• Beranda
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
GALASIBOT.CO.ID
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
Tidak ada
Tampilkan semua
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
Tidak ada
Tampilkan semua
GALASIBOT.CO.ID
Tidak ada
Tampilkan semua
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
Home Opini

Ternyata Sumatera Penghasil Emas Terbesar: Dari Ofir hingga Banjir Bandang Akibat Rakusnya Eksploitasi Alam

Redaksi Galasibot.co.id
13 Desember 2025
/ Opini
0 0
0
Ternyata Sumatera Penghasil Emas Terbesar: Dari Ofir hingga Banjir Bandang Akibat Rakusnya Eksploitasi Alam
Share on FacebookShare on Twitter

Sebuah unggahan sejarawan Hilmar Farid kembali membuka ingatan kolektif tentang Sumatera sebagai Pulau Emas—negeri yang sejak berabad-abad silam dikenal dunia sebagai salah satu penghasil emas terbesar. Unggahan tersebut menampilkan potongan invoice honor Harian Kompas atas nama M. Tasijawa, yang kemudian diketahui sebagai nama pena Pramoedya Ananta Toer, serta rujukan pada artikel klasik Kompas berjudul “Ofir, Sumatra-kah?” terbit pada Minggu, 22 Maret 1981.

Rasa ingin tahu publik pun mengarah pada penelusuran arsip. Melalui kompasdata.id, artikel tersebut berhasil diakses dalam bentuk PDF dan kemudian ditranskripsikan ulang dengan bantuan Herry Anggoro Djatmiko. Hilmar Farid menutup unggahannya dengan ajakan membaca ulang artikel itu, sembari mengapresiasi Fay yang melakukan penelusuran awal.

Baca Juga

IRONI DI BALIK TEROMPET HARI PENDIDIKAN: Ketika Negara Merayakan, Pendidikan Terabaikan

May Day 2026: Aktivis Mahasiswa Soroti Perlindungan Buruh, Negara Diminta Jangan Ciptakan “Buah Simalakama”

Mengembalikan Marwah Sinaga Sitolu Ompu: Menolak Egoisme di Ambang Mubes XVI PPTSB

Artikel “Ofir, Sumatra-kah?” menegaskan posisi Sumatera—khususnya kawasan Minangkabau—sebagai pusat emas Nusantara sejak masa kuno. Dari sebutan Swarna Dwipa dalam tradisi Sanskerta, catatan para pedagang Arab, hingga laporan penjelajah Portugis dan Eropa abad ke-16, Sumatera digambarkan sebagai negeri tempat emas ditambang dan diperdagangkan melalui pelabuhan-pelabuhan penting seperti Pariaman, Tiku, Barus, Kampar, Indragiri, dan Pedir.

Tulisan itu juga mengajukan hipotesis berani bahwa Sumatera kemungkinan besar adalah Ofir, negeri emas legendaris dalam Perjanjian Lama yang menjadi sumber kekayaan Raja Sulaiman. Keberadaan Gunung Ofir (kini Gunung Talamau) di Pasaman, kesamaan teknik penambangan emas dengan metode Mesir purba, serta kesaksian João de Barros, Tome Pires, dan Fernão Mendes Pinto, menjadi rangkaian petunjuk yang memperkuat dugaan tersebut.

Namun, empat dekade setelah artikel itu terbit, Sumatera kini menghadapi ironi sejarah. Pulau yang dahulu masyhur karena kekayaan emas dan hutannya, hari ini justru dilanda banjir berulang di berbagai wilayah—dari Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jambi, hingga Aceh. Banjir tersebut kian sering dikaitkan dengan penebangan liar, penggundulan hutan skala besar, serta aktivitas pertambangan—baik legal maupun ilegal—yang merusak daerah aliran sungai.

Aktivitas pemilik konsesi kehutanan dan pemegang izin tambang yang abai terhadap daya dukung lingkungan disebut banyak kalangan sebagai salah satu penyebab utama rusaknya bentang alam Sumatera. Hutan yang dahulu menjadi penyangga air dan tanah kini berubah menjadi kawasan terbuka, membuat sungai-sungai tak lagi mampu menahan limpahan air hujan. Emas yang dulu ditambang dengan kearifan lokal kini digali dengan alat berat, meninggalkan lubang-lubang raksasa dan kerusakan permanen.

Dalam konteks ini, artikel “Ofir, Sumatra-kah?” terasa menemukan relevansi baru. Sejarah emas Sumatera bukan sekadar kisah kejayaan masa lalu, tetapi juga cermin untuk menilai arah pembangunan hari ini. Jika dahulu emas menggerakkan perdagangan global dan imajinasi dunia, kini eksploitasi sumber daya tanpa kendali justru memicu bencana ekologis yang menimpa warga setempat.

