksi Menjelang Mubes XVI PPTSB Tahun 2026)

20 September 2026
Menagih Kedaulatan Manusia di Balik Megahnya Anggaran dan Paradoks “Kurikulum Robotik”
Opini

Menagih Kedaulatan Manusia di Balik Megahnya Anggaran dan Paradoks “Kurikulum Robotik”

17 September 2026
Menyalakan Nalar, Merawat Realitas: Meneguhkan Kembali Pilar Perjuangan PMKRI di Kampus dan Masyarakat
Opini

Menyalakan Nalar, Merawat Realitas: Meneguhkan Kembali Pilar Perjuangan PMKRI di Kampus dan Masyarakat

14 September 2026
Opini

10 September 2026
Membedah Dugaan Pidana Korporasi PT Toba Pulp Lestari: Antara Kejahatan Individu dan Korporasi
Hukum

Membedah Dugaan Pidana Korporasi PT Toba Pulp Lestari: Antara Kejahatan Individu dan Korporasi

9 September 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

HPN 2026

POPULER

  • 5 Hari Tidur di Polsek Namorambe, Korban Teror Bom Molotov Tagih Ketegasan Polisi

    5 Hari Tidur di Polsek Namorambe, Korban Teror Bom Molotov Tagih Ketegasan Polisi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dugaan Pungutan Liar di MAN 2 Tanjung Pura Langkat Didorong ke Kejatisu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Koperasi Merah Putih di Taput Mandek, Tumonggi: Jangan Jadi Program di Atas Kertas!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Melihat Titik Temu Migrasi “Ompu Jorang Raja Sinaga” Dengan “Pomparan Ompu Jorang Raja Sinaga”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rumah Dirusak Sekelompok Orang, Janda di Hamparan Perak Minta Polisi Tangkap Pelaku

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DPD PATRIA Sumut Buka Kembali Ruang Dialog: Dari Kerinduan Kader Menuju Kaderisasi Politik Berbasis Pelayanan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prabowo Copot Menkeu Purbaya, Suahasil Nazara Dilantik Jadi Menteri Keuangan, Diminta Jaga Kredibilitas APBN

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
GALASIBOT.CO.ID

© 2015 GALASIBOT.CO.ID

Navigate Site

  • Beranda
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

Tidak ada
Tampilkan semua
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
    • Buku

© 2015 GALASIBOT.CO.ID

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In