Sebuah unggahan sejarawan Hilmar Farid kembali membuka ingatan kolektif tentang Sumatera sebagai Pulau Emas—negeri yang sejak berabad-abad silam dikenal dunia sebagai salah satu penghasil emas terbesar. Unggahan tersebut menampilkan potongan invoice honor Harian Kompas atas nama M. Tasijawa, yang kemudian diketahui sebagai nama pena Pramoedya Ananta Toer, serta rujukan pada artikel klasik Kompas berjudul “Ofir, Sumatra-kah?” terbit pada Minggu, 22 Maret 1981.
Rasa ingin tahu publik pun mengarah pada penelusuran arsip. Melalui kompasdata.id, artikel tersebut berhasil diakses dalam bentuk PDF dan kemudian ditranskripsikan ulang dengan bantuan Herry Anggoro Djatmiko. Hilmar Farid menutup unggahannya dengan ajakan membaca ulang artikel itu, sembari mengapresiasi Fay yang melakukan penelusuran awal.
Artikel “Ofir, Sumatra-kah?” menegaskan posisi Sumatera—khususnya kawasan Minangkabau—sebagai pusat emas Nusantara sejak masa kuno. Dari sebutan Swarna Dwipa dalam tradisi Sanskerta, catatan para pedagang Arab, hingga laporan penjelajah Portugis dan Eropa abad ke-16, Sumatera digambarkan sebagai negeri tempat emas ditambang dan diperdagangkan melalui pelabuhan-pelabuhan penting seperti Pariaman, Tiku, Barus, Kampar, Indragiri, dan Pedir.
Tulisan itu juga mengajukan hipotesis berani bahwa Sumatera kemungkinan besar adalah Ofir, negeri emas legendaris dalam Perjanjian Lama yang menjadi sumber kekayaan Raja Sulaiman. Keberadaan Gunung Ofir (kini Gunung Talamau) di Pasaman, kesamaan teknik penambangan emas dengan metode Mesir purba, serta kesaksian João de Barros, Tome Pires, dan Fernão Mendes Pinto, menjadi rangkaian petunjuk yang memperkuat dugaan tersebut.
Namun, empat dekade setelah artikel itu terbit, Sumatera kini menghadapi ironi sejarah. Pulau yang dahulu masyhur karena kekayaan emas dan hutannya, hari ini justru dilanda banjir berulang di berbagai wilayah—dari Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jambi, hingga Aceh. Banjir tersebut kian sering dikaitkan dengan penebangan liar, penggundulan hutan skala besar, serta aktivitas pertambangan—baik legal maupun ilegal—yang merusak daerah aliran sungai.
Aktivitas pemilik konsesi kehutanan dan pemegang izin tambang yang abai terhadap daya dukung lingkungan disebut banyak kalangan sebagai salah satu penyebab utama rusaknya bentang alam Sumatera. Hutan yang dahulu menjadi penyangga air dan tanah kini berubah menjadi kawasan terbuka, membuat sungai-sungai tak lagi mampu menahan limpahan air hujan. Emas yang dulu ditambang dengan kearifan lokal kini digali dengan alat berat, meninggalkan lubang-lubang raksasa dan kerusakan permanen.
Dalam konteks ini, artikel “Ofir, Sumatra-kah?” terasa menemukan relevansi baru. Sejarah emas Sumatera bukan sekadar kisah kejayaan masa lalu, tetapi juga cermin untuk menilai arah pembangunan hari ini. Jika dahulu emas menggerakkan perdagangan global dan imajinasi dunia, kini eksploitasi sumber daya tanpa kendali justru memicu bencana ekologis yang menimpa warga setempat.
Ditandatangani dengan nama M. Tasijawa—nama pena Pramoedya Ananta Toer—artikel tersebut menjadi pengingat kuat bahwa hubungan manusia dengan alam selalu bersifat politis dan menentukan masa depan. Sumatera, negeri emas yang pernah mengilhami legenda Ofir, kini dihadapkan pada pertanyaan mendasar: apakah kekayaan alam akan terus dikuras, atau dikelola dengan tanggung jawab agar tidak berubah menjadi sumber petaka.(*)