Ditandatangani dengan nama M. Tasijawa—nama pena Pramoedya Ananta Toer—artikel tersebut menjadi pengingat kuat bahwa hubungan manusia dengan alam selalu bersifat politis dan menentukan masa depan. Sumatera, negeri emas yang pernah mengilhami legenda Ofir, kini dihadapkan pada pertanyaan mendasar: apakah kekayaan alam akan terus dikuras, atau dikelola dengan tanggung jawab agar tidak berubah menjadi sumber petaka.(*)

Tags: #Banjir Sumatera Penebangan Liar#Eksploitasi Tambang dan Kerusakan Hutan#Pramoedya Ananta Toer Kompas#Sejarah Emas Nusantara dan Krisis Lingkungan#Sumatera Pulau Emas Ofir
SendShareTweet
Kembali

Solidaritas Masyarakat Indonesia Kepri Kecam Sikap Arogansai Endipat WijaYA Terkait Bantuan Bencana Sumatera

Lanjut

DPRD Medan Dorong Peningkatan Layanan Kesehatan dan Penyaluran Bansos Tepat Sasaran

Baca Juga

IRONI DI BALIK TEROMPET HARI PENDIDIKAN: Ketika Negara Merayakan, Pendidikan Terabaikan
Opini

IRONI DI BALIK TEROMPET HARI PENDIDIKAN: Ketika Negara Merayakan, Pendidikan Terabaikan

3 Mei 2026
May Day 2026: Aktivis Mahasiswa Soroti Perlindungan Buruh, Negara Diminta Jangan Ciptakan “Buah Simalakama”
Opini

May Day 2026: Aktivis Mahasiswa Soroti Perlindungan Buruh, Negara Diminta Jangan Ciptakan “Buah Simalakama”

1 Mei 2026
Mengembalikan Marwah Sinaga Sitolu Ompu: Menolak Egoisme di Ambang Mubes XVI PPTSB
Budaya

Mengembalikan Marwah Sinaga Sitolu Ompu: Menolak Egoisme di Ambang Mubes XVI PPTSB

30 April 2026
Peredaran Narkoba di Simalungun Diungkap, Tokoh Pemuda Desak Polisi Tangkap Bandar Besar
Opini

Peredaran Narkoba di Simalungun Diungkap, Tokoh Pemuda Desak Polisi Tangkap Bandar Besar

25 April 2026
Low Tourism Danau Toba Jadi Pilihan Strategis Keberlanjutan Kawasan Wisata Unggulan Nasional
Opini

Low Tourism Danau Toba Jadi Pilihan Strategis Keberlanjutan Kawasan Wisata Unggulan Nasional

23 April 2026
Skandal BNI Aek Nabara: OJK Turun Tangan, “Sihir” Viralitas Paksa Bank Pelat Merah Bayar Ganti Rugi
Opini

Skandal BNI Aek Nabara: OJK Turun Tangan, “Sihir” Viralitas Paksa Bank Pelat Merah Bayar Ganti Rugi

19 April 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

POPULER

  • Sikapi Pernyataan Jusuf Kalla, DPD Patria Sumut: Martir Kristen Itu Kasih, Bukan Membunuh

    Sikapi Pernyataan Jusuf Kalla, DPD Patria Sumut: Martir Kristen Itu Kasih, Bukan Membunuh

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sinergi Budaya dan Alam: PPTSB dan Toba Caldera UNESCO Global Geopark Resmi Jalin Kerja Sama Strategis

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • SD Budi Murni 2 Medan Raih Juara II Umum Kejuaraan Karate TAKO Piala Direktur POLMED 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Harianto Sinaga Tantang Debat Terbuka Bane Raja Manalu: “BPODT Itu Perbaiki, Bukan Bubarkan!”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pengurus Barus Jakarta Barat–Tangerang Resmi Dilantik, Perkuat Solidaritas Keluarga Besar Karo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Melihat Titik Temu Migrasi “Ompu Jorang Raja Sinaga” Dengan “Pomparan Ompu Jorang Raja Sinaga”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • HARDIKNAS 2026: Seremoni dan Tantangan Substansi yang Belum Tuntas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
GALASIBOT.CO.ID

© 2015 GALASIBOT.CO.ID

Navigate Site

  • Beranda
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

Tidak ada
Tampilkan semua
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal

© 2015 GALASIBOT.CO.ID

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In